184

Catatan Retrospektif Album “Retropolis” Dari Naif

Selain karya Anggun Priambodo, sekarang mata dia sudah plus, kita bisa melihat karya Indra Ameng (salah seorang dari kolektif Ruangrupa, kurator, seniman, mantan manajer Rumahsakit, manajer White Shoes And The Couples Company)  dalam video “Pujaan Hati”. Di saat rekan-rekannya sibuk dengan perkara syuting, Indra Ameng terus memotret untuk nantinya dijadikan video stop motion. Salah satu model di video ini adalah Hahan, seorang seniman dari Yogyakarta yang karya-karyanya juga dekat dengan artistik “modern masa lalu Indonesia”.

Henry Foundation (seniman, The Jadugar, Be Quiet, Goodnight Electric, Frigi Frigi) menggarap video musik “Gula Gula”, pastinya melibatkan pendekatan visual psikedelia. Bimbo (editor kawakan) menggarap “Benci untuk Mencinta”, sementara Tony Tandun (Satellite of Love, desainer banyak sampul album era 1990an dan 2000an, DJ) membuat video musik “Nanar”.

Baca juga:  Santa Monica dan 10 Tahun Curiouser

Selain memanfaatkan set yang tersedia, keputusan Naif mengajak lima teman IKJ sekaligus untuk menggarap lima video musik yang berbeda bahkan lebih berhubungan dengan “suasana seni terbaru” yang terjadi pada empat belas tahun silam. Di masa itu, The Jadugar sedang bersinar dengan video musik-video musik mereka yang dipancarkan oleh MTV dan mendapat banyak perhatian anak muda. Bimbo banyak meng-edit video The Jadugar. Inisiatif seniman Ruangrupa di Jakarta, di mana Indra Ameng berada di sana, telah memasuki tahun kelima mereka dan kiprahnya semakin dikenali. Sementara porto folio Tony Tandun dari Satellite of Love, dengan beragam sampul album ikoniknya (yang seringkali menggunakan lipatan kertas sampul yang banyak dan penuh), jelas tak diragukan.

Baca juga:  Lebih Dekat dengan Dekat Lewat Numbers

Lima video musik sekaligus dari album Retropolis milik Naif tidak hanya merekam rupa dan musik mereka di masa itu, tapi juga suasana berkesenian melalui medium video musik di televisi Indonesia pada sebuah era, yang hanya dalam beberapa tahun setelah 2005 telah jauh berganti rasa.

Retropolis ditutup dengan “Voor Moedoer” yang terdengar bak kemegahan lagu pengiring untuk menutup layar panggung pertunjukan. Saat pita kaset habis, empat belas tahun lalu, saya mengganggap album ini boleh juga, begitu juga kadar kepuasan saat diputar via internet hari ini. Retropolis menarik untuk terjadi, walau buat saya tak sedahsyat tiga pendahulu dan satu album penerusnya, Televisi.

Baca juga:  Ibu Kartini di Dekade Musik Indonesia

Tahun-tahun Naif bersama Bulletin Records layaknya kembali bertemu jejak-jejak permata musik populer di label mainstream Indonesia, tahun-tahun terakhir sebelum rilisan fisik sepenuhnya drastis menyusut, dan segala di peta menjadi benar-benar berubah derajatnya.

Sementara aksi Naif tampak segar bugar, nama mereka masih jadi jaminan pertunjukan, seperti tak mau jatuh bagai tertulis dalam lirik “Gula Gula”.

 

_____