Ihwal Kesehatan Mental di Blantika Musik Nusantara

1308

Musikolog dari Art Music Today, Erie Setiawan mengungkapkan bahwa musik adalah perkara bunyi dan frekuensi. Maka, langkah Kunto Aji sebenarnya cukup tepat karena musik gubahannya memang dapat memengaruhi mental pendengarnya.

“Frekuensi itu hukumnya mutlak, banyak range yang dalam sebaran tertentu itu punya dampak tertentu. Secara kasat sebetulnya tidak harus selalu terdengar, dan Kunto Aji memasukkan itu,” ujar Erie Setiawan.

Namun, lebih lanjut menurut Erie, tidak serta merta kemudian musik yang berperan sentral memengaruhi kondisi mental seseorang. Menurutnya, ada faktor lain yang tak kalah penting, yaitu lingkungan sekitar, dan kesadaran sang pendengar.

“Musik dan kesehatan mental tidak harus berpijak pada produk musiknya, itu harus menjadi kesadaran menyeluruh. Musik itu dikemas memasukkan banyak unsur-unsur yang memengaruhi. Tapi kalau kondisi manusia tetap tinggal dalam kondisi yang tidak ramah bagi telinganya, atau dia tidak mengkondisikan seperti itu, ya sama saja menurutku,” lanjut Erie.

Sementara itu, menurut pendapat Rifki AP, jebolan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma yang belakangan aktif berdinamika bersama support group eksperimental id.overthinkers di Jogja, musik menyuguhkan satu ruang aman seseorang untuk jujur.

“Hal ini [ruang aman: red] sulit didapati jika dihadapkan pada norma umum. segala yang normatif dan dianggap wajar, layak, dan semacamnya. Musik menyuguhkan semacam kepercayaan bahwa ada realita lain dalam lagu. ada kemungkinan (kontingensi, utopia) yang bisa dipercaya untuk sejenak,” ungkap Rifki.

Dari dua pendapat pakar di atas, saya kemudian penasaran: bagaimana dari kacamata mereka yang memiliki masalah dengan kejiwaan? Apakah benar musik dapat menjadi ruang aman untuk mereka? Apakah musik adalah obat yang tokcer mengenyahkan gangguan kejiwaan?

Maka saya berinisiatif menghubungi beberapa kawan yang saya tahu memiliki isu mental. Amarawati Ayuningtyas adalah seorang karyawan swasta yang menetap di Yogyakarta. Mara memiliki isu mental di mana ia mengidap major depression dan anxiety. Saat ini Mara rutin konseling ke psikolog untuk mengatasi isunya tersebut. Tak hanya ke psikolog, rupanya Mara juga menjadikan musik sebagai salah satu media untuk mengatasi isu mentalnya. Dan saat Mara sedang dalam kondisi mentally unstable, ia memilih satu artis spesifik yang musiknya ia dengarkan agar kondisinya membaik: Tulus.

Mara memilih “Langit Abu-Abu” dan “Lekas” sebagai lagu favoritnya. Menurut Mara lirik dua lagu milik Tulus seperti pengingat, refleksi di beberapa hal ke dirinya. Lirik itu beririsan dengan kondisinya.

“Dulu psikologku selalu bilang self talk, self talk, self talk setelah itu tulis diary. Jadi saat aku depresi, nangis aku biasanya dengerin lagu ini, saat dengar bagian lirik ini, aku jadi inget diriku, mesti nulis. Lebih ingetin sesuatu yg dibilang psikologku dan lirik dia ke diriku. Tiap kali dengar, aku nangis, nangis karena aku perlu bertemu diriku, diriku yang perlu aku kenali,” tutur Mara.

Lain Mara, lain lagi Bunga. Pekerja yang memiliki nama lengkap Bunga Irmadian dan menetap di Jakarta ini adalah seorang ODS, Orang Dengan Skizofrenia. Jika Mara memilih musik Tulus sebagai katarsis, maka Bunga lebih memilih mendengarkan Hindia. Terutama dua lagu yang paling disukainya “Secukupnya” dan “Jam Makan Siang”.

Menjadi seorang Bunga adalah sesuatu yