Biru Baru – Rasa & Manusia

Nov 18, 2022

Hari ini saya menemukan ambience sebagai sebuah elemen yang kerap dipakai dalam rekaman-rekaman musik yang masuk ke redaksi Pophariini. Sebelum ini, saya duluan mengulas Reruntuh dengan album barunya, Water Will Find Me. Beberapa waktu lalu  saya mendedah Jelajah, album keren dari band Makassar, Soleluna. Saya masih ingat pengalaman dininabobokan oleh ‘perjalanan luar angkasa’ yang disajikan mereka. Hari ini, pengalaman serupa saya temukan di Rasa & Manusia, album baru dari duo asal Jakarta, Biru Baru.

Saya tak perlu membahas lebih dalam soal ambience music selain kalian bisa dengan mudah memahami dari Wikipedia atau rangkuman album penting dari playlist resmi dari Spotify. Yang justru ingin saya bahas kali ini sebetulnya soal ketertarikan personal akan bagaimana ambience bisa diaplikasikan sedemikian rupa hingga menghasilkan sebuah album yang baik dan berkarakter.

Album Zaman, Zaman (2016) milik Trees And The Wild adalah poin masuk yang mengenalkan saya dengan cakrawala ambience ini di Indonesia. Sebuah album yang grande secara tekstur, penuh dengan pengalaman sonik yang luar biasa.

Makin ke sini, ambience menjadi ‘kuncian tipis’ bahkan sebuah elemen yang makin dikedepankan oleh banyak rekaman musik lokal kita. Saya mendengar bagaimana Kunto Aji lewat Mantra-Mantra-nya mampu membius dengan ‘sisipan atmosferik’ di beberapa nomor yang ada. Sisanya, ambience makin melekat di beberapa rekaman dari Mantra Vutura, UTBBYS, Laird, Voxxes, Gardenia dan banyak lagi.

Hari ini, Rasa & Manusia dari Biru Baru makin meyakinkan saya bahwa ada sesuatu yang indah dari pemakaian ambience sebagai sebuah elemen penting pada tekstur rekaman musik. Ia menciptakan suasana yang mungkin tak tergantikan dengan apapun. Ia mengisi ruang kosong, memberikan warna dasar kepada kanvas kosong bahkan sebelum tema lukisan dimulai.

Bagaimana elemen ambience menjadi menu utama Biru Baru sudah dihadirkan di nomor “Pembuka”. Suasana dingin, perasaan damai yang dihadirkan oleh suara bel, low synthesizer dan suara burung membuka gerbang kepada pengalaman atmosferik yang ingin diceritakan Goldan Tambayong dan Talitha Belinda Esmeralda di sepanjang 2 menit perjalanan lagu ini, menyisakan agresi rock dari menit 2:20 diulang terus sampai sepanjang 3:34 menit perjalanan lagu ini. Sebuah mukadimah yang top notch!.

Untuk selanjutnya, pengalaman-pengalaman serupa digerus lagi makin dan makin dalam dalam setiap ekspresi musik dihadirkan di album ini. “Belakangan Hidup Itu Utuh” misalnya. Saya tak bisa melupakan lick galak gitar di menit 1:12 dan bendingan delay di 1:46 menjadi racun lagu ini selain dari “Ikat tali sepatumu / Jangan tergelincir karenanya / Kunci pandanganmu / Kunci pandanganmu” , sebuah line yang punya kans menjadi lagu yang bisa dinyanyikan dan diamini bersama.

Nomor “Aku Butuh Apa Lagi” juga tak kalah menarik. Di sini, kita melihat bagaimana gemeretak-gemeretak beat yang muncul dari kuatnya unsur-unsur pop elektronik, kendaraan musikal mereka, di-gas sangat kuat di nomor ini. Saya pun tak mau berkomentar banyak soal kolaborasi dengan Iga Massardi di nomor “Semua Telah Terjadi” selain karena ini sudah menjadi single yang populer dan memang punya daya ledak dengar yang luar biasa.

Sebelas nomor di Rasa & Manusia, seperti yang dijelaskan di siaran pers mereka dibagi dalam empat fase siklus kehidupan manusia, dari Fase I: Birth & Creation, Fase II: Ego & Emotions, Fase III: Hardships & Conflicts dan Fase IV: Acceptance makin masuk akal ketika menyimak album ini berulang kali.

Dengan kekuatan eksplorasi kuat, saya makin percaya bahwa ambience punya kans untuk jadi senjata tersendiri dalam desain dalam rekaman-rekaman musik skena musik Indonesia. Pekerjaan rumah yang berat tinggal bagaimana menampilkan pengalaman atmosferik ini di atas panggung menjadikan sebuah pengalaman yang utuh dan sempurna.

____

Penulis
Wahyu Acum Nugroho
Wahyu “Acum” Nugroho Musisi; penulis buku #Gilavinyl. Menempuh studi bidang Ornitologi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, menjadi kontributor beberapa media seperti Maximum RocknRoll, Matabaca, dan sempat menjabat redaktur pelaksana di Trax Magazine. Waktu luang dihabiskannya bersama bangkutaman, band yang 'mengutuknya' sampai membuat dua album.
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Inline Feedbacks
View all comments
Russ
Russ
13 days ago

Penasaran laird, dimana bisa sapetin albumnya?

Eksplor konten lain Pophariini

“ISKAASHI”, Harmonisasi Semiotika dan Iga Massardi

Mengingat kembali kiprah Semiotika dan Iga Massardi, di tahun 2021 silam mereka merilis sebuah rilisan penuh yang tanggal perilisannya cukup berdekatan.

Marizka Juwita Rilis Single Baru tentang Perpisahan

Setelah bercerita tentang orang yang gampang jatuh cinta di single sebelumnya, kali ini Marizka Juwita mengeluarkan lagu soal perpisahan dengan seseorang.