8 Buku Musik Terbaru Pilihan Pophariini

Jun 4, 2022

Di tahun ini, seperti juga di tahun-tahun sebelumnya, telah banyak buku musik yang terbit mewarnai kancah literasi juga kancah musik di tanah air. Beragam hal di bahas, dari cerita sejarah, arsip, telaah maupun catatan perjalanan mewarnai ragam buku musik yang telah terbit dan telah kami bahas sejak 2018 silam.

Hal menarik yang kami temukan adalah bahwa di masa pandemi ini, makin banyak penulis, dari latar belakang apapun, yang makin giat dalam melahirkan karya-karya literasi.

Di rekomendasi khusus ini, Pophariiini telah merangkum beberapa buku musik yang telah masuk ke meja redaksi. Mudah-mudahan ulasan singkat kami bisa membantu kalian untuk makin giat mengoleksi buku musik.

Simak beberapa buku musik di bawah ini

 

1. Prolifik  – Indra Menus (Samstrong Records)

Mungkin ini buku musik terbitan tanah air paling tebal yang patut dicatat dalam sejarah. Buku setebal 690 halaman ini ditulis oleh Indra Menus, sosok musisi, scenester yang aktif menulis dan mengabadikan skena musik bawah tanah di Jogja. Buku tebal ini berisi tulisan lepas tentang musik, interview musisi, kolektif, media juga review zine, buku musik, dan gigs. Yang menarik dalam buku ini juga ditambahkan pula sebuah QR Codes yang berisi tautan 20 lagu dari beragam proyek musik yang pernah digarap Indra Menus mulai dari 1998 – 2021 sebagai soundtrack yang akan menemani pembaca.

 

2. Stempel Generasi Biru (Rustam Rastamanis – Kamar Musik)

Sebuah buku yang menceritakan fakta sejarah Band legendaris Slank, BIP, hingga General Maya. Sang penulis buku yakni Rustam Rastamanis adalah sosok yang sekian tahun lamanya berada di balik layar yang selalu luput dari perhatian publik ketika meletup berbagai konflik. Lewat buku setebal 337 halaman ini, Rustam menyajikan ‘harta karun’ berisi setumpuk fakta sejarah yang selama ini tidak pernah berhasil disentuh oleh pihak-pihak yang mengungkap cerita Slank dan BIP dan semua yang berkaitan di gang sempit bernama Potlot.

 

3. Out of Order: The Tales of Urban Misfits  (Meita Kasim – Arung Wacana)

Meita Kasim dikenal sebagai personil dari Wondergel, band rock alternatif lawas dari era 90-an. Novel ini adalah debutnya sebagai penulis yang isinya kurang lebih menceritakan tentang potret Sigi, remaja perempuan dari keluarga Minangkabau yang ‘memberontak’. Besar di era 90-an, pemberontakan Sigi ditunjukkan dengan bergabung dengan komunitas punk dan metal dengan sirkuit-sirkuit legenda seperti Blackhole dan Poster cafe.

 

4. Punguti Aksara: Kumpulan Tulisan Musik (Samack -Pelangi Sastra) 

Nama Samack adalah nama penting di skena musik Malang. Selama bertahun-tahun ia aktif menulis tentang musik di berbagai media baik, mengulas tentang skena Malang  maupun kota-kota lainnya. Meskipun dasarnya adalah penyuka musik keras, namun banyak tulisannya yang ternyata menembus batas genre. Di buku setebal 318 halaman ini, kita akan mendapatkan wawancara Samack dengan musisi rock, cerita tentang jatuh bangunnya sebuah band punk Malang, ulasan lagu per lagu dalam album rock, artikel tentang stasiun radio legendaris, juga artikel feature tentang sebuah tempat minum yang akrab bagi penggemar musik.

 

5. Industri Musik yang Menjajah (Galih Nugraha Su – Propublic.info)

Ini adalah buku kesekian yang ditulis oleh Galih Nugraha Su, yang dikenal dengan nama lain Deugalih: musikus, kritikus pendidikan, esais musik. Seperti ada kaitan dengan judul buku Pendidikan yang Menjajah yang telah terbit dua tahun yang lalu, buku ini adalah kumpulan esai yang berisi kritik tentang musik. Sesuai dengan testimoni yang ada dalam bukunya, Galih menyajikan pengalaman dan perspektifnya mengenal beragam isu, dari persoalan musik ketika diindustrikan sampai nasib musisi semasa pandemi, isu-isu seputar medsos dan aneka aplikasi live streaming, NFT, kesehatan mental, dll.

 

6. Rupa Suara: Catatan Perjalanan Bebunyian (Iman Fattah – Arung Wacana)

Iman Fattah dikenal sebagai seorang musisi, produser, sound artist dan penulis yang asal Jakarta yang kini tinggal di Los Angeles. Di bukunya ini, Iman menumpahkan segenap pengalaman, serta pengamatannya dalam menekuni dunia musik selama dua puluh tahun. Pengalaman ini mencakup proyek-proyek musik yang telah ia geluti seperti LAIN, Zeke and The Popo, dan Onrop Musikal, bagaimana pengalaman serta pengamatannya dalam konteks kancah musik independen di Jakarta awal 2000-an semua ada di sini.

 

7.  I Wanna Skank: Melacak Jejak Ska di Jakarta 1996-2006 (Nor Rahman Saputra – Buku Mojok)

Ini adalah buku tentang musik Ska pertama yang berisi perkembangan tentang genre musik ini di Jakarta. Dari tampilan sampul buku setebal 164 halaman yang sangat catchy ini,  I Wanna Skank  membahas sebuah subkultur yang lebih seru di bawah tanah. Bagaimana dinamika perjalanan genre ini dari jaman-ke jaman, ditilik dari perjalanan profil band, gigs dan lainnya, semua diulas di sini.

 

8. Don’t Read This!: Catatan Melodic Punk Bandung dari Masa ke Masa (Prabu Pramayougha – Bukune) 

Buku ini berisi tenang upaya Prabu, gitaris dan vokalis band Saturday Night Karaoke untuk melacak bagaimana musik melodic punk, genre yang diusung bandnya ini bisa mendarat di Bandung sampai akhirnya bisa berkembang pesat. Dalam bukunya ada banyak pembahasan menarik dari para pelaku skena genre ini di Bandung dari periode yang disebutkan di atas tentang geliat dan dinamika yang terjadi dalam kancah tersebut.

Penulis
Wahyu Acum Nugroho
Wahyu “Acum” Nugroho Musisi; penulis buku #Gilavinyl. Menempuh studi bidang Ornitologi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, menjadi kontributor beberapa media seperti Maximum RocknRoll, Matabaca, dan sempat menjabat redaktur pelaksana di Trax Magazine. Waktu luang dihabiskannya bersama bangkutaman, band yang 'mengutuknya' sampai membuat dua album.
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Inline Feedbacks
View all comments
Indra
Indra
3 months ago

Buku2 nya bisa dipesan dimana ?

Eksplor konten lain Pophariini

Menggemparkan! Ini 8 Line Up Terbaru Soundrenaline 2022

Festival musik terbesar di Tanah Air, Soundrenaline 2022 baru saja mengumumkan lagi delapan line up terbarunya

Earhouse Songwriting Club Bernyanyi Bersama di “Karya-Karya”

Earhouse Songwriting Club akan merayakan hadirnya mini album ini di gelaran Synchronize Festival, tepatnya pada hari terakhir penyelenggaraan (09/10).