I Love You But I’m Letting Go: Ode Untuk Clubhouse

731

Salah satu manusia unik yang dunia ini miliki, pendiri Tesla, sekaligus musisi EDM yang pernah merilis lagu dengan title ‘Don’t Doubt Ur Vibe’, Elon Musk adalah figur yang meroketkan nama Clubhouse. Di Indonesia sendiri, ada adik Rara Sekar, Isyana Saravati yang barangkali membuat segelintir orang tertarik untuk mengunduh aplikasi ini. Isyana tidak sendiri dalam meluncurkan upaya penggodaan yang sangat ampuh pada masyarakat ini. Ada pula nama seperti Nino Kayam, seorang produser sukses yang telah genap memproduseri 100 lagu. Satu lagi, ada nama Ilham Ibrahim, punggawa Maliq & D’Essentials yang turut melengkapi daftar ini.

Puncaknya ada di pertengahan bulan penuh cinta. Di 15 Februari, Clubhouse berhasil memuncaki perolehan tagar dan menjadi trending di Twitter. Berbagai macam tanggapan terangkum lewat merebaknya hal ini. Ada yang memandang aplikasi ini sebagai angin segar dalam dinamika sosial media, ada yang mengkritik pengguna yang berkecimpung di dalamnya, dan masih ada juga yang kebingungan perihal Clubhouse apa yang dimaksud––salah kaprah dalam mengartikan, malahan mengira Clubhouse yang ada dalam serial Mickey Mouse.

Huru-hara yang hinggap dan energi positif yang tersalurkan oleh Clubhouse juga pernah hinggap pada saya. Pada suatu malam, ide membuat room perbincangan saya lempar pada Fadli Fikriawan, bassist .Feast. Intinya, malam itu, kami memulai dan menjaga obrolan hanya pada kegiatan-kegiatan musisi di luar panggung. Banyak nama-nama pamor yang silih berganti menghampiri. Dimulai dari Iga Massardi yang kami todong pertanyaan soal sepeda, Adnan––gitaris .Feast yang saat itu sialnya sedang berhadapan dengan lalu lintas Jakarta, hingga Fauzan Lubis dan Oscar Lolang yang terlebih dahulu telah disinggung. Fauzan Lubis dan kesibukannya yakni kembali ke dunia bela diri, spesifiknya : Karate. Oscar dan kemampuan memasaknya yang meningkat tatkala pandemi.

Lain kesempatan, Rakasyah Reza, seorang fotografer musik sekaligus road manager untuk Adit Insomnia mengajak saya untuk membuat sebuah room. Kali ini, topik obrolan yang dipilih, sangat musik sekali. Kenapa demikian? Pembahasan malam itu berkutat tentang rilisan kompilasi musik yang pernah beredar di peradaban manusia. Keraguan mulai muncul sedari detik pertama perbincangan ini bermula. Bukan apa-apa, nama top sudah nangkring di sana. Ada David Tarigan––inisiator Irama Nusantara yang portofolio pengarsipan musiknya tak perlu lagi diragukan. Otomatis, obrolan ini jadi terkontrol dan berbobot.

Baca juga:  Jejak Rock ‘n Roll Indonesia Dalam 2 Dekade Terakhir

Alam semesta nampaknya hendak bermain-main malam itu. Pasalnya, setelah obrolan berjalan kira-kira 20 menit, Nino Kayam masuk dan melenggang anggun. Persetan dengan rasa malu, saya memberanikan diri untuk menyapa dan bertanya. Pertanyaan terkait apakah ada kompilasi yang akan ia ciptakan jadi fokus saya. Hal ini tidak jauh-jauh dari fakta bahwa genap 100 karya telah ia produseri. Malam makin larut dan obrolan makin seru. Hasief––salah satu alasan saya tertarik dengan jurnalisme musik, turut angkat suara.

Begitulah, Clubhouse adalah tempat yang menyenangkan. Di sana banyak pintu terbuka, setidaknya hal ini yang bisa disimpulkan dari dua paragraf pengalaman saya di atas. Kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang baru terbuka lebar, berpapasan dengan idola dalam suatu ruang obrolan adalah kesempatan bonus. Satu hal yang menjadikan Clubhouse layak untuk diunduh dan rutin dihampiri adalah ilmu gratis yang berceceran di dalamnya. Sebanyak itu konten-konten sarat manfaat dibalik tiap ruang obrolan yang tertera di sana.

Brengseknya, aplikasi ini cukup jual mahal. Pengguna Android tidak dapat mengakses dan menimpati hal-hal menyenangkan di atas. Begitupun pengguna Iphone dengan Ios tertentu. Ada persyaratan mendetail tentang hal ini. Sekalipun gawai kepunyaan orang yang bersangkutan sudah mumpuni, hal tersebut tak menjamin anda dengan seenaknya dapat menikmati aplikasi ini. Anda harus lebih dahulu diundang oleh individu-individu beruntung yang sudah lebih dahulu masuk ke dalam aplikasi ini.

Ada pula rona-rona bahwa Clubhouse mulai kehabisan masa kejayaan dan barangkali daya magisnya. Hal itu pula yang sedihnya harus saya amini. Cukup banyak kenangan akan tempat ini, tapi mau bagaimana? Eksplorasi yang sepertinya mampu terjadi di Clubhouse tidak terlampau banyak. Live podcast adalah konsep yang padat, benar, tapi cukup. Iya, cukup hanya itu. Tidak kurang dan tidak lebih. Menjadikannya cukup stagnan dan minim kejutan.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments