25 Tahun Album “KLakustik” KLa Project: Lebih dari Sekadar Klasik

3453

 

Semangat “gelombang kedua” ini terlihat dalam keberanian mengusung set akustik buat band yang besar dengan pengaruh new wave Duran Duran dan prog-rock Genesis. KLa Project tidak sekadar memindahkam bebunyian “mesin” ke set organik, namun memberikan sentuhan berbeda. Menjadikan beberapa lagu menjelma sebagai sosok pribadi nan mempesona….

Sebut saja “Tak Bisa Ke Lain Hati”. Bagian interlude di versi album yang menampilkan Lilo dan Adi saling bersahutan lewat solo gitar dan keyboard/synth berganti menjadi koor accapela para vokal latar andalan KLa Project, termasuk Andre Manika kakak kandung Katon yang berperan penting dalam rekam jejak penulisan lirik-lirik sastrawi Katon di KLa Project maupun proyek solonya. Kehadiran koor ini bener-benar memberikan kejutan yang mengaduk emosi. Ketika koor ini masuk, aransemen yang sebelumnya riuh berubah menjadi setenang telaga. Lalu pertunjukan suara mulut ini yang bergerak di lintasan berbeda dengan bangunan lagu aslinya dan tiba-tiba memberikan riak sebelum kembali dihantam gelombang tinggi dengan diiringi riuh tepukan ritmis penonton. A truly timeless masterpiece. 

 

Lagu-lagu di katalog awal KLa Project yang kental dengan pengaruh new wave seperti “Tentang Kita” juga dipulas dengan kelir berbeda di KLakustik. Kehadiran string section yang dipimpin Billy J. Budiarjo ditingkahi vokal latar  Lilo yang khas mengubah warna futuristik menjadi lebih “membumi” juga elegan dengan sentuhan piano Adi. Ini juga yang membuat “Pasir Putih” versi KLakustik  lebih mampu untuk menangkap suasana alam tropika ketimbang versi aslinya.

Tidak sekadar menampilkan lagu-lagu di album sebelumnya dalam format akustik, KLa Project juga secara khusus menulis lagu buat album yang dirilis Pro Sound ini. Masing-masing adalah “Gerimis” yang ada di KLakustik #1 dan “Salamku Sahabat” yang ada di KLakustik #2. Dibuat sebagai “tuntutan” karena KLakustik harus punya single baru, “Gerimis” akhirnya muncul sebagai salah satu lagu esensial KLa Project, tidak semata hanya untuk kejar setoran.

Gedung Kesenian Jakarta / Foto: http://www.kuratorial.dkj.or.id/spesifikasi-ruang/gedung-kesenian-jakarta/

Saat sedang menjalani karantina latihan untuk hajatan tersebut, Katon, Lilo, dan Adi mlipir ke Ancol, Jakarta Utara khusus untuk mengarang “Gerimis” pada Sabtu 17 Februari 1996. Materi tersebut segera dibawa untuk latihan dan selanjutnya dibawakan sekaligus direkam saat gelaran KLakustik. Lilo mengaku di versi album ada sedikit pembenahan kecil di bagian gitar karena versi live dinilainya terlalu ekspresif.

Baca juga:  Buruk Muka, Warganet Dibelah: Tanggapan Untuk Anto Arief Soal PP 56/2021

Langgam akustik membuat “Gerimis” mampu menyeruak dengan wajah berbeda di deretan hits single milik KLa. Bangunan metafora dari lirik yang ditulis Katon juga detail-detail piano Adi dari awal terus berbicara dengan kiasan-kiasan yang yang terus mengiris perasaan orang-orang yang relasinya sedang di tahap gawat darurat. Lalu di bagian reffrain ia seperti sosok bijak yang memberi wejangan ”Kekasih, andai saja kau mengerti harusnya kita mampu lewati itu semua dan bukan menyerah untuk berpisah..” Video klipnya juga menarik untuk disimak, terutama jika ingin melihat penampilan awal Dian Sastrowardoyo sebelum hype Ada Apa Dengan Cinta?.

 

KLa Project kemudian menggeber set pertunjukan ini selama November hingga Desember 1996 di enam kota yakni Bandung, Medan, Manado, Banjarmasin, Surabaya, dan Denpasar. Beberapa musisi pendukung berganti, seperti Bintang Indriyanto yang menggantikan posisi Danny Supit dan Harry Goro menempati kursi Budhy Haryono. Nama yang disebut terakhir ini adalah drummer band Yogyakarta Geronimo Band, yang kemudian hari tercatat dalam formasi Nu KLa yang seumur jagung dan belakangan membantu dalam penampilan live KLa Project.

Iklan Tur KLakustik / Foto: Budi Warsito

Di usianya yang sudah seperempat abad pada tahun 2021 ini, KLakustik masih menjadi salah satu peninggalan penting Katon, Lilo, dan Adi. Paduan antara kemampuan musikalitas di atas rata-rata baik personel serta musisi pendukung (gitaris Grass Rock, Edi Kemput termasuk salah satu yang terlibat), teknis produksi yang memukau, serta repertoar pertunjukan terbungkus rapi menjadikan double album ini lebih dari sekadar klasik!

 

____

 

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments