1611

Gesekan di Blantika Musik Indonesia dalam Tinjauan Sejarah

Pola gesekan kedua adalah antara musisi dengan organisasi kemasyarakatan. Yang paling sering terjadi adalah masalah interpretasi teks visual. Tahun 2004, Iwan Fals diprotes oleh organisasi agama Hindu gara-gara ilustrasi Dewa Wisnu di sampul album Manusia ½ Dewa garapan Uthe yang dianggap melecehkan agama Hindu oleh Forum Intelektual Muda Hindu Dharma

Sampul album Manusia 1/2 Dewa Iwan Fals

Selang satu tahun, giliran Dewa diprotes oleh Front Pembela Islam. Tuduhannya: desain logo di album Laskar Cinta rilisan tahun 2004 dianggap mirip dengan kaligrafi berlafazkan Allah. Apalagi saat acara on-air di sebuah stasiun televisi swasta, logo itu diinjak-injak selama acara oleh personel-personel Dewa. Ahmad Dhani kemudian memutuskan untuk memodifikasi logo yang dibuat oleh Tepan Cobain tersebut namun menolak kalau tindakannya ini disebut untuk memenuhi tuntutan FPI.

Sampul album Dewa – Kasjar Cinta

Episode Inul versus Rhoma juga masih terkait dengan pola gesekan di tataran ini. Perkara goyang ngebor melebar sampai tingkat organisasi Majelis Ulama Indonesia. Ketua Majelis Fatwa MUI, K.H Ma`ruf Amin menyatakan goyang ngebor Inul haram karena menampilkan gerakan yang erotis. Andrew Weintraub dalam Dance Drills, Faith Spills’: Islam, Body Politics, and Popular Music in Post-Suharto Indonesia yang terbit di jurnal Popular Music Vol. 27 No. 3 menyebutkan, fatwa haram ini membuat beberapa pihak menyerukan boikot atas penampilan Inul, seperti MUI Solo dan Majelis Mujahidin yang berbasis di Yogyakarta.

Baca juga:  Pangalo! Dan Katalog Funk Indonesia Yang Malu-Malu

Pola gesekan berikutnya terjadi dalam skala yang lebih besar terjadi antara musisi dengan perangkat negara. Konflik-konflik horizontal ini terjadi saat kontrol negara atas rakyatnya menunjukkan tanda-tanda absolut. Dijebloskannya Koes Bersaudara ke penjara Glodok tahun pada  24 Juni 1965 kaena perkara musik ngak ngik ngok seperti jadi babak awal yang diteruskan ke rezim setelahnya.

Meski Orde Baru tidak antipati pada produk-produk Barat, bukan berarti pengekangan negara pada aspek kreativitas bermusik menjadi kendor. Kontrol tetap ada, bahkan hadir dalam rupa yang makin beragam. Soeharto tidak seperti Soekarno yang mengekang dengan tangannya sendiri. Pembantu setianyalah yang melaksanakan dengan baik petunjuk daripada Bapak Presiden.

Baca juga:  Perjalanan Band Metal Indonesia Di Panggung Wacken Open Air

Hati Yang Luka dan kepribadian bangsa

Sebagai pemegang kuasa kegiatan propaganda media, Harmoko pernah mencekal Rhoma Irama, Bimbo, hingga Elpamas tampil di TVRI karena bertentangan dengan jargon sakti stabilitas nasional dan kepribadian bangsa. Namun pencekalan daripada Harmoko yang paling diingat sudah barang tentu adalah perkara “Hati Yang Luka” yang dinyanyikan Betharia Sonata.

Tanggal 11 Januari 1988 adalah perilisan perdana lagu karya Obbie Mesakh tersebut. Tanda-tanda lagu ini akan mencetak hits terlihat sejak hari keempat perilisan. Philips Yampolsky dalam “Hati Yang Luka”, an Indonesian Hit yang dimuat dalam jurnal Indonesia Cornell University Press vol. 47 menyebutkan “Hati Yang Luka” tidak perlu menunggu lama untuk diputar di Aneka Ria Safari, sebuah variety show di TVRI besutan pelawak Eddy Sud.

Baca juga:  Mods Indonesia Merayakan Hari Buruh

Tampil di Aneka Ria Safari ibarat tiket emas untuk musisi. Selain kenyataan bahwa TVRI saat itu jadi satu-satunya stasiun televisi, yang otomatis berpengaruh besar pada pembentukan selera, Aneka Ria Safari adalah salah satu cara menembus lingkaran kekuasaan Orde Baru. Awalnya Aneka Ria Safari, yang dibentuk bersama Ketua Departemen Seni dan Budaya DPP Golkar Bucuk Soeharto, diniatkan sebagai solusi keprihatinan nasib musik Indonesia yang tak bisa jadi tuan rumah di negerinya sendiri. Tapi ujung-ujungnya malah jadi corong penguasa supaya rakyat mencoblos pohon beringin di surat suara juga ajang bancakan bagi rekanan-rekanan bisnis.