1076

1998 Dalam Rekaman Pop Bawah Tanah Indonesia

Lantas mereka seolah meramal kejatuhan rezim pada bagian lirik: “Yang berjaya akan kalah yang tersudut kan menang. Semua menjadi sama rata!”

“Makanya dinamain “Jarum Pentul”. Kan tajam gitu. Jadi biar kecil tapi nusuk,” ucap Nyoman soal lagu tersebut.

Keresahan atas kondisi sosial politik Indonesia di masa-masa itu tentu tak hanya dirasakan di Jakarta atau di negeri orang hingga tak bisa pulang. Di Bandung, Pure Saturday pun merekam keresahan yang sama.

Lagu dengan tema sosial politik sebetulnya sudah dikenal sejak kuintet Suar, Ade, Arief, Adhi, dan Udhi memulai debutnya pada 1995. Sebut saja “Enough” yang bercerita tentang perang atau “Coklat” yang menganalogikan aparat dalam warna hingga bahasa beatnik. Kentara pada lirik “Coklat berlari bagai babi”.

Tapi pada sophomore mereka “Utopia” yang dirilis setahun setelah Soeharto lengser, nampaknya tema ini cukup punya tempat. Tema sosial politik dan transisi diri menyambut zaman baru cukup pekat.

Baca juga:  Panduan Lagu Esensial Untuk Menonton Noah Di Synchronize 2019
Pure Saturday era 90an / dok. istimewa

Jika mengacu pada tulisan Idhar Resmadi di “Pure Saturday; Based on a True Story” (UNKLBooks, 2013), para personel Pure Saturday terutama Suar dan Adhi memang cukup larut dalam gerakan reformasi saat itu. Mereka sebetulnya bukan aktivis kampus, tapi di masa itu, mahasiswa yang turun ke jalan tak pandang bulu.

“Rasanya, pada masa itu, mau aktivis atau bukan mahasiswa memang kerap turun ke jalan untuk ikut demonstrasi,” kata Suar.

Adhi menambahkan kalau saat itu memang masa-masa suram. Dia yang saat itu masih berkuliah di ITB menyebut kerap menginap di tenda massa bersama kawan kampunya Arian (Seringai) dan Herry Sutresna (Morgue Vanguard). “Ini kan memang masa-masa suram, zaman Soeharto.”

Lewat situasi ini maka muncullah “Kaca” yang liriknya tegas menggambarkan bagaimana carut marut saat itu. Selain “Kaca” lagu-lagu lain juga saya asumsikan punya semangat sama. Meski kebanyakan diambil dari perspektif diri pada kondisi yang terjadi.

Baca juga:  Seluk Beluk Pelecehan Kaum Hawa Di Konser Musik

“Gala” misalnya dibuka dengan lamunan indah “Cerah nian mimpi di sana” tapi kandas karena “telah hilang semakin jauh palingkan muka”. Lalu “Labirin”. Berdurasi 8 menit dengan intro depresif sepanjang satu menit 50 detik. Bait terbaiknya ada sejak awal: “Buta sudah rasa di mana? Telah lelah kita percaya. Pergi semua sakit jauh dari sini”.

Diakhiri dengan lirik introspektif yang dinyanyikan berulang: “Adakah ini akan berakhir ataukah ini adalah akhirnya”.

Indiepop dan Politik

Menjadi politis dalam indiepop sebenarnya lazim. Bukankah menjadi independen dalam konteks 1986 (era birth of indie) adalah politik itu sendiri?

Tembang The Orchids “Defy the Law” misalnya merekam kepincangan kebijakan poll-tax Margaret Thatcher yang mengundang protes sepanjang 1989 hingga pecah aksi di Maret 1990. “Clearer” dari Blueboy ditulis melankolis sebagai kritik atas kebijakan kontroversial amandemen pasal 28 dalam Local Government Act 1988 di Inggris yang dinilai diskriminatif.

Baca juga:  Kepedulian Musisi Muda Indonesia Terhadap Kesehatan Mental

Yang mendedikasikan liriknya dan didapuk sebagai band politis juga ada. Sebutlah McCarthy yang kemudian berevolusi jadi Stereolab, The Housemartins, atau yang mahsyur seperti Manic Street Preacher. Oh iya, jangan lupa juga Pulp. Sulit disangkal kalau “Common People” adalah bentrok kelas dan “Cocaine Socialism” adalah sindiran bagi sosialis sampanye.

Di konteks lokal mungkin tak sebanyak itu. Paling yang cukup konsisten Efek Rumah Kaca. Lain yang cukup lekat di ingatan saya adalah “Unperfect Sky” dari Elemental Gaze bersama Sigit dari Tigapagi. Tapi tak bisa juga saya sebut hanya mereka, karena makna di balik lagu tak semua saya tahu.