Album yang Mengubah Hidup: Marcel Thee ‘Sajama Cut’

May 14, 2022

Namanya belum lama ini masuk daftar 10 Jurnalis Musik Favorit Pophariini. Dia adalah frontman Sajama Cut, Marcel Thee yang kini bekerja di bidang jurnalisme – sebagai Managing Editor di The Jakarta Post. Selain itu, ia juga menerima pekerjaan copywriting, konsultan branding, riset, dan lainnya.

Jauh sebelum berkecimpung di bidang jurnalisme, Marcel sudah membentuk band bernama Idiotic di tahun 1995 yang kemudian berubah nama menjadi Roswell. Perubahan nama itu terjadi bukan sekali sampai akhirnya Sajama Cut pilihan terakhirnya.

“Kita merilis album independen pertama di tahun 1999, dengan kover album yang dibantu gubah oleh Eric Wiryanata dari Deathrockstar. Saya juga membuat Deathrockstar dengan dia. Roswell ini pada esensinya adalah wujud awal Sajama Cut, dengan anggota yang relatif sama. Tahun 1999 pula, kita berubah nama menjadi Sajama Cut,” kata Marcel kepada Pophariini (12/05).

 

Sebanyak lima album penuh yang sudah dihasilkan Marcel bersama Sajama Cut, seperti Apologia, The Osaka Journals, Manimal, Hobgoblin, dan Godsigma. Catatan ini belum termasuk single lepasan serta album remix Le Internationale berisi produser musik dari seluruh dunia, maupun album Softcore berisi lagu-lagu lama yang dimainkan secara akustik dengan menghadirkan musisi tamu, antara lain ada Asteriska dan Endah N Rhesa.

Karya musik yang dihasilkan bukan cuma itu. Marcel juga memiliki proyek yang diberi nama The Knife Club, yaitu kolektif musik keroyokan bersama musisi-musisi yang ia sukai dari skena independen lain. Bahkan, Marcel sempat merilis album solo di tahun 2012.

Setelah terakhir merilis album Godsigma di masa pandemi tepatnya bulan Oktober 2020, Marcel bersama Sajama Cut tahun ini memiliki beberapa rencana besar yang segera mereka umumkan.

Yang utama adalah rilisan massive, dan juga kita mulai aktif bermain lagi. Ini yang kita tunggu-tunggu, karena album Godsigma akhirnya bisa dimainkan live. Kita sudah banyak sekali mendapat pesan dari Sajama Kids [sebutan fans Sajama Cut, red] untuk memainkan Godsigma live. Akhirnya bisa. Kita juga kembali dengan formasi baru yang chef’s kiss. Bukan main, player-player baru ini. Saya tidak sabar membawa ke panggung,” tutup Marcel.

Kembalinya Sajama Cut dengan formasi yang gres dijadwalkan untuk mengisi panggung I Don’t Give A Fest secara langsung hari Sabtu, 14 Mei 2022 di Antasore Japanese Dining, Jakarta Selatan.

Sebelum itu, mari simak penjelasan Marcel Thee mengenai album yang mengubah hidupnya di bawah ini.


Puppen – Mk II dan Koil – S/T

Marcel Thee tidak memilih hanya satu untuk album yang mengubah hidupnya. Ia langsung menjawab beberapa. Pertama, album milik Puppen berjudul Mk II. Kedua, album self-titled milik Koil. Bahkan, Marcel menyebutkan kalau dalam skala tertentu ia juga menjagokan album Koil yang Megaloblast.

Tentu ada cerita yang menarik kapan pertama kali Marcel mendengarkan album-album pilihannya. Di era munculnya album independen, ia sempat merasa sulit mendapatkan fisiknya di Jakarta. Marcel sampai harus ke Bandung berkunjung ke toko Reverse milik Richard Mutter hanya untuk mencari kaset underground lokal.

Beda dengan cara ia mendapatkan album Puppen dan Koil. Ternyata, Marcel bisa menemukan dua album itu di Jakarta.

“Untungnya, album Mk II bisa dibeli di Aquarius Blok M. Ini mungkin tahun 1998. Lalu, Koil juga saya beli di toko kaset di Arion Plaza di Rawamangun. Saya sempat membuat list nama-nama band indie lokal, karena begitu sedikit, dan setiap ke toko kaset, saya berharap ada sulap yang membuatnya ada. Ketika saya lihat nama band Koil di tahun 96 atau 98, saya lupa. Saya langsung beli. Harganya belum sampai 10.000 di zaman itu,” kata Marcel.

Ketika ditanya alasan mengapa album-album yang dipilihnya sampai mengubah hidup. Marcel mengatakan, Puppen maupun Koil band lokal yang memiliki kualitas band internasional tanpa terdengar menjiplak.

Dengan lirik yang tidak klise, penuh dengan hati dan karakter. Sulit menjelaskan tanpa konteks era itu. Tapi hal-hal itu sangat ‘stand out’ di era di mana semua musik lokal adalah musik pop menye. Plus mereka terlihat sebagai orang-orang ‘biasa’, yang bisa diajak ngobrol. Just a few music maniacs like myself,” ungkap Marcel.

Lagu yang paling favorit bagi Marcel, yaitu “Lelah” dan “United Fist” di album Puppen Mk II. Ia juga memilih lagu dari album Koil yang self-titled, “Waktu yang Berhenti”.

“Saya sempat bertanya ke Ucok Homicide. Di bagian rap ‘United Fist’, mereka meneriakkan apa. Dulu saya sangka mereka bilang sesuatu tentang ‘Piaza’. Ternyata bukan [tertawa].”


 

Penulis
Pohan
Suka kamu, ngopi, motret, ngetik, dan hari semakin tua bagi jiwa yang sepi.

Eksplor konten lain Pophariini

Konser Sheila On 7 Tunggu Aku di Berlanjut ke 5 Kota di Indonesia

Awal April 2024, Antara Suara selaku promotor Sheila On 7 Tunggu Aku di Jakarta (TADJ) mengunggah video promosi pertama yang mengisyaratkan Adam, Duta, dan Eross akan melanjutkan konser tunggal mereka ke kota lain.   …

Langit Sore, GFRN, dan Cacha Sholastica Bahas Pengkhianatan Cinta dalam Firasat Berbisik

Kolaborasi bukan suatu hal baru bagi grup musik asal Yogyakarta, Langit Sore. Kali ini mereka menggaet Cacha Sholastica, dan GFRN untuk single berjudul “Firasat Berbisik” yang resmi beredar hari Jumat (29/03) lalu. Terbentuk sejak …