7477

Feast, Para Pembawa Pesan

Baskara, Awan, Bodat, Adnan dan Dicky/ foto: Mikael Aldo/.Feast

Seperti layaknya rakyat Indonesia atau manusia pada umumnya yang masih berperikemanusiaan, para anggota Feast turut mengecam aksi pengeboman tiga gereja di Surabaya pada 13 Mei 2018 yang mengakibatkan tewasnya sebanyak 18 orang.  Menanggapi tragedi yang mengenaskan itu, kuintet asal Jakarta tersebut – vokalis Daniel Baskara Putra, duo gitaris Adnan Satyanugraha Putra dan Dicky Renanda Putra, bassis Fadli Fikriawan Wibowo alias Awan dan drummer Adrianus Aristo Haryo atau Bodat – memutuskan untuk segera menciptakan dan melepas sebuah single yang menggambarkan kemuakan mereka terhadap kejadian itu dan para pelakunya.

Lalu dalam proses pengerjaannya, Baskara selaku penulis lirik merasa tergerak untuk mengembangkan proyek ini menjadi sebuah mini-album yang berisi berbagai cerita naas dan tragis, yang kebetulan punya hubungan kuat dengan pengalaman pribadinya. “Peradaban” yang berawal sebagai reaksi terhadap insiden di Surabaya berkembang menjadi ungkapan keresahan atas kelompok yang memaksakan kehendak dan merendahkan kelompok-kelompok yang lain, suatu hal yang kerap dialami Baskara seumur hidupnya sebagai pemegang KTP beragama minoritas.

“Kami Belum Tentu” terinspirasi obrolan Baskara dengan pedagang makanan keliling yang membuka wawasannya terhadap realita partisipasi politik di Indonesia. “Padi Milik Rakyat” merupakan kilas balik ke masa sekolah Baskara di SMA Pangudi Luhur, ketika sempat tinggal bersama penduduk desa di Wonogiri dalam rangka program sekolah dan melihat sendiri bagaimana tingkat kemakmuran mereka sangat tidak sebanding dengan produktivitas dan jerih payahnya.  “Minggir!” merupakan cercaan Baskara terhadap orang-orang yang menganggap pengaruh besar yang mereka miliki di media sosial otomatis menjadikan mereka kompeten untuk berpendapat tentang apa pun.

Baca juga:  Album Ketiga Plastik Membungkus Kesepian, Melepaskan Kesalahan

Terakhir, “Berita Kehilangan” mengangkat cerita tentang sebuah kasus yang sempat ramai diberikan beberapa tahun lalu, yakni tewas tertusuknya Raafi Aga Winasya Benyamin – teman sekolah Baskara – dalam perkelahian di tempat hiburan malam pada 5 November 2011, kurang dari sebulan sebelum ulang tahunnya yang ke-18. Lagu ini juga menampilkan pendatang baru Rayssa Dynta untuk menyanyikan bait yang berasal dari penggalan surat seorang ibu anonim yang juga kehilangan anak dalam kejadian tragis. Namun sebelum memasuki lagu-lagu bermuatan berat ini, ada “Apa Kata Bapak” sebagai pengantar ringan yang menampilkan ocehan Sir Dandy mengenai konsep keteladanan pendidik.

Sampul album Feast -Beberapa Orang Memaafkan / dok. Feast.

Tiga bulan dan satu minggu setelah pengeboman di Surabaya, pada 21 September lalu Feast melepas Beberapa Orang Memaafkan, yang judulnya menggambarkan bagaimana orang-orang yang diceritakan di lagu-lagu ini menyikapi masalah-masalah yang mereka lalui. Musik yang digarap Feast bersama produser Wisnu Ikhsantama Wicaksana ini memang tak segarang Multiverses, album debut mereka dari tahun 2017 yang serba liar dengan mencampuradukkan hard rock, folk, EDM dan bahkan hip-hop. Namun dengan musik yang relatif lebih kalem, kohesif dan bahkan riang sekalipun, Beberapa Orang Memaafkan justru terasa menghantam lebih keras berkat lirik-lirik yang lugas, menyentil dan lebih mudah dipahami seperti “Hidup tak sependek penis laki-laki,” “Alergi kemajuan mendorong kemunduran” dan “Jok kiri mobil pemberian ayahmu mungkin milik rakyat.” Dipadu dengan estetika visual yang kuat untuk kover album arahan Baskara dan fotografer Mikael Aldo yang menampilkan patung Bunda Maria sedang berkabung di balik kain bersimbah darah, serta aksi panggung yang intens, flamboyan dan energik, maka tak heran jika Feast sudah bisa mendapatkan jumlah penonton terbanyak sejak mereka terbentuk di tahun 2012 ketika tampil di Synchronize Festival yang baru saja berlalu.

Baca juga:  Ketika Empat Band Launching Album Bersama

Beberapa hari sebelum Beberapa Orang Memaafkan beredar secara digital, Baskara menyempatkan diri di sela-sela kesibukan pekerjaannya sebagai brand manager perusahaan rekaman Double Deer Music untuk berbicara panjang lebar mengenai pembuatan album tersebut serta kisah-kisah di balik tiap lagu di dalamnya.

Bisa dibilang mini-album ini terjadi dengan katalis insiden Surabaya, terus mau bikin lagu sebagai respons terhadap itu dan lama-lama malah tercipta lagu-lagu lain.
Berkecambah, sih.

Tapi apakah lagu-lagu lain itu adalah topik yang sebenarnya sudah lama ingin diangkat atau benar-benar dari nol setelah “Peradaban” tercipta?
Dari dulu sudah ada, cuma enggak pernah ada dorongan serius buat kayak, “Ya sudah, gue menulis tentang ini, deh.” Jadi kedorong gara-gara “Peradaban” itu, awalnya. Ketakutan terbesar gue pas nulis mini-album ini, karena sangat sensitif, gue cuma berpikir, “Ini bakal jadi apropriasi tragedi enggak ya, kalau gue omong kayak ini?” Jadinya gue harus mengobrol benaran.

Baca juga:  Feast Bicara Peradaban

Dengan siapa?
Orang-orang yang terlibat langsung, paroki sana. Dari situ gue jadi berpikir, kayak sebenarnya mungkin hal-hal yang bisa gue omong itu, enggak cuma ini. Jadi ada dorongan buat itu. Kayak, siapa lagi orang-orang yang disakiti, yang mungkin punya cerita, cuma mereka enggak pernah punya medium yang cukup besar atau tenaga yang cukup kuat buat mendorong pesannya mereka.

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
Comments
Previous articlePetuah Kehidupan Vira Talisa
Next articleIri Hati Ala Monkey To Millionaire
mm
Hasief Ardiasyah mungkin lebih dikenal sebagai salah satu Associate Editor di Rolling Stone Indonesia, di mana beliau bekerja sejak majalah itu berdiri pada awal 2005 hingga penutupannya di 31 Desember 2017. Sebenarnya beliau sudah pensiun dari dunia media musik, namun kalau masih ada yang menganggap tulisannya layak dibaca dan dibayar (terutama dibayar), kenapa tidak?