5 Pertanyaan The Dare: Tentang Tur dan Kritik Pedas

Dec 17, 2022

Tidak dipungkiri lagi, The Dare adalah band perempuan yang namanya tengah jadi buah bibir selama tahun 2022 ini. Band twee pop asal Lombok ini mulai menarik perhatian ketika mereka menggarap tur panjang mereka selama hampir sebulan di kurang lebih belasan titik di beberapa kota di pulau Jawa dalam tajuk Javakensi Tour. Ini tur kedua mereka setelah tur pendek yang mereka buat sebelum pandemi.

Dampak dari tur ini menggembirakan: Mereka kerap diundang main ke ibukota dan beberapa kota lain, baik dalam gig kecil sampai ke beberapa festival bergengsi skala nasional. Kemampuan mereka dalam mempromosikan band sebagai brand berserta  karya-karya mereka patut diacungi jempol. Aktifnya mereka baik di tiap panggung maupun di media sosial membuat presence mereka kuat dan solid. Terkhusus kampanye yang mereka buat Dare To Fight Sexual Harassment In Concert yang kerap disuarakan di tiap panggung membuat mereka bukan sekadar band yang hanya menghabiskan waktu luang untuk bermain dan menjadi bagian dari skena musik pinggiran belaka, namun mereka bisa berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar di tahun depan. 

Pun, dalam perjalanannya, makin tinggi pamor sebuah band, makin besar pulang angin kritik yang menggoyang. Barisan kritik sampai hujatan pelecehan verbal kerap mereka alami, namun hal ini bisa ditanggulangi dengan baik.

Di edisi 5 pertanyaan spesial KaleidosPOP 2022, Pophariini mencoba mengulas The Dare lebih dalam tentang bagaimana band ini berproses, menjaga soliditas termasuk tanggapan terhadap kritik yang kerap menerpa mereka. Simak wawancaranya.

Sebagai band yang lahir di skena Lombok dan dalam skena band perempuan, apa upaya kalian untuk memberikan pengaruh kepada skena musik di Lombok dan skena band perempuan secara besar? Apakah kalian sudah memberikan inspirasi bagi tumbuhnya band-band perempuan hari ini? 

Meiga: Aku nggak pantas sih menyatakan bahwa band-band perempuan baru yang bermunculan itu penyebabnya karena adanya The Dare, akan terkesan self proclaimed kalau kita mengiyakan hal itu, karena kita sendiri tuh main band ya sekedar karena mau ngelakuin hal-hal yang kita suka aja, saya rasa band-band perempuan lain yang bermunculan itu juga memiliki alasan yang sama, yaitu karena mereka ingin melakukan hal-hal yang mereka sukai dan kayanya nggak ada kaitannya sama The Dare. Di Lombok yang kami ketahui sejauh ini ada dua grup musik perempuan yang sedang aktif di Lombok, ada Isvara dan Ladies First, personil utama mereka semuanya beranggotakan perempuan, keren sih mereka.

Riri: Sebagaimana tujuan band ini di bentuk, band ini memang diproyeksikan sebagai medium untuk menjebatani Lombok dengan kota-kota central dengan membangun pola musik yang mudah diterima oleh khalayak. Menemukan sparks-nya melalui hal-hal sederhana yang kita lakukan ini adalah sebuah anugrah, karena dengan medium ini (The Dare) kita dapat menyalurkan banyak hal-hal menarik di Lombok yang bagi kami seharusnya khalayak lebih luas dapat menaruh perhatian kepada potensi-potensi yang tersembunyi di Lombok ini. The Dare ini kecil, Lombok jauh lebih besar dan akan terus bertambah besar. Selama The Dare masih ada, kita akan terus mencoba untuk menggaungkan hal-hal yang mungkin teman-teman di luar Lombok perlu ketahui.

Desita: Mungkin kalau upaya sih, kita ngelakuin beberapa upaya kecil di Lombok, mungkin nggak seberapa besar dampaknya, namun kami bersama manager kami (Timmy) dan beberapa teman-teman kami di Lombok sedang berupaya untuk membuat beberapa gigs-gigs kecil. Namanya mas Bram, dia dibantu oleh Timmy dan beberapa kawan di Lombok untuk membuat kolektif musik kecil-kecilan Bernama “Mataram City Sound”, mereka berupaya untuk mempertemukan band-band local Lombok dengan band teman-teman di luar Lombok yang mungkin sedang melangsungkan turnya. Biasanya teman-teman Mataram City Sound itu menculik band yang rangkaian turnya singgah sampai Jawa Timur atau Bali untuk lanjut ke Lombok. Kalau dari kami sih, kami mencoba menyisihkan beberapa hasil merch kita untuk disalurkan ke Mataram City Sound untuk nambah-nambah biaya penyelenggaran gigs, kira-kira gitu.

Untuk sebuah band Lombok membuat tur panjang adalah hal yang luar biasa, ada cerita” seputar pembiayaan dari Javakensi Tour atau cerita lainnya?

Meiga: Mengenai pendanaan sebenarnya bisa dikatakan cukup rumit, dari yang kita ketahui sih ini semuanya dilakukan dengan nekat, beberapa dengan gambling, awalnya kita mau berangkat karena mendapat tawaran manggung di Bogor, saat deal itu ya lumayan lah dananya bisa buat nambah biaya akomodasi awal dan sedikit untuk hospitality. Dari sekedar perhitungan awal itu, kita coba membuka pra-pesan merch untuk mencari dana tambahan. Ternyata hasilnya lumayan jadi bekal jalan. Ya udah, sisanya ya kita memproduksi merch untuk dibawa tur, satu kami produksi sendiri dan satu lagi dibantu produksi Langen Srawa.

Saat tur, karena permintaan kaset juga cukup banyak, akhirnya dirilis pula kaset untuk kami bawa tur, sejujurnya pendanaan kami ini utamanya ya bernafas dari penjualan merch dan kaset ini, sisanya ya dari bayaran panggung, sharing profit ticketing serta bantuan subsidi dari teman-teman di beberapa titik, mungkin salah satu contoh bantuannya itu begini: Adipati (Vokalis The Kuda) punya kawan yang memiliki usaha pakaian di Bogor, dan Adipati mengabari kita kalau ada kawannya yang ingin membantu The Dare secara ikhlas untuk memproduksi merch khusus untuk di Bogor, akhirnya kami siapkan desain dan diproduksilah oleh mereka, seluruh hasil penjualan merch itu disalurkan kepada kita. Asas pertemanan ini cukup berdampak dalam pendanaan tur ini, mengingat tur ini dilakukan tanpa sponsor utama, ya kita harus banyak-banyak bersyukur jika menerima bantuan dari kawan kami.

Kampanye kalian “Dare the fight sexual harassment in concert”, seberapa penting menciptakan ruang aman perempuan di sebuah konser? Lalu bagaimana kalian menanggapi banyak suara suara miring soal ini?

Meiga: First of all, kampanye Dare To Fight Sexual Harassment In Concert ini dilakukan atas pertimbangan kami setelah mendengar permintaan dan curhatan teman-teman perempuan kami, beberapa dari mereka menyampaikannya langsung lewat DM Instagram. Tentu sebagai sesama perempuan, kami tidak perlu memproses lama untuk turut merasakan pengalaman yang mereka ceritakan. Tentu ini jadi PR yang berat, bukan hanya untuk kami, ini tanggung jawab bersama untuk terus berupaya mewujudkan ruang aman bagi siapapun yang menikmati konser. Kenapa kami rasa hal ini penting? Selain hal ini dapat menanam rasa trauma bagi penyintas tindakan ini, hal tersebut juga berdampak buruk bagi perhelatan musik di tanah air.

Kami mendapat cerita dari salah satu teman perempuan kami, dia bercerita melalui twitter, bahwasanya adalah seorang penyintas yang cukup trauma dengan acara musik sehingga dia tidak ingin hadir lagi ke acara musik manapun, bahkan dia sampai berucap bahwa bila suatu hari ia memiliki keturunan, ia juga akan mewanti-wanti keturunannya untuh hadir di perhelatan musik, apakah hal tersebut tak terdengar menyedihkan dan serius? Jelas hal-hal ini yang kami tidak inginkan, maka dari itu kami mengutuk perbuatan buruk ini dan akan berupaya semampu kami untuk meredam terjadinya pelecehan seksual di ruang publik.

Desita: Mengingat ini adalah isu yang cukup sensitif, tentu saja banyak pro kontra dari solusi yang kami coba upayakan, bagi kami itu sah saja, justru jika suatu penerapan tak menuai pro dan kontra, itu tandanya hal tersebut tidak memiliki potensi untuk berkembang. Salah satu solusi kami yang sempat menuai pro dan kontra adalah saat kami mencoba mempersilahkan teman-teman perempuan untuk mengisi kekosongan di barisan depan. Okay, bagi beberapa orang hal ini bertentangan dengan kaidah “kesetaraan”, beberapa orang mengatakan bahwa hal tersebut mengekang ekspresi perempuan dengan mengatur posisi mereka saat menyaksikan gigs. Okay, bagi kami disini terjadi miskonsepsi antara tujuan kami dan respon beberapa orang, tujuan kami menyediakan ruang kosong dan mempersilahkan perempuan bila ingin maju ke depan itu sifatnya BUKAN SEBAGAI SEBUAH ATURAN, melainkan upaya mempersilahkan bila mana ada yang membutuhkan hal tersebut, karena beberapa dari teman perempuan kami menyampaikan melalui DM bahwa mereka membutuhkan ruang tersebut.

