I Love You But I’m Letting Go: Ode Untuk Clubhouse

731

Beberapa figur publik bahkan tak segan-segan mempertontonkan kemundurannya dari aplikasi ini. Ambil contoh Ernanda Putra, penemu Makna Creative––creative lab tempat Iyas Lawrence berlabuh dan beberapa kali mewawancari musisi, sudah meninggalkan aplikasi ini. Ernanda membandingkan Clubhouse dengan Instagram. Upaya perbandingannya sederhana, ia dan barangkali kita semua, mampu meninggalkan Clubhouse lebih dari 24 jam, untuk kasus Ernanda, hingga tiga hari tanpa membuka aplikasi ini. Sementara hal yang sama barangkali tak dapat terjadi dengan Instagram.

Pertanyaan jutaan dollarnya adalah, seperti apakah nasib Clubhouse nantinya? Mungkinkah nafasnya habis dan berujung dengan pengibaran bendera putih? Belum adakah yang cukup mengalahkan dominasi Instagram? Apakah fitur stories di Instagram adalah satu-satunya cara terbaik untuk mengunggah berbagai macam jenis kesibukan harian? Semakin sepi pengguna di Indonesia barangkali jadi hal kuat yang membuat Clubhouse hilang dari peredaran. Sulitnya mencari pemasukan dari aplikasinya karena minim iklan juga jadi faktor lainnya. Akankah Clubhouse masuk dan hilang dalam gelapnya terowongan, atau adakah cahaya terang untuknya di ujung sana?

Entahlah, seolah kehidupan pribadi seseorang masih belum cukup banyak terekspos. Clubhouse dan inovasi yang dibawanya memang menjadi angin segar selama pandemi ini. Variasi cara baru dalam bersosial media telah setidaknya coba dihadirkan. Banyak keuntungan dan kesenangan yang tercipta olehnya. Tapi minimnya eksplorasi jadi penghambat yang membuat beberapa orang undur diri darinya. Kendati demikian, rasanya Clubhouse akan terus hidup. Setidaknya akan ada beberapa individu yang kepalang cinta dan nyaman di sana. Sekalipun tambah sepi, ia tidak akan mati total. Sepertinya begitu. Apakah betul? Akankah Clubhouse tetap bernafas? Mari kita saksikan bersama!

 

____

Baca juga:  Musik Pop di Indonesia dan Kontrol Negara
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments