20 Tahun Bintang Lima dan Pertaruhan Dewa

9215

Bakal calon formasi ini sempat merekam “Roman Picisan” yang digadang-gadang akan masuk di album baru. Bimo sempat mengisi part drum. Tapi brengseknya Dhani, dia enteng membuang hasil jerih payah Bimo dengan alasan “drumnya nggak enak”. Diperlakukan demikian, Bimo masih berbaik hati merekomendasikan Setyo Nugroho untuk menempati kekosongan posisi drummer. Meski sama-sama punya karakter sound rock purba, Tyo punya eleganitas yang sesuai dengan kemauan Dhani dibandingkan Bimo yang cenderung lebih “kotor”. Huruf “W” yang hilang selepas (Wong) Aksan, dihadirkan kembali dalam nama Wizztyo Nugros sebagai nama panggung yang diberikan Dhani untuk Tyo.

Dewa dalam formasi Bintang Lima. Ki-ka: Tyo, Dhani, Once, Andra / Dok. Istimewa

Segala gerak-gerik Dewa ini selalu membetot perhatian publik lewat pemberitaan. Ibaratnya, apapun yang nantinya terjadi, album baru Dewa tetap akan jadi pembicaraan. Tapi segala keriuhan tentu tidak ada artinya jika penjualan tidak membahagiakan. Apakah formasi baru ini bisa menyamai kesuksesan Pandawa Lima, jelas perlu pembuktian. Apalagi album baru ini punya nama yang begitu ambisius: Bintang Lima. Mirip ketika mereka memberi nama Terbaik Terbak untuk album ketiga, yang akhirnya punya cerita kesuksesannya tersendiri. Akankah Bintang Lima mengangkat Dewa atau justru segala bentuk pertaruhan dalam penggantian personel tadi justru berujung kegagalan?

20 Tahun Bintang Lima Dewa
Sampul album Dewa, Bintang Lima

Ketika “Roman Picisan” mulai melesat, keraguan tadi hilang. Dewa mencoba tampil dengan jubah baru tanpa membawa tanggungan masa lalu, meski tetap menempatkan Ari Lasso di vokal bagian reffrain. Entah sebagai bentuk penghormatan atau sebuah ketakutan yang tersisa, hanya Dhani yang tahu pasti. Si anak hilang Erwin kembali membetot bass, walau posisinya “diturunkan” sebagai additional player.

“Roman Picisan” sudah membawa kemegah lewat pemberdayaan string section sejak track pembuka “Mukadimah” sebagai intro. Liriknya puitis meski Dhani salah kaprah mengartikan busur panah  Selain solo gitar Andra yang selalu memukau, bahkan di album dengan materi absurd seperti Republik Cinta, bagian terbaik dari “Roman Picisan” adalah di part koor, yang sudah mulai dibocorkan oleh “Persembahan Dari Surga”. Once adalah jawaban untuk pencarian Dhani: vokal rendah yang mumpuni dengan kekuatan teriakan karakter rock. Beban bayang-bayang nama Ari Lasso berhasil dilepaskan secara elegan. Jika “Bohemian Rhapsody” dijadikan mata kuliah wajib setara 6 SKS, maka Dewa/Dhani sudah dinyatakan lulus lewat “Roman Picisan” sebagai paperwork.  

Akankah Bintang Lima mengangkat Dewa atau justru segala bentuk pertaruhan dalam penggantian personel tadi justru berujung kegagalan?

Di beberapa lagu seperti “Dua Sedjoli”, “Cinta Adalah Misteri”, dan yang tercetak jelas, “Sayap-Sayap Patah”, Dhani menunjukkan antusiasme besar terhadap puisi-puisi Kahlil Gibran. Sedangkan pengaruh deras dari Queen terutama sekali terlihat dalam racikan sound gitar Andra di “Cemburu” dan “Risalah Hati”. Judul yang disebut terakhir saya kira adalah yang terbaik di album ini.

Baca juga:  Ihwal Kesehatan Mental di Blantika Musik Nusantara

“Risalah Hati” datang dengan kemuraman seperti halnya “Kirana” di album sebelumnya. Gerak-geriknya sama sama monoton. Ada “pengganggu” yang membuat dinamika lagu jadi berbeda. Vokal Once menjadikan kemuraman tadi tampak sebagai sesuatu yang….artsy lewat tarikan vokal di …sebelum kau robek hatiku. Juga modulasi di bagian-bagian akhir lagu.

Jika “Kirana” dibiarkan untuk terus jauh melangkah, “Risalah Hati” ditutup dengan vokal latar Shanty (barisan vokal latar Dewa memang layak untuk membuat kelompok vokal sendiri) juga flute dari Kenny Jo. Nama terakhir ini sulit terlacak rekam jejaknya apakah memang sosok nyata atau akal-akalan memplesetkan nama saxophonist Kenny G.

Klipnya dieksekusi baik oleh Rudi Soedjarwo dengan tone warna biru dengan Indra Birowo sebagai talent. Scene personel Dewa manggung di atap gedung yang selalu punya nilai sinematiknya sendiri. Mengingatkan mulai dari klip “Don’t Let Me Down” milik The Beatles atau “If You’re Gone” dari Matchbox Twenty.

Sejujurnya secara materi, album ini kurang menarik untuk lebih banyak diulas jika dibandingkan Pandawa Lima atau Terbaik Terbaik. Justru aspek komersial yang membawa album ini bergerak lebih jauh.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments