‘Firasat’, Nyanyian Sendu Punk Rocker dari Sundancer

Apr 13, 2020
Sundancer

Tepat di hari diberlakukannya kebijakan PSBB di wilayah DKI Jakarta oleh pemerintah pusat pada Jumat (10/04), duo garage punk/rock dari Lombok, Sundancer merilis single terbarunya bertajuk “Firasat”. 

Melanjutkan kerjasama dengan Lamunai Records, single kedua ini menjadi bagian dari mini album yang di rencakan akan rilis pada pertengahan tahun ini. Setelah sebelumnya tampil ugal – ugalan di debut EP Musim Bercinta (2018) dan heroik di single Pusaka Abadi (2019).

Mendengarkan single “Firasat”, kami dibuat terkejut. Alih-alih mendambakan gebrakan punk rock ugal-ugalan khas Sundancer, kami justru disuguhkan kepada sebuah pop balada bernuansa 60-an. Sebuah komposisi yang andai ditulis oleh Phil Spector dengan alat perekam mono demi mendapatkan sensasi wall-of-sound.

Yang menariknya, musik dari lagu ini ditulis oleh almarhum Bagus “jalang” Wiratomo. Beliau dikenal sebagai musisi sekaligus scenester asal Jogja yang tergabung dengan sebuah band punk bernama Mortal Combat.

https://www.instagram.com/p/B-1zFDbnmR4/

Saking terkenangnya dengan lagu ini, Decky Jaguar dan Om Robo lantas mengaransemennya dan membawa lirik ke dalamnya sehingga menjadi sebuah lagu “Firasat ini”.

Suasana Everly Brothers bertemu The Ronettes atau The Jesus And Mary Chain via “Just Like Honey” yang kerap familiar lewat film Lost In Translation sangat nyata tergambar jelas di single ini. Aroma gula-gula yang tergambar lewat sayatan distorsi gitarnya akan memberi pendengarnya penyakit diabetes dan kencing manis jika didengarkan terus menerus.

“Single ini tentang seorang pria yang berpegang teguh akan nilai-nilai yang di yakininya, kisah seorang punk rocker saat patah hati atau sekedar menjadi teman disaat sendu dan pelik nya keadaan kita sekarang,” kata Sundancer.

Buat fans setia Sundancer yang familiar dengan track-track ngebut dan distorsi penuh dan kotor ala mereka, siap-siap terkejut.

____

Penulis
Wahyu Acum Nugroho
Wahyu “Acum” Nugroho Musisi; penulis buku #Gilavinyl. Menempuh studi bidang Ornitologi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, menjadi kontributor beberapa media seperti Maximum RocknRoll, Matabaca, dan sempat menjabat redaktur pelaksana di Trax Magazine. Waktu luang dihabiskannya bersama bangkutaman, band yang 'mengutuknya' sampai membuat dua album.

Eksplor konten lain Pophariini

20 Tahun Album Padi, “Sesuatu Yang Tertunda”

Di umurnya yang sudah dua dekade, Sesuatu Yang Tertunda milik Padi masih tetap menjadi sesuatu yang indah.

16 Pertanyaan: Rasya

Kemunculan Rasya yang menyita perhatian saat ia membawakan lagu cover “Don’t Look Back in Anger” milik Oasis di Instagram @generasi90an.