138

Kepedulian Musisi Muda Indonesia Terhadap Kesehatan Mental

Beberapa musisi mulai mengangkat tema kesehatan mental di lagu-lagunya / ilustrasi: @abkadakab

Kurang lebih dalam satu tahun terakhir, ada beberapa musisi muda Indonesia yang mulai  menyuarakan kepedulian mereka mengenai kesehatan mental melalui karya musik. Hal ini menarik karena jarang atau bahkan nyaris tidak ada lagu Indonesia yang mengambil tema tentang kepedulian terhadap kesehatan mental seseorang.

Kebanyakan lagu Indonesia mengatasnamakan tema cinta dan tidak jarang diantaranya adalah lagu galau yang malah bersifat menjatuhkan mental seseorang. Lagu galau ini akan berfungsi di saat para remaja tengah stres menjalani kehidupan dan bingung tentang masa depan mereka. Dan lagu-lagu galau ini juga punya kemungkinan untuk terus membuat seseorang berada dalam kegelisahan.

Album Mantra-Mantra dari Kunto Aji seolah menjadi tolok ukur paling penting mengapa musik dapat menjadi terapi untuk menenangkan mental seseorang. Secara personal, lagu-lagu Kunto Aji sangat relate dengan kehidupan pribadi saya sehari-hari, dan mungkin juga sebagian besar orang. Dimulai dari dua lagu di album pertamanya: “Terlalu Lama Sendiri” dan “Amatiran”, sampai sebagian besar lagu di album “Mantra-Mantra” yang sangat dekat dengan kehidupan saya secara personal (dan sebagian besar orang karena banyak yang nge-DM Kunto Aji di Instagram untuk sekedar mengucapkan terima kasih atas album tersebut).

Baca juga:  EARHOUSE SONGWRITING CLUB: Saksi atas Karya yang Lahir Setiap Minggu
Cover album Kunto Aji – Mantra Mantra.

Dalam album yang rilis September 2018 ini “Rehat” sudah pasti menjadi best-cut paling menonjol di album ini dan sangat lekat dengan masalah kesehatan mental setiap orang, terutama di malam hari pada saat mereka lelah bekerja. “Rehat” memotivasi seseorang untuk tidak perlu takut dengan apa yang akan terjadi di hari esok. Penggalan liriknya yang berbunyi “Tenangkan hati, yang kau takutkan takkan terjadi…” seolah menjadi pengantar tidur yang manis sebelum kita kembali lagi menghadapi penatnya kehidupan di hari esok.

Gitar tanpa kepala: Kunto Aji / foto: Pohan

Contoh lain di lagu “Jakarta Jakarta”, cerita soal harapan akan kesuksesan yang ingin diraih setiap orang. Tak bisa dipungkiri kalau Jakarta adalah puncak setiap orang meraih mimpi menjadi sukses. Karena banyaknya orang yang ingin meraih mimpi di Jakarta, tidak menutup kemungkinan kalau Jakarta bisa menjadi kota yang mempengaruhi kesehatan mental seseorang. Hiruk pikuk kemacetan kota, udara gerah sampai sifat dan perilaku manusia yang terkesan garang mempengaruhi kesehatan mental seseorang dalam menentukan apakah ia akan bertahan atau pergi. Sementara lagu “Konon Katanya” bercerita tentang orang yang tidak bahagia karena pekerjaannya tidak sesuai apa yang menjadi passion-nya, dan pekerjaannya itu merupakan tuntutan orang tua supaya mereka bisa mendapat uang banyak. Banyak orang tersiksa mentalnya hanya karena dia bekerja dibawah tekanan terlebih lagi itu tidak sesuai passion. “Jangan ragu-ragu / Cantik, kau tahu / Hidup bukan tentang angka” tulis Kunto Aji dalam liriknya. Dengan sebagian besar lagu yang mengangkat tema kesehatan mental, tidak heran banyak media yang menobatkan Mantra-Mantra menjadi album terbaik tahun 2018.

Baca juga:  20 Tahun Kilas Balik dan Titik Balik GIGI

Maret 2019 lalu, Barasuara mengeluarkan album kedua berjudul Pikiran dan Perjalanan. Dibalik aransemen musik super megah, permainan ambience yang dihasilkan dari raungan gitar dan synthesizer, album ini menyematkan pesan mengenai pentingnya kesadaran akan kesehatan mental seseorang. Dibalik banyaknya musisi kelas dunia yang bunuh diri dan banyaknya fans yang mengikuti, Pikiran dan Perjalanan memotivasi orang untuk tetap bertahan hidup – terus berjalan dari dalam gelap menuju cahaya yang lebih terang dan merayakannya. Sekaligus juga memotivasi seseorang untuk terus memancarkan harapan, mimpi, dan optimisme. Saya jadi menduga bahwa motif Barasuara menyajikan aransemen musik yang sangat energik di album ini adalah supaya membuat mental para pendengarnya lebih sehat dan stabil. Karena ambience dalam album ini seolah dapat membuat yang mendengarkan lupa akan permasalahannya.