Album Lomba Cipta Lagu Remaja 1978 Bertabur Pesona

1603

Saat menulis lagu, dari segi lirik, ada keinginan pula untuk tampil berbeda secara tema dan terutama cara menulis dari lagu-lagu pop arus utama saat itu yang dirasa tidak sesuai dengan selera kekinian mereka.

Lomba Cipta Lagu Remaja ’78: para pencipta lagu remaja Dinyanyikan penyanyi-penyanyi baru, direkam produser muda, diaransir oleh arranger terkini dan selebihnya adalah sejarah manis untuk telinga kita

Maka estetika itulah yang terjadi: musik pop “terbaru” dengan jelajah chord dan aransemen yang utamanya dipengaruhi progressive rock, folk, dan juga disko, dengan lirik-lirik puitis yang banyak memilih kata yang tak lazim digunakan untuk musik popular Indonesia saat itu, banyak mengambil dari “perbendaharaan lama”, atau kata-kata yang umum namun dengan paduan yang tak lazim untuk mencapai metafora, berefleksi terhadap kondisi sosial-budaya dan relasinya pada kehidupan anak muda.

Sampul depan dan dalam kaset Lomba Cipta Lagu Remaja 77 / dok. istimewa

Singkatnya, mengutip judul pagelaran Jockie Suryorayogo yang kemudian juga dikasetkan oleh Musica Studio pada 1979, bagi musisi muda itu: “Musik saya adalah saya”.

Lagu ciptaan Chris Manusama, “Kidung”, dinyanyikan oleh Bram, Diana, dan Cris yang dletakkan sebagai pembuka album Lomba Cipta Lagu Remaja – Dasa Tembang Tercantik 1978 Prambors Rasisonia, adalah salah satu contoh terbaik dari pencapaian arah estetis generasi pop Indonesia terbaru ini. Berhembus abadi, kita pun teringiang-ngiang dengan notasi dan liriknya:

Tak selamanya mendung itu kelabu
Nyatanya, hari ini
Kulihat begitu ceria   

Hutan dan rimba turut bernyanyi juga
Membuat hari ini berseri
Dunia penuh damai

Bintang berkedip dengan jenaka
Seakan tahu arti dan rasa
Oh, kidung yang indah
Kau luputkan aku
Dari sebuah dosaku

Dhenok Wahyudi dan Jockie S tampil berduet untuk lagu kedua, “Kelana” karangan Hotma Soehartono, yang menjadi pemenang keempat pada lomba tersebut. Dhenok dan Jockie S telah pula berpasangan menyanyikan tembang elok “Dalam Kelembutan Pagi” karya cipta Baskoro pada LCLR 77. Sementara Hotma Soehartono adalah salah satu anggota Camantha, kelompok musik yang pernah menjuarai festival grup musik akustik di Yogyakarta pada 1977 (juara I), 1978 (juara II), dan kembali meraih piala bergilir Walikota pada 1979 kala membawakan lagu ciptaan mereka berjudul “Kemah” dan komposisi instrumentalia bertajuk “Arabian Style”.

musik pop “terbaru” dengan jelajah chord dan aransemen yang utamanya dipengaruhi progressive rock, folk, dan juga disko, dengan lirik-lirik puitis yang banyak memilih kata yang tak lazim digunakan untuk musik popular Indonesia saat itu

Tembang berikutnya adalah karya cipta Christ dan Tommy WS berjudul “Khayal” yang dinyanyikan Purnama Sultan.  Sebuah tembang disko dengan notasi yang hebat sejak verse hingga refrainnya. Dengan semakin digalinya musik Indonesia lama pada dekade 2000an hingga kini, “Khayal” pada hari ini masih bisa mengajak muda-mudi untuk berdansa sambil menyanyikan bait-bait liriknya. Pasca LCLR 78, Chirst, Tommy WS, dan Purnama Sultan sempat membentuk band pop jazzy Eksha Bhama yang hanya merilis satu album, dan kembali merekam “Khayal” dengan aransemen yang berbeda. Purnama Sultan sendiri setelah era Eksha Bhama sempat meniti karir solo dengan merilis album Selangit.

Dhenok Wahyudi kembali tampil pada nomer berikut di album LCLR 78, “Dalam Cita & Cinta” karangan Oetari Saptarini. Kembali kekuatan penulisan lagu ditampilkan; bagaimana menciptakan pop yang berciri, menjadi alternati dari yang banyak di luar sana, namun tetap begitu mudah untuk menempel di kepala.