Umpamanya seperti gerbong khusus perempuan di kereta KRL. Apakah dibuatnya gerbong tersebut atas dasar keinginan pribadi pihak KRL? Kami rasa tidak, jelas gerbong itu dijadikan solusi karena banyaknya aduan masyarakat akan hal-hal yang merugikan keselamatan perempuan, lantas apakah adanya gerbong itu bertujuan untuk mengatur? Tentu tidak, perempuan juga berhak memposisikan dirinya dimanapun, gerbong khusus perempuan hanyalah sebuah upaya yang disediakan. Tidak ada pengekangan terhadap ekspresi apapun, sejak awal, kami melihat wajah-wajah yang tersenyum saat kami tampil, melihat para perempuan berbaur dengan laki-laki tanpa rasa takut, perempuan yang gemar crowd surfing juga berulang kali melakukan hal tersebut, semuanya saling jaga satu sama lain (tanpa harus memandang gender) dan semuanya bersenang-senang, kami nggak pernah ingin atau merasa berhak untuk mengatur cara orang lain berekspresi namun semua orang yang hadir ke gigs kami BERHAK mendapatkan keamanan dan kenyamanan untuk bersenang-senang. Lagipula, kami sejak awal juga selalu menggaungkan semboyan Emma Goldman yang berbunyi “If I can’t dance, I don’t want to be in your revolution”, bahkan kami menyisipkan gambar wajah Emma Goldman beserta semboyannya itu di jersey kami. Kira-kira itu tanggapan kami mengenai miskonsepsi akan hal ini, dan jika teman-teman di luar sana memiliki pendangan berbeda mengenai hal ini, silahkan realisasikan pandangan berbedamu itu untuk menjadi sebagai sebuah solusi dan coba diterapkan karena bagi kami isu ini adalah tanggung jawab bersama dan harus segera ditemukan solusi penanganannya untuk meredam tindakan buruk ini terjadi lagi.

Menanggapi soal suara miring, kalian pasti pernah notice kalau ada komentar miring yang mengatakan soal band viral di sosmed biasanya musik biasa aja, gimana kalian menanggapinya?

Riri: Pentingkah hal ini untuk direspon? Jika hal ini benar-benar harus dijawab, maka aku akan jawab dengan becanda, jelas aku terpapar dengan tweet itu, ya gimana nggak terpapar, tweet-nya saja viral. Dari tweet mengenai kritikan akan buruknya hal viralitu menjadi viral, secara nggak langsung ‘tweet viralnya itu mematahkan statementnya sendiri’, jadi tanggapanku sudah tidak diperlukan lagi sebenarnya disini, hahaha. Lagian aku tuh cuman mau main musik, skill-ku dan dedikasiku untuk pembahasan musik itu nggak pernah seserius itu, dapat teman baru dari musik aja sudah bersyukur, senang juga kalau bisa bantu-bantu satu sama lain, apalagi bisa bergerak bersama untuk gotong royong, sesederhana itu aku dalam kaidah bermusik, toh aku bukan pribadi yang mengelu-elukan “I’art pour I’art” atau music for music’s sake, blablablabla, kita disini orang-orangnya rada fungsionalis, musik kita hanya medium sederhana untuk ngelakuin banyak hal di luar ranah medium musik kami, jadi kita nggak mau ngurus-ngurus banget lah tanggapan perihal musik bagus/musik jelek, band viral, band gimmick, band marketing agency, banyak hal yang lebih krusial di kehidupan ini.

The Dare / dok. The Dare (instagram).

Untuk urusan asmara/percintaan bisa lebih mudah nggak dengan popularitas kalian hari ini?

Riri: Hahahaha, sepertinya tidak ngaruh ya, justru kita luntang lantung nih kisah asmaranya, ada yang kandas, ada yang tak kunjung menemukan, ada yang sibuk mencintai dirinya sendiri hahaha, nggak ngaruh deh pokoknya. Kok bisa ya ada stereotipe anak band itu playboy/playgirl? Atau mungkin memang kebanyakan anak band itu kisah asmaranya okay-okay kali ya, cuman band kita doang mungkin yang sering apes asmaranya hahaha dah lah, jadi soal asmara ini memang ribet dan kompleks banget kayanya, nggak bakal ngaruh cuman karena perihal status atau profesi.

Penulis
Wahyu Acum Nugroho
Wahyu “Acum” Nugroho Musisi; redaktur pelaksana di Pophariini, penulis buku #Gilavinyl. Menempuh studi bidang Ornitologi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, menjadi kontributor beberapa media seperti Maximum RocknRoll, Matabaca, dan sempat menjabat redaktur pelaksana di Trax Magazine. Waktu luang dihabiskannya bersama bangkutaman, band yang 'mengutuknya' sampai membuat beberapa album.

Eksplor konten lain Pophariini

Afgan Merilis Karya yang Paling Personal Berjudul Sonder

Selang empat bulan dari perilisan single “Shallow Water”, Afgan akhirnya melepas album berbahasa Inggris kedua berjudul Sonder tanggal 21 Juni lalu sesuai yang direncanakan. Album mini tersebut menampilkan total 5 lagu dengan trek fokus …

Gagasan Perayaan Risky Summerbee & The Honeythief di Single Carnivalesque

Berjarak 2 bulan dari perilisan “Perennial”, Risky Summerbee & The Honeythief kembali lagi membawa yang terbaru dalam tajuk “Carnivalesque” hari Jumat (14/06).   Rizky Sasono yang menuliskan lirik lagu ini dengan mengangkat tema perayaan …