5 Band Indonesia Favorit Eka Annash ‘The Brandals’

Feb 6, 2022

Setelah The Brandals mengantongi album baru, Eka Annash mengabarkan bakal melanjutkan penggarapan materi untuk proyek bermusik solonya. Proyek ini mengusung konsep Motown dengan melibatkan rekan di The Brandals dan Zigi Zaga serta personel dari Sentimental Moods. 

Tak hanya bermusik, Eka juga mendirikan sebuah media bernama Diskas! (Diskusi bareng Eka Annash) sejak tahun 2020. Media ini sudah memasuki episode ke-67 yang menghadirkan trio Nonaria (28/01). Ia mengaku senang bisa melakukan wawancara dengan banyak tokoh.

 

Selain itu, Eka bersemangat karena mendapat injeksi, energi, dan semangat dari tim produksi Diskas! yang usianya jauh lebih muda darinya. 

“Gue yang jadi pendorongnya karena bisa berbagi inspirasi orang-orang di-interview. Proses kreatifnya gitu karena jujur kalau dari monetized-nya ya gue paling dikit dari yang lain. Terus juga enggak banyak. Malah gue bilang masih minus kalau ngomongin ongkos produksi. Tapi, senang saja ngerjainnya. Ketemu dengar cerita orang dan berbagi ke audiensnya. Baca komen-komennya tuh kayak, ‘wah keren nih orang’. Itu sih ngelebihin duit kalau menurut gue,” ungkapnya.

Di perjalanannya, Eka berharap suatu hari bisa mewawancarai sang idola Fariz RM untuk Diskas!. 

“Susah banget. WhatsApp gue enggak dibalas-balas lagi. Om Fariz, kalau ada WA dari saya tolong pertimbangkan. Sebenarnya, dulu pernah tahun 2013 di Rolling Stones, ada artikel CrossOver. Gue minta di situ cuma kan konteksnya dicetak terbatas. Kalau Diskas kan mau gue jabanin sampai tiga jam. Dan orangnya demen ngobrol memang. Orangnya doyan cerita. Pernah ketemu beberapa kali,” tutup Eka.

Sambil menanti keinginan Eka Annash bisa terwujud, mari simak dulu tentang lima band Indonesia favoritnya berikut ini.


Slank

 

Kalau generasi gue, Slank karena kalau untuk anak-anak yang besar, generasi X yang besar di dekade 90-an, itu band pertama yang bisa merepresentasikan spiritnya kita. Yang bisa kita owned sebagai perwakilan dari generasi kita. Grup rock dari sebelumnya Godbless dan SAS gitu atau era-era sebelumnya. Tapi Slank tuh lahir, muncul di tahun 90an dengan album Suit… Suit… He… He… (Gadis Sexy) tuh bisa jadi band yang menyuarakan kehidupan kita. Cerita tentang apa yang kita lalui dan spiritnya juga spirit anak muda saat itu. Jadi itu yang menjadi pilihan gue pertama.

 

NAIF

 

Kalau ini satu generasi dan satu angkatan. Dan gue cukup beruntung berada di ground zero-nya NAIF dalam artian kita sama-sama lahir di panggung-panggung yang sama. Gue meelihat beberapa panggung awalnya NAIF di IKJ, di Poster Café, dan setelah itu membesarnya mereka. Gue jadi saksi hidupnya dan ngeliat gimana secara organically mereka tumbuh besar as a creative force. Kekuatan kreatif dan juga entitas bisnis. Sayangnya sekarang bubar tapi mudah-mudahan ini cuma sementara dan gue yakin mereka bakal reuni lagi karena itu kawin sih. NAIF tuh sudah kawin menurut gue, dan gue yakin akan balik lagi. Ya, Vid, Jarwo, Mil, dan Pepeng. Ya itu tadi karena gue ini band pertama yang bisa gue bilang Beatlesnya Indonesia. Mungkin Koes Plus ya, Koes Plus juga. Tapi di generasi sekarang. Reinkarnasinya di NAIF.

 

The Brandals

 

Band sendiri boleh enggak sih? Ya, The Brandals. Mungkin dari interview yang (The Brandals) sudah lakukan sama Pophariini, itu adalah band yang gue sudah invest selama 20 tahun ini. Walaupun banyak personel-personel atau gue bisa menyebutnya anggota keluarganya tanda kutip mungkin sudah enggak di situ lagi, tapi ini yang membesarkan gue secara pribadi dan juga mendefinisikan gue sebagai musisi dan as a character, as personal juga. Di band ini gue tumbuh, di band ini gue progress as a individual, as a musician. Di band ini gue mengerti lebih detil lagi bagaimana industri musik lokal bekerja. Walaupun gue berada di luar arenanya gitu. Jadi, bisa dibilang musiknya atau The Brandals as a band itu mendewasakan gue.

 

SWAMI

 

Bandnya Iwan Fals, Sawung Jabo dan kawan-kawan. Karena mereka rilis cuma dua album kalau enggak salah ya, tapi ya album debutannya sih menurut gue punya nilai sendiri, memori sendiri buat gue karena di situ Iwan Fals berkoalisi sama orang-orang yang tepat. Sama Sawung Jabo, Naniel, Nanoe, dan Innisisri. Di situ mereka merilis lagu-lagu yang sampai sekarang abadi dan masih relevan. Mulai dari “Bento”, “Bongkar”, “Bunga Trotoar” dan gue kebetulan juga bisa hadir di konsernya di GBK, Istora Senayan disebutnya dulu. Walaupun itu bukan SWAMI sih, itu notabenenya Kantata Takwa. Cuma personelnya dari situ semua. Gue cukup beruntung bisa hadir di sana. Ada ribuan penonton yang menyanyikan lagunya dan gimana bisa jadi saksi gimana lagu-lagu di album itu menyatukan ribuan orang di satu hari itu. Dan pengaruhnya tetap terus mengucur ke generasi sekarang. Hidup terus lagunya.

 

Semua band yang dibentuk Fariz RM

 

Transs sama Gank Pegangsaan karena menurut gue Om Fariz tuh musisi bunglon. Dia punya banyak kompetensi. Dia punya banyak karakteristik yang di mana kalau dia nemplok ke satu entity atau satu komunitas, dia bisa adaptasi dengan cepat tapi enggak cuma adaptasi saja, tapi juga bisa kontribusi karakternya dia. Jadi menurut gue semua band yang dia bikin tuh jadi favorit gue. Basic-nya gue memang fansnya Fariz RM saja sih. Dia kayak David Bowie-nya Indonesia. Tiap rilis, tiap project musik selalu berubah-ubah. Dia enggak mau stuck dikotakin di satu genre. Tapi breaking bounderies. Selalu push dinding eksperimen ke koridor yang kita enggak duga. 


 

Penulis
Pohan
Suka kamu, ngopi, motret, ngetik, dan hari semakin tua bagi jiwa yang sepi.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

RRREC Fest Siap Kembali di Akhir Pekan Ini

Tidak berhenti hanya di penampilan musik saja, karena RRREC Fest juga menyuguhkan ragam kegiatan lain seperti talkshow hingga penayangan film dan teater.

Discord: Menembus Batas Bersama Komunitas (Musik)

Discord menjelma menjadi alat bantu yang menjembatani komunitas yang memiliki minat, bakat, dan passion yang sama melewati batas-batas geografis yang menghalangi