1950

5 Intro Lagu Rock Indonesia Paling Berbahaya

Berikut 5 intro lagu rock indonesia paling berbahaya / foto: istimewa

Dalam sebuah lagu, intro menjadi bagian yang terpisahkan. Bersama konco-konco-nya seperti verse, bridge, refrain, interlude dan sebagainya, intro masuk dalam keluarga besar struktur lagu.

Bacaan singkat di wikipedia menyebutkan bahwa unsur-unsur ini (intro dan rekan-rekannya tadi) dianggap penting untuk menghasilkan sebuah komposisi lagu yang bermakna. Intro adalah sebuah ajakan atau pengantar; diibaratkan rumah, intro adalah gerbang yang indah yang bisa menarik perhatian orang untuk masuk ke dalamnya.

Sejarah mencatat ada banyak lagu yang mudah dikenal karena intronya yang kuat. Dari mulai lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, “Kembali ke Jakarta” (- Koes Plus) sampai “Sebelah Mata” dari Efek Rumah Kaca, triliunan intro lagu telah menggelitik pendengaran kita dari kecil sampai dewasa.

Termasuk di dalamnya musik rock. Intro dalam musik rock sangat penting. Ia ibarat gemuruh yang memanggil awan hitam untuk meneteskan hujan. Intro-intro lagu rock juga ibarat genderang atau terompet yang membakar semangat prajurit untuk berperang, semangat yang sama kepada jutaan umat penggila musik untuk menyembah kepada lagu yang dibawakan idolanya.

Baca juga:  5 Footage Konser Band Indonesia Terkeren

Mungkin kalian punya daftar 5 intro lagu rock berbahaya versi sendiri, termasuk kami. Bisa jadi daftar kita berdua cocok, atau setidaknya punya irisan, namanya juga daftar iseng. Yuk mari kita cocokkan!

1. Roxx – Rock Bergema

“Rock Bergema” buat saya levelnya sudah seperti “Indonesia Raya”. Saya langsung mengenali lagu ini sesaat ketika drum khas Alm. Arry mulai masuk, terlebih ketika begitu trio gitar dan bas Jaya, Iwan dan Tony meliuk bersama. Tak ada yang bisa menafikan bahwa ini adalah intro yang indah juga sakral, terlebih buat pemuda gondrong yang menyukai musik rock di era 90-an.

2. C’Mon Lennon – Aku Cinta J.A.K.A.R.T.A

Maaf sebelumnya bagi yang bukan Jakmania, tapi jika saya pecinta klab bola asal Jakarta ini, saya pasti akan terbakar ketika puluhan ribu fans di stadion menyuarakan pekik “Aku Cinta J.A.K.A.R.T.A” sebagai bentuk kecintaan mereka akan tim idolanya. Bermodal repetisi dengan iringan tepuk tangan, intronya sangat dekat dengan saya. Bahkan bagi awam yang tak mengerti bahwa C’Mon Lennon, lagu ini semacam tawaran botol air mineral gratis.

3. Pas Band – Impresi

Baca juga:  Album Mengubah Hidup : Rayi Putra (RAN)

Di era 90-an, moshing dan diving adalah dua dari respon spontan yang paling masuk akal yang bisa dilakukan tatkala melihat sebuah band rock beraksi di atas panggung. Dan “Impresi” adalah satu dari sekian banyak intro yang mengundang jawaban spontan tadi. Ajakan untuk moshing begitu kuat. Buat anak remaja penggila rock alternatif yang tumbuh di era keemasan band ini, seperti ada perasaan bersalah jika tak membiarkan lagu ini tak terespons dengan baik, bahkan sampai hari ini.

4. Netral – Pucat Pedih Serang

Salah satu alasan Morfem untuk membawakan ulang “Pucat Pedih Serang” adalah bahwa lagu ini benar-benar punya daya hululedak yang besar. Intro gitar Alm. Miten menghujam tajam, merobek sekat-sekat malu dan keengganan untuk sekadar menggoyang-goyangkan kepala sambil ber-air drum sampai ber-moshing ria kepada band yang membawakan lagu ini. Terlalu abstrak membayangkan lagu ini hanya didengar mengiringi seseorang membaca buku meskipun untuk soundtrack beres-beres kamar kost, suasana dijamin jadi lebih bersemangat, atau malah cenderung berubah jadi destruktif.

Baca juga:  Album yang Mengubah Hidup: Rekti Yoewono ‘The SIGIT’ 

5. Seringai – Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan)

Bukan klise, saya bisa bilang jika lagu ini tercipta sebelum peristiwa Mei 98, maka sangat mungkin lagu ini jadi anthem atau yel yel mahasiswa yang menyerukan semangat perubahan. Tak ada yang bisa menghindar dari pekik “Individu Merdeka!” yang disuarakan Arian dkk di lagu ini. Lagu ini beserta intronya akan selalu menjadi relevan, baik ketika lagu ini ditulis atau sesudahnya.