Wawancara Bottlesmoker: Siap Menghibur Tanaman Di Konser Plantasia

172

Kalian penggemar berat Bottlesmoker? Kalian juga pecinta tanaman? Maka yang satu ini pasti menjadi satu kabar yang menggembirakan untuk kalian! Duo musisi elektronik asal Bandung ini baru saja mengabarkan bahwa pada tanggal 25 Juli mendatang, mereka akan menggelar sebuah konser offline!

Eh? Kok offline? Kan sekarang masih dalam masa pandemi? Memangnya boleh? Nah, jangan bingung. Konser yang mereka beri judul Plantasia ini memang mereka khususkan untuk para tanaman saja, selaras dengan tagline yang mereka usung, concert for your plants.

Ini menjadi satu lagi dari sesi eksperimental dari Bottlesmoker yang terbaru, setelah sebelumnya sempat melakukan beberapa show seperti sound bath, sound healing, hingga ecstatic dance. Kali ini, mereka melakukan eksperimen mengenai hasil penelitian tentang pengaruh musik untuk tanaman. Bottlesmoker akan mengadaptasi pola musik yang bisa meningkatkan pertumbuhan tanaman, kesuburan, warna daun, sel, dan lain sebagainya.

Kenapa ini offline, karena tanaman akan menangkap getaran dari musik secara langsung. Soal tanaman yang bisa turut mengikut Konser Plantasia ini, Bottlesmoker hanya mengkhususkan saja kepada jenis tanaman rumahan saja. Para audiens yang mengikutsertakan tanamannya juga mendapatkan akses ekslusif untuk menyaksikan streaming konser ini, di rumah masing-masing tentunya.

Mengenai serba-serbi Konser Plantasia ini, kami berbincang singkat dari ½ dari Bottlesmoker, Anggung “Angkuy” Suherman.

Ini menjadi satu lagi show yang menarik dari Bottlesmoker, setelah sebelumnya sempat beberapa kali mengadakan sesi eksperimental. Untuk Konser Plantasia sendiri, terinspirasi dari siapakah ide ini?

Jadi, si Konser Plantasia ini kalau ide awalnya sebenarnya adalah ide tentang konser sih. Maksudnya tuh, kami (Bottlesmoker) pengen bikin konser tapi di masa pandemi ini gimana ya. Karena kalau secara live streaming tuh kayaknya masih belum bisa memuaskan energi untuk memainkan musik secara online. Akhirnya nyari lah ide-ide untuk mengakali kondisi pandemi ini.

Sebelumnya, kami juga sudah beberapa kali mengeksplorasi medium tanaman di musik kami, terus akhirnya kita teringat dengan konsep “Pengaruh Musik Terhadap Tanaman”. Ada beberapa jurnal-jurnal penelitian tentang pengaruh tersebut. Kami baca-baca, terus jadi ingat lagi tentang musisi elektronik tahun 70an, Mort Garson. Dia memiliki album berjudul Mother Earth’s Plantasia, terus ada salah satu judul lagunya, “Plantasia”, dan cover albumnya pun tentang tanaman, musik untuk tanaman gitu.

Nah disitu, langsung kayak dikaitkan saja, wah ini bisa dijadikan ide untuk bikin konser di masa pandemi, audiensnya hanya tanaman saja. Akhirnya, kami melanjutkan bacaan-bacaan jurnal penelitian tentang pengaruh musik terhadap tanaman ini. Jadi, ada musik-musik khusus untuk bisa mempengaruhi pertumbuhan tanaman, kesuburan, untuk memperlancar produksi bunga, misalnya.

Akhirnya, kami mencoba eksperimen dulu dengan beberapa tanaman yang ada di rumah kita masing-masing. Dan ternyata memang tanaman tersebut bereaksi. Ini juga jadi ide yang menarik juga untuk kami, terhitung baru, karena musiknya juga berbeda banget dengan musik-musik yang sebelumnya kami mainkan, seperti belajar scale musik klasik, belajar tentang rumus-rumus musik repetitif, juga belajar tentang frekuensi hingga ke skala-skala tertentu untuk bisa mempengaruhi atau bisa diterima oleh tanaman dengan baik.

Jika bicara mengenai tanaman-tanamannya, kenapa hanya eksklusif untuk tanaman rumahan saja?

Sejauh ini, kami baru mencoba musik untuk house plant. Jadi di jurnal-jurnal itu juga dijelaskan bahwa ada spesifikasi musik khusus tanaman, misalnya kayak sayuran, buah-buahan, atau yang mediumnya air. Jadi, selama ini yang baru kita coba dan belajar eksplorasinya baru tanaman rumahan sih. Memang spesifik musiknya khusus untuk itu.