Daftar Festival Musik Dengan Lineup yang Nggak Itu-itu Saja

Aug 14, 2022

Festival musik mana yang lineupnya nggak itu-itu saja? Pertanyaan menarik. Mengaca pada tulisan dengan topik serupa milik Zara Zahrina yang ramai beberapa minggu kemarin membuat saya jadi kepikiran untuk mencari apakah benar-benar ada festival yang line upnya berbeda dengan yang biasanya.

Sebelumnya saya mau memberikan pandangan. Kenapa sih festival musik yang sudah dan akan digelar di akhir tahun ini menampilkan lineup yang itu-itu saja? Menurut hemat saya, kemungkinan besar akibat keran konser yang sudah dibuka pasca pandemi yang dilonggarkan ini membuat para festival-maker berlomba untuk mendapatkan pundi-pundi atensi sekaligus finansial yang banyak dengan cara memasang nama-nama top di musik Indonesia yang sayangnya, eksesnya adalah lineup yang itu-itu saja.

Di sisi lain, saya mengerti jika ada kekuatiran bagi penyelenggara festival apakah musisi yang diluar dari radar mereka bisa mendatangkan banyak perhatian bagi festival goers. Saya pernah melihat bagaimana aksi-aksi bagus menurut saya namun berakhir tragis dengan hanya sebagian penonton di tiga barisan depan yang berdiri dan mengapresiasinya. Jadi saya bisa menerima jika ada pola homogen bagaimana festival mencari cara untuk menjadi festival yang berkarakter sekaligus menguntungkan.

Festival Musik Flavs

Namun tetap saja saya akan mengapresiasi beberapa festival yang mampu dan berani menghadirkan nama-nama, baik nama-nama baru atau lama di industri ke dalam line upnya. Synchronize Festival tahun ini misalnya, mereka berani memasang nama-nama seperti Gabber Modus Operandi, Agnez Mo bahkan sampai membuat band seperti Payung teduh kembali sepanggung dengan Pusakata mereka untuk ditampilkan pertama kali di sini. Joyland Festival awal tahun lalu juga punya semangat yang sama ketika mereka menampilkan Senyawa di panggung utama. Atau Festival seperti Flavs yang hadir membawa semangat hip-hop, soul dan R&B ke dalam lineupnya. Dan masih banyak festival lainnya dengan line up yang sebetulnya tidak itu-itu saja.

Sedikit flashback ke lebih kurang dua dekade lalu, kiat melihat festival elektronik seperti Parkinsound di Jogja yang menjadi rumah tahunan bagi puluhan lineup musisi elektronik lintas geografis yang merayakan musik dan eksperimentalnya. Sebuah pemandangan yang mungkin jarang sekali ditemukan hari ini.

Meski demikian, festival musik, dalam skala apapun, tetap harus mendatangkan profit. Maka adalah wajar menurut saya jika terselip satu dua atau lebih nama yang terkesan yang itu-itu saja ke dalamnya. Yang mungkin penting diperhatikan adalah bagaimana mereka menyelaraskan komposisi antara nama-nama yang besar dengan wajah wajah baru di festival. Dan ini tidak melulu musisi side stream seperti yang dicontohkan Zara di Pink Lemonade, namun menurut saya justru bisa berupa nama-nama besar di industri yang memang jarang muncul di festival.

Lewat tulisan ini, saya mencoba merangkum beberapa festival yang punya lineup yang memenuhi kategori tidak itu-itu saja.

 

Playlist Live

Di urutan pertama, saya harus akui bahwa Playlist Live Festval 2.0 garapan dari Djojokarsono Group sebagai contoh yang pas bagaimana festival dengan lineup yang tidak itu-itu saja. Bagaimana tidak? Kita lihat karakter festival throwback 90s – 2000s yang kuat dari taburan bintang yang ada di sana. Kita lihat bagaimana band-band seperti Hijau Daun, Element sampai Repvblik muncul kembali. Bagaimana ‘turunan dari Dewa19’ dari The Lucky Lacky, Ari Lasso, The Virgin, Virzha, dll berada dalam satu line up. Sisanya adalah nama-nama yang layak buat dilihat.

 

NW Live

NW Live adalah kepanjangan dari Noisewhore Live, sebuah konser musik yang berubah menjadi festival musik 2 hari yang sudah digelar sejak 2016 oleh Noisewhore, sebuah zine yang berubah menjadi blog yang kemudian berkembang menjadi promotor acara musik, dengan sukses mendatangkan band-band bawah tanah macam Homeshake hingga A Place to Bury Strangers. Sejak event pertama yang digelar 2 hari, mereka memberikan spot untuk band-band arus kiri, dari  Moonbeams, Indigo Moiré, Bedchamber, Low Pink, Kaveman, Sirati Dharma, Saturday Night Karaoke, taRRkam dan masih banyak lagi. Sampai gelaran terbarunya di tahun ini, mereka masih konsisten menampilkan lineup yang tak biasa di tengah nama besar seperti Goodnight Electric dan Tuan Tigabelas di sana.

 

Archipelago

Archipelago memang bukan sekadar festival yang biasa. Ini adalah festival yang menu utamanya adalah music conference mengundang ‘lineup’ pembicara yang menarik dari tiap tahunnya, dari musisi, penulis, bos label, dll. Dari hanya berpusat di Soehana Hall, sampai akhirnya musik showcasenya dibuat terpisah di deretan venue kecil di Taman Kemang, menjadi pengalaman berfestival yang menarik. Dari departemen musik, di beberapa mereka membuka kesempatan buat menjadi satu dari pertama menghadirkan nama-nama yang di luar radar, meskipun beberapa mungkin sudah melesat jadi rotasi utama seperti Feast. Namun menyaksikan lineup lain seperti Jangar, Senyawa, Zat Kimia, Onar, Afrikan Boys adalah pengalaman yang berkesan.

 

RRREC Fest 

Sebelum akhirnya populer dengan nama RRREC Fest In The Valley, sebagai sebuah festival yang mengedepankan camping dan musik yang digelar oleh kolektif seniman Jakarta, Ruang Rupa, RRREC Fest yang digelar sejak 2011 sudah jalan dengan menampilkan beragam band inspiratif lintas genre dan geografis yang menangkap jaman saat itu yang digelar dari satu tempat di Galeri Nasional hingga tersebar di beberapa venue di kawasan Cikini. Pada 2014, mereka mulai membawa festival ini ke alam, panggung-panggung diset di tengah-tengah tenda camping di kawasan Situgunung, Sukabumi. Berbagai menu di luar musik pun digelar, dari diskusi, workshop, dll. Fokus lineup tetap sama, mencari dan menghadirkan nama-nama unik dan inspiratif yang mungkin belum pernah dimainkan oleh festival lain sebelumnya atau mengambil pola nama-nama populer namun dimainkan di atmosfer yang berbeda.

 

Rock in Celebes

Di skena musik keras, saya harus menjatuhkan pilihan saya kepada festival rock di pulau Sulawesi ini. Dari sejak digelar tahun 2010 silam hingga sekarang, festival ini terus berkembang. Di tahun 2015 bahkan mereka membawa festivalnya keliling di Sulawesi, menghadirkan nama-nama besar sambil menghadirkan talenta-talenta baru musik rock di kota-kota yang mereka singgahi seperti Palu, Kendari, Makassar, Gorotalo sampai ujung Manado. Festival ini menjadi contoh pemberdayaan nama-nama emas yang tersimpan di sudut-sudut daerah yang belum terlalu terjamah untuk kemudian diberikan panggung dan dinikmati oleh khalayak ramai.

 

Pica Fest

Jika boleh menyebutkan satu nama festival musik di Bali yang muncul dan men-cherish semangat ke-lokalannya, maka Pica Fest adalah satu diantara festival terbesar yang ada. Festival yang memadukan antara clothing fest, produk UMKM dan musik sebagai sajian utama ini berupaya buat memberi panggung buat aksi-aksi spektakuler Bali. Nama-nama seperti Joni Agung, Lolot, Soulfood, Navicula, Rollfast, Mukarakat, Tjok Bagus, adalah beberapa dari sekian nama lokal yang bermain di panggung-panggung yang ada di festival ini. Layak diapresiasi!

 

Untuk mencegah kecurigaan, saya juga menyebutkan beberapa nama festival menarik dengan lineup yang sedikit berbeda dengan yang kebanyakan, diantaranya The Other Festival, Folk Music Festival sampai 90s festival yang mengedepan throwback, semua layak mendapatkan apresiasi untuk menampilkan line up yang berbeda dari biasanya.

Penulis
David Silvianus
Mahasiswa tehnik nuklir; fans berat Big Star, Sayur Oyong dan Liem Swie King. Bercita-cita menulis buku tentang budi daya suplir
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

Senin Malam yang Seru di Irama Kotak Suara Live!

Setelah sukses menggelar Irama Kotak Suara Live! pertama September lalu, Pophariini kembali hadirkan musisi Irama Kotak Suara di seri kedua IKS Live! ini.

Satine Zaneta – Tentang Waktu (EP)

Sebagai sebuah EP debut, Satine Zaneta menyanyikan lima nomor di dalamnya dengan sederhana dan juga tampak puas dengan mencurahkan ragam perasaannya.