1611

Gesekan di Blantika Musik Indonesia dalam Tinjauan Sejarah

Cerita berbeda dialami Rhoma Irama. Jika sebelumnya Satria Bergitar mendapat cercaan dari genre lain, kali ini giliran Bang Haji memberi komentar miring terhadap biduan di kancah musik dangdut. Awal tahun 2003 Inul Daratista mendapat lampu sorot dari media nasional akan aksi Goyang Ngebor. Bang Haji menyatakan kegerahannya karena menganggap penyanyi bernama asli Ainur Rohimah ini telah menodai citra dangdut yang selama ini telah ia bangun. Ia menyebut Inul telah “melemparkan dangdut ke comberan” setelah lagu Inul membawakan “Cincin Kawin” ciptaannya dengan tambahan Goyang Ngebor. Seperti yang diberitakan di Majalah Tempo

Puncaknya adalah saat Edi Brokoli memakai kaos “F**k Sheila On 7”. Belum cukup, aktor senior Tio Pakusadewo balas membuat sablonan jaket “Edi Brokoli T*i”.

Bang Haji yang berang bahkan mengajak Paguyuban Artis Musik Melayu Indonesia (PAMMI) untuk meminta stasiun televisi memboikot Inul. Inul, yang berangkat dari sirkuit musik dangdut Tapal Kuda Jawa Timur, mendapat dukungan di sana-sini. Mulai dari seniman senior Titiek Puspa hingga Gus Dur. Juga melahirkan kelompok pendukung bernama FBI yang bukan berasal dari Amerika Serikat, melainkan Fans Berat Inul. Selang tiga tahun kemudian, gesekan ini kembali memanas saat rapat dengar pendapat pembahasan RUU Pornografi dan Pornoaksi di DPR.

Baca juga:  Bukan City Pop Indo, Tapi Indo Pop Urban
Inul Daratista / dok. istimewa

Di profil usia yang lebih muda, gesekan internal antarpelaku dalam satu kancah pergerakan yang paling diingat adalah saat Superman Is Dead menandatangani kontrak dengan label rekaman raksasa Sony Music Indonesia pada tahun 2003. Bergabungnya punk ke korporasi dianggap sebagai aib yang tidak bisa dimaafkan, oleh beberapa pelakunya. Tuduhan ini kemudian dibumbui dengan isu-isu rasial seperti tato F**k Java di tubuh Jerinx.

Dalam biografi Rasis, Pengkhianat, Miskin Moral (2015) yang ditulis Rudolf Dethu, intimidasi buat tiga sekawan itu terjadi jelang peluncuran Kuta Rock City pada bulan Maret 2003 yang menjadi episode pertama Superman Is Dead bersama major label. Panggung acara musik yang disponsori oleh sebuah produk apparel olahraga skateboard di Surabaya menjadi sasaran amuk massa yang “dikomandani” oleh sesama penggerak musik bawah tanah. Apapun yang bisa dijangkau, jadi sasaran lemparan ke panggung beserta makian-makian multibahasa.

Baca juga:  30 Tahun Fariz RM Merilis Living in the Western World
Superman is Dead dan Rudolf Dethu era 2000an / dok. istimewa

Ricuh berlanjut di Medan dan Yogyakarta pada Mei 2003. Sebelum Superman Is Dead manggung di kampus USU, punk rocker lokal yang kontra dengan Superman Is Dead sempat menyebarluaskan selebaran propaganda “Menjadi rockstar adalah hal biasa sedangkan menjadi punk rock star adalah sebuah pengkhianatan”. Malamnya, misil batu, botol, tiang bambu, sampai air comberan berterbangan ke panggung. Klimaksnya adalah saat seorang penonton berdiri di barikade, membuka resleting celananya, lalu masturbasi.

gesekan internal laku dalam satu kancah pergerakan paling diingat adalah saat Superman Is Dead menandatangani kontrak dengan label rekaman raksasa Sony Music Indonesia tahun 2003

Sementara konser sehari setelahnya di kampus UPN Veteran Yogyakarta berubah jadi ajang olahraga tolak peluru. Sebelumnya, poster dan baliho publikasi konser yang dipasang di beberapa titik Kota Pelajar itu disabotase. Di pertengahan konser tiba-tiba ada seorang penonton pingsan. Kru kemudian mengevakuasi ke samping panggung. Tapi ternyata itu hanya akal bulus. Penonton dengan dandanan punk yang begitu total itu sontak berdiri dan mengayunkan tinju ke arah vokalis dan gitaris, Bobby Kool. Tinjunya hanya mengenai angin, tapi sepakan dari Dethu yang kala itu masih jadi manajer mereka, sukses mendarat di muka tersangka.