1611

Gesekan di Blantika Musik Indonesia dalam Tinjauan Sejarah

Jika ditarik mundur ke tahun sebelumnya, gesekan-gesekan di ranah maya ini bukan sekali saja terjadi. Ketika grup pop punk Pee Wee Gaskins meraih hype lewat distribusi materi lagu-lagu lewat platform MySpace, muncul kelompok yang menamakan Anti Pee Wee Gaskins (APWG). Selain merisak Dorks (fans Pee Wee Gaskins) di dunia maya, APWG ini termasuk punya modal untuk melancarkan aksi. Mereka datang ke konser-konser Pee Wee Gaskins dan membeli karcis resmi hanya untuk mencemooh penampilan Dochi dan kawan-kawan. Salah satunya pada Soundrenaline 2009 di Garuda Wisnu Kencana, Bali. Tapi seperti tipikal kegaduhan-kegaduhan di media sosial, saat ini gaungnya sudah nyaris tak bersisa.

Anti Pee Wee Gaskins / dok. Pee Wee Gaskins

Bagaimana dengan gesekan-gesekan di dekade-dekade pra-internet?

Pola-pola gesekan

Menilik catatan sejarah, ada tiga pola umum yang terjadi dalam kurun waktu tersebut. Pola pertama adalah gesekan dalam lingkup genre musik. Baik gesekan antar-genre atau antarpelaku dalam satu genre musik.

Baca juga:  Mods Indonesia Merayakan Hari Buruh

Benny Soebardja dan Rhoma Irama masih jadi kisah klasik perseteruan genre rock dan dangdut sekaligus penyelesaian yang paling elegan. Dalam sebuah artikel di majalah Aktuil di pertengahan tahun 70-an, genre rock yang “diwakili” oleh Benny Soebardja (The Giant Step) mencela musik dangdut sebagai “musik tai anjing”. Rhoma kemudian membalas dengan menyatakan musik rock sebagai “terompet setan” lantas menyindir lewat lagu berjudul “Musik”. Bagi pemusik yang anti-Melayu/Boleh benci jangan mengganggu// Biarkan kami mendendangkan lagu/Lagu kami lagu Melayu//

Rhoma Irama dan Benny Soebardja / dok. istimewa

Sempat diwarnai adu fisik antara dua kubu penggemar, Aktuil lantas mempertemukan dua dedengkot ini dalam forum diskusi “Diskusi Musik Hard Rock vs Dhangdut”. Meski Si Raja Dangdut urung hadir, forum ini berhasil membuka jalan mediasi. Terlebih akhirnya diketahui kalau Benny Soebardja dan Rjoma Irama sama-sama urang Tasik. Sebagai semacam penebusan dosa, Benny dan grupnya kemudian berduet dengan penyanyi dangdut Lies Saodah dan memasukkan unsur-unsur pembentuk musik dangdut seperti tabla dalam solo albumnya, sebagaimana ditulis oleh Denny Sakrie. Sementara Rhoma memasukkan nafas rock serupa Deep Purple lewat “Santai”. Beberapa tahun kemudian Soneta Group sukses berbagi panggung dengan God Bless.

Benny Soebardja dan Rhoma Irama masih jadi kisah klasik perseteruan genre rock dan dangdut sekaligus penyelesaian yang paling elegan.

Di dekade yang lebih muda, masih diingat Sheila On 7 harus merasakan cemoohan hanya gara-gara mereka populer dengan lagu-lagu pop yang jauh lebih simpel dari Dewa 19, Slank, atau KLa Project. Datang dari daerah, hanya bermodalkan lagu yang bertengger di chart radio lokal, tidak punya koneksi ke komunitas sementereng Potlot atau tokoh yang disegani, tiba-tiba membuat geger siapapun dengan kesuksesan album debut diikuti dua album setelahnya. Di kampung halamannya sendiri, sempat beredar sticker dan kaos berisi hinaan dan cercaan buat Duta dan kawan-kawan. Di Surabaya, bassist Adam Subarkah pernah diacungi hari tengah dan dikata-katai sebagai musisi banci. Puncaknya adalah saat Edi Brokoli memakai kaos “F**k Sheila On 7”. Karirnya yang mulai merangkak naik seketika game. Belum cukup, aktor senior Tio Pakusadewo balas membuat sablonan jaket “Edi Brokoli T*i”. Tapi itu belum selesai. Di Soundrenaline 2002 di Bandung, penonton sempat melempari cah-cah Jogja itu dengan botol air mineral. Boleh jadi ada sentimen kesukuan mengingat sosok nJawani dan medok seperti Sheila On 7 ini kerap menjadi bahan cibiran di daerah metropolis seperti Jakarta dan Bandung.