827

Debut Album ROXX dan Perayaan Metal Indonesia

ROXX. foto: dok.istimewa

Ketika tersiar kabar bahwa ROXX akan merilis album debutnya, sepertinya itulah pertama kalinya “anak-anak aneh”—mereka yang menyukai musik rock/metal yang ekstrem– menunggu sebuah kaset rilisan lokal.

Mari kembali dahulu ke era kaset 1980an. Kala itu kaset-kaset Barat apa pun di Indonesia dijual masih tanpa izin dari label asalnya. Karena itu, segala musik dari Barat dirilis dengan sangat leluasa. Di sana ada jazz, pop, dan tentu saja rock! Di antara itu, ada mereka yang memilih untuk menikmati musik yang lebih keras lagi. Dalam perayaan heavy metal yang dipilih oleh tidak terlalu banyak anak muda, dengan band-band semacam W.A.S.P., Saxon, Krokus, Iron Maiden, dan Judas Priest, kaset Metallica sesungguhnya sudah mulai beredar pula. Tapi nama Metallica sama sekali bukan pilihan popular bagi mereka yang tidak memilih musik popular.

Baca juga:  Kampungan Versus Gedongan: Bagaimana Selera Musik Kelas Menengah di Indonesia Terbentuk?

Kenapa? Karena Metallica terlalu keras atau terlalu rumit, atau lebih tepatnya akibat gabungan keduanya. Mungkin, ya. Sebenarnya saya tidak punya terlalu banyak contoh kasus untuk pernyataan ini. Namun cerita anak-anak ROXX sendiri di sebuah majalah menyatakannya, ketika drumer sekaligus motor band mereka, Arry Yanuar di tahun 1987 memutarkan album Master of Puppets kepada rekan-rekan band-nya. Para personil ROXX sekalipun pada awalnya tak bisa menerima musik Metallica! Tapi karena Arry meminta, jadilah ROXX pada 1987 untuk pertama kalinya menyertakan “Master of Puppets” di dalam reportoar panggung mereka.

Mirip dengan yang terjadi pada saya ketika pertama kali mendengar Metallica dari album … And Justice For All, dampaknya pun serupa: “Musik apa ini??”

Baca juga:  30 Tahun Fariz RM Merilis Living in the Western World

Namun saya ada di periode yang berbeda. Saya menyimak Metallica pada 1989, lebih terlambat dari mereka. Saya membeli kaset Metallica karena penasaran dengan sebuah obrolan yang secara tak sengaja tertangkap telinga. Saya kelas 6 SD waktu itu, kala ada sekelompok kecil “bocah-bocah remaja awal” yang menyebut-nyebut klub bernama Pid Pub, musik bernama thrash metal, band mutakhir bernama Metallica, dan jagoan lokal bernama ROXX yang kerap membawakan lagu-lagunya. Oke, saya harus cari musik Metallica. Dan hasil awalnya, seperti yang telah diceritakan di atas. Tapi saya sudah merasa kepalang. Kaset itu akhirnya terus-terusan saya putar, sehingga mulai bisa menemukan “enaknya di mana”—sebuah awal yang bahaya untuk bisa jatuh hati dan sulit melepasnya lagi.

Baca juga:  Banyak Jalur Menuju Tur

Secara kebetulan juga, tak lama setelah membeli kaset Metallica, di suatu hari saat pergi ke supermarket Dwima di kawasan Pondok Indah, saya melihat anak-anak muda gondrong sedang berkumpul di depan sebuah pub. Di sini ternyata letaknya Pid Pub, tempat ROXX kerap bermain bersama band-band rock/metal lainnya. Dan gondrong, selain mengisyarakatkan menyukai rock, juga memberi gambaran bahwa nampaknya mereka sudah kuliah.