Apa Kabar Musik Religi Sekarang?

506
Ilustrasi oleh Agung Abdul.

“Akulah para pencarimu ya Allah / Akulah yang merindukanmu ya rabbi / Hanya di jalanmu ya Allah / Tempat ‘ku pasrahkan hidupku.” 

Jauh sebelum menjadi politikus dan menjabat sebagai wakil walikota Palu, Sigit Purnomo Syamsuddin Said adalah sosok yang mendendangkan selarik lirik di atas. Tetapi, siapa Sigit Purnomo Syamsuddin Said? Nama itu terdengar asing. Sosok ini punya nama panggilan yang mungkin lebih familiar di kuping kita: Pasha. Dia lah yang mendendangkan lagu “Para PencariMu” bersama bandnya Ungu.

Dirilis pada 2007 silam, “Para PencariMu” adalah satu dari banyak lagu-lagu bertema religi yang dipasarkan tiap bulan suci ramadan tiba di Indonesia. Ungu dan album religinya adalah bagian dari apa yang bisa kita sebut sebagai “ramadan bubble”.

Bubble kerap terjadi di banyak sektor kehidupan, misalnya bubble batu akik, atau bubble tanaman hias anthurium, bubble tulip, hingga bubble dot com. Bubble terjadi ketika satu komoditas tertentu meledak di pasaran, harganya melambung tinggi, hingga harganya menjadi tidak masuk akal dan akhirnya gelembung itu meletus, hilang.

Ramadan Bubble adalah gelembung yang sama, ia adalah gelembung musiman yang muncul saban setahun sekali di Indonesia. Ketika bulan suci umat Muslim ini tiba, sebagian besar orang atau usaha tiba-tiba berlomba-lomba mencitrakan diri sebagai sosok yang agamis. Semua produk jualan harus dipoles dengan narasi ramadan agar bisa laku di pasaran. Contohnya, salah satu merek sirup yang iklannya di televisi kerap muncul sebulan sebelum ramadan tiba. Atau simak bagaimana Para Pencari Tuhan, sinetron yang muncul saban ramadan ini bertahan dan tayang hingga 13 seasons.

Seperti lazimnya bubble, gelembung ramadan ini akhirnya akan meletus juga dan berhenti dibincangkan atau diperjualbelikan saat lebaran tiba. Setelah perayaan penutup bulan suci ini, semua kembali menjadi hari-hari yang biasa.

Demikian juga dengan Ungu, pasca-ramadan, mereka melepas lagi baju koko dan serban yang sebelumnya mereka kenakan selama sebulan. Ungu kembali ke khitah-nya sebagai band pop dengan musik dan lirik mengenai percintaan sepasang kekasih.

Baca juga:  PP No. 56/2021 dan Murahnya Musik Indonesia di Mata Warganetnya

Ungu hanya satu contoh. Faktanya ada begitu banyak musisi lain yang banting setir mengkomposisi dan menampilkan musik bertema religi ketika ramadan tiba. Dekade 2000an adalah tahun-tahun gemilang untuk musik bertema religi. Misalnya Gigi. Album religi pertama mereka Raihlah Kemenangan yang dirilis pada 2004 silam adalah sebentuk kesuksesan besar. Hingga akhirnya Gigi membuat tradisi merilis album atau singlereligi setiap bulan ramadan tiba.

Ungu dan Gigi adalah contoh dari moncernya lagu bertema religi di dekade 2000an. Lalu muncul pertanyaan: apa kabar musik religi sekarang?

Di masa sekarang, tahun 2021, atau mundur hingga lima tahun ke belakang, meski tidak seriuh dekade 2000an, musik bertema religi sebenarnya masih eksis.

Pada 2020 misalnya, Ungu merilis sebuah album kompilasi (semacam the best of…) bertajuk Top Hits Religi UNGU. Album ini berisi lagu-lagu-lagu religi mereka yang sempat ngehits dari beberapa tahun sebelumnya.

Lagu-lagu religi pasca2000an ini juga tidak seeksplisit lagu-lagu tahun 2000an yang secara langsung menggunakan judul atau lirik lagu yang berkesan Islami. Para musisinya juga tidak lantas mengenakan baju gamis atau mengenakan serban untuk menampakkan kesan religius.

Kita bisa simak dari lagu milik Letto. Band asal Yogyakarta yang lagu-lagunya terkesan sebagai lagu pop niaga, namun sebenarnya memiliki lirik lagu yang sungguh religius seperti “Sandaran Hati”, “Ruang Rindu”, atau “Sebelum Cahaya.” Para personel Letto juga tidak mengenakan pakaian gamis atau serban ketika tampil langsung. Mereka tampil dengan gaya kasual.

Ada pergeseran yang sangat kentara terjadi. Lagu-lagu religi era 2000an yang sebelumnya menggunakan lirik yang tersurat, beberapa tahun belakangan menjadi lebih tersirat. Bisa dibilang cara mainnya lebih soft, dengan musik yang enggak melulu berbau ke-Arab-Arab-an, dan dengan lirik penuh metafora yang lebih soft.

Contohnya Base Jam, band yang sangat sukses di dekade 90an dan sempat pisah jalan namun akhirnya kembali reuni, turut serta mencoba peruntungan di bulan ramadan dengan merilis satu single baru bertajuk “Kusambut Ramadhan” pada sembilan April yang lalu.

Baca juga:  Jejak Rock ‘n Roll Indonesia Dalam 2 Dekade Terakhir
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments