Cerita Dari Pesta Rakyat Banda Di Maluku

526
Tarian Cakalele.

Minggu siang itu saya mendapat kabar mendadak untuk berangkat menuju “Pesta Rakyat Banda” yang diadakan selama sebulan penuh di sana. Saya akan menghadiri sebuah festival yang dibuat dengan tujuan kembali meramaikan Banda agar kembali dikenal dunia. Mengapa saya memakai kata ‘kembali’ karena ketika pada tahun 1500-1800 dulu, Banda sudah dikenal dunia karena buah Nutmeg-nya yang kita kenal juga dengan sebutan buah Pala. Buah rempah-rempah kecil yang menjadikan bangsa-bangsa di Eropa mulai dari Portugis, Inggris sampai akhirnya Belanda memperebutkan Banda.

Banda adalah pulau kecil yang berada di Maluku. Salah satu surga bawah laut terbaik di Indonesia bagi para pecinta olahraga selam. Meskipun lebih banyak orang yang mengenali Raja Ampat, Labuan Bajo atau bahkan Bali. Sebagai sebuah bandar, Banda pada masa keemasaannya dulu selalu penuh dan sibuk. Namun sekarang menjadi sunyi dan sepi. Bahkan banyak orang Indonesia yang tidak tahu dimana itu Banda.

Buat saya pribadi Banda itu sangat indah dan sarat akan sejarah serta masih banyak terdapat rumah-rumah bergaya kolonial. Lengkap dengan gereja tua, benteng dan rumah-rumah pengasingan para tokoh pendiri negara ini. Seperti Bung Hatta, Bung Syahrir, Dr. Tjipto Mangunkusumo dan Iwa Kusumasumantri. Selain kaya akan sejarah, Banda juga menyimpan surga dunia bawah laut yang sudah terkenal oleh para penyelam dari luar Indonesia, sebut saja nama legendaris dunia bawah laut Jacques Cousteau yang pernah menyelam di Laut Banda.

Ini kali kedua saya mengunjungi Banda, kali ini saya datang untuk sambil memberikan workshop bermusik untuk anak-anak di sana, sambil mengikuti beberapa rangkaian acara lainnya yang telah dibuat oleh panitia. Berikut beberapa kegiatan Pesta Rakyat Banda yang sempat saya hadiri dan abadikan dengan kamera saya bersama dengan teman-teman dari IWasHere Network.

Benteng Belgica peninggalan bangsa Portugis yang dibangun sekitar abad 16, lalu direnovasi oleh pihak VOC pada tahun 1662, setelah mengalami beberapa kali pemugaran kini benteng tersebut masih berdiri dengan kokoh menjadi saksi bisu sejarah kelam di Banda.

Pesta pembukaan ‘’Pesta Rakyat Banda 2017’’ yang dibuka dengan Tari Cakalele yang bertempat di Benteng Belgica. Tari Cakalele pada awalnya adalah sebuah tarian perang atau tarian yang digunakan untuk menyambut tamu dalam acara adat.

Saya memberikan workshop musik bersama anak-anak Banda. Dimulai dengan mencari nada dan dilanjutkan dengan melempar pertanyaan kepada mereka untuk menyebutkan satu kata yang paling mereka cintai dari Banda, yang kemudian dirangkum untuk menjadi sebuah lirik lagu.

Gereja Banda Naira adalah salah satu ikon kebanggaan dari kota Banda. Gereja yang dibangun oleh Portugis di tahun 1500 itu kembali di kembangkan pembangunannya oleh Belanda di tahun 1600. Namun karena gempa besar gereja tersebut hancur, dan dibangun kembali pada tahun 1852. Dan akhirnya gerejat itu berdiri kokoh sampai  sekarang. Di era kolonial gereja itu diberi nama ‘’Hollandiche Kerk’’ yang artinya Gereja Tua.

Pameran foto karya Muhammad Fadli yang mengambil tempat di sudut jalan menuju lapas di kota Banda.

Pameran sketsa lukisan oleh anak-anak dan remaja. Bagian dari Pesta Rakyat Banda 2017 di Gedung Schelling.

Workshop musik kali ini bertempat di Hotel Maulana sebuah hotel legendaris milik Des Alwi. Anak angkat dari Bung Hatta semasa beliau diasingkan dan hidup di Banda pada tahun 1935.