ASTERA, Satu Lagi Dari Pulau Dewata

89

Memperkenalkan. ASTERA!

Kali ini, mari kenal lebih dekat dengan ASTERA, satu nama yang kami temukan dalam program Irama Kotak Suara bulan Oktober lalu. Kuartet asal pulau Dewata ini ternyata sudah memulai perjalanannya sejak tahun 2014 lalu, termasuk sebuah cerita ketika mereka memenangi sebuah kompetisi band di usia band yang masih muda, juga dengan usia mereka yang juga muda.

Di pertengahan bulan Oktober lalu, ASTERA juga baru saja merilis sebuah video musik dari single “Tell Me Now”.

Penasaran dengan ASTERA? Segera simak obrolan kami dengan sang drummer, Chandra Raditya.


Jadi, bisa dibilang bahwa ASTERA adalah band yang terbentuk ketika kalian semua masih di bangku SMA ya?

Yupp betul. Kami terbentuk di tahun 2014 dengan 5 personil awalnya. Tetapi fokusnya waktu itu masih ikut lomba sana-sini, sebelum akhirnya di tahun 2018 kami putuskan untuk rebrand dan fokus garap karya yang relate lah dengan pop-culture sekarang.

Ngomong-ngomong soal lomba, saya baca bahwa kalian sempat memenangi kompetisi band dari HAI di tahun 2014. Bagaimana rasanya menang kompetisi tersebut di usia band yang terbilang muda, dan usia kalian juga yang masih muda?

Itu benar-benar nggak terduga sih mas. Karena di Bali pun kami waktu itu belum pernah sekalipun juara 1. Selama persiapan, kami benar-benar cari gimana caranya biar bawa ASTERA waktu itu bisa beda dari band yang lain. Sampai-sampai kita paduin musik kami dengan Gangsa (alat musik tradisional Bali) dan kita bawa itu juga ke Jakarta [tertawa].

Puas, bahagia, terharu lah mas ngerasain bisa menang di kompetisi itu. Dan disana juga mulai kebentuk niatan untuk serius bermusik.

Berarti, kalian dibawa ke Jakarta ya? Untuk manggung di HAI Day?

Ya betul, acaranya kebetulan serangkaian juga dengan HAI Day. Kami lomba di stage kedua yang kebetulan kalau nggak salah waktu itu diisi The Brandals sama side projectnya Efek Rumah Kaca (Pandai Besi – RED). Dari situ, kita jadi kenal sama Josaphat (Killing Me Inside), dan ASTERA awal-awal lumayan sering sharing sama dia.

Antusias dari penonton pas kalian mentas, bagaimana?

Puji Tuhan mas banyak yang antusias, banyak yang suka juga, diluar dulu vokalis kami ex-Idola Cilik ya [tertawa].

Ternyata juga jadi nilai ‘jual’ ya waktu itu?

[tertawa], ya jujur sih kami berempat juga kaget, ternyata doi masih segitu banyak fansnya.

Formasi terkini ASTERA. / Dok: ASTERA.

Setelah sempat rilis EP di tahun 2016, kenapa malah memutuskan untuk rebranding di tahun 2018?

Jadi, waktu tahun 2016 itu kami memang sudah mulai mencoba untuk serius berkarya. Tetapi, itu juga dalam posisi kita sedang ‘pisah’. Dalam artian, ada yang di Bali dan ada yang di Jogja. Yang di Bali itu Bagus (gitaris) dan Deva (ex-vokalis), yang di Jogja itu bertiga, aku, Dode (gitaris), dan Rio (Bassis, sekarang sebagai vokalis).

Nah, jalan EP itu, segala macam, terlebih waktu itu malah lebih aktif di Jogja kami. Berkarya, aktif manggung, disitu juga kita mulai sharing-sharing soal karya. Mulai menemukan rasa tidak puas dan disitu juga kita baru sadar kalau ternyata “oh, ternyata musiknya belum jati  diri kita banget”. Di tahun 2017 juga, kita ada sedikit konflik internal mungkin bisa dibilang. Mulai gak cocok kami dengan ex-vokalis kami, terlebih juga berbeda-beda fokusnya.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments