Rekomendasi: V/A – Young Offender

Mar 8, 2021

Sebagai satu dari jutaan penikmat musik sidestream, saya termasuk golongan yang senang mengulik sejarah dari skena-skena sidestream yang pernah lahir dan tumbuh di bumi pertiwi ini. Punk adalah satu dari skena yang menarik untuk dibahas. Dan bicara soal punk, tiada yang lebih menarik ketika menyebut nama Young Offender, salah satu pionir pertama komunitas punk di Ibukota.

Saat era 90-an thrash metal tengah mewabah di sebagian besar anak muda di perkotaan, Young Offender lahir sebagai alternatif. Berbekal asupan musik-musik punk yang tengah digandrungi saat itu, Young Offender muncul dengan ekspresi unik mereka yang tercermin dari band-band yang tergabung di dalamnya.

Insan-insan komunitas ini, seperti Levi (bassist The Fly) dan Vincent Rompies (pernah di Club 80s) dan adiknya Cliff Rompies (yang masih di Club 80s) adalah tiga dari nama populer yang kita kenal yang berasal dari Young Offender.

Di luar itu, band-band seperti Pestolaer dan Wondergel adalah dua nama yang masih eksis hingga sekarang, yang tumbuh dari komunitas ini.

Inilah yang mungkin hendak ditunjukkan oleh kompilasi Young Offender, memperkenalkan ulang wajah-wajah lama lewat deretan lagu beragam ekspresi musiknya. Yang menarik dari kompilasi ini juga, ada satu dua band ‘lama’ yang akhirnya terdengar kembali untuk mendukung kompilasi ini.

Mereka adalah Submission, salah satu band awal dari skena punk di tanah air. Kemudian ada Parklife, band dari Vincent Rompies di era 90-an. Ada The Motives, ini band awal sebelum akhirnya ada The Brandals. Fable dan Toilet Sounds, dua band alternative rock yang besar di era 90-an.

Yang menarik kemudian dari kompilasi ini adalah mereka berusaha membuat jembatan dengan menaruh beberapa nama yang punya benang merah dengan apa yang dibuat Young Offender. Nama-nama seperti Eka Brandals (Di Zigi Zaga), Jimi Multhazam (Jimi Jazz) dan line up lainnya yang secara langsung terpapar dengan kehadiran YO.

Sebagai sebuah kompilasi, saya menyambut dan mengapresiasi dengan baik. Mungkin kekurangan dari kompilasi ini adalah kemasan fisik yang tak terdesain dengan baik. Sebagai sebuah kompilasi yang menawarkan cerita sejarah kurang bisa memberikan informasi tentang siapa dan apa itu Young Offender, padahal ini penting bagi awam yang mungkin mengakses kompilasi ini lewat format fisik. Ide booklet sebetulnya adalah pilihan menarik ketimbang foto-foto yang dilayout kurang maksimal.

Meski demikian, upaya maksimal tetap ada dalam kompilasi ini ketika mereka menaruh semua informasi yang bisa diakses di dunia digital, dari arsip video di Youtube, arsip tulisan format PDF di Disorder Zine atau kumpulan foto-foto lama jika kalian bergabung di grup Facebooknya.

Overall, sebagai sebuah proyek kompilasi yang ingin menawarkan cerita tentang sejarah sebuah skena yang kini pudar, Young Offender ini adalah pilihan menarik. Tips dari saya, kalian harus mengulik dari beberapa arsip yang ada di linktree mereka untuk bisa menikmati kompilasi dan cerita sejarah ini dengan utuh.

Penulis
Wahyu Acum Nugroho
Wahyu “Acum” Nugroho Musisi; penulis buku #Gilavinyl. Menempuh studi bidang Ornitologi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, menjadi kontributor beberapa media seperti Maximum RocknRoll, Matabaca, dan sempat menjabat redaktur pelaksana di Trax Magazine. Waktu luang dihabiskannya bersama bangkutaman, band yang 'mengutuknya' sampai membuat dua album.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

Nostalgia Semu: Alasan Tembang Lawas Bisa Dinikmati Generasi Kami

Mengapa saya kelahiran 1999 yang nggak pernah merasakan euphoria trio Warkop DKI tayang bisa menikmati musik era-sebelum-saya-lahir itu

Tamasya Kota: Ujung Penantian Kolaborasi Jon Kastella dan Pusakata!

Hari Jumat (30/07) lalu, Jon Kastella dan Pusakata resmi mempersembahkan “Tamasya Kota”, sebuah tembang kolaborasi yang sudah digarap sejak dua tahun lalu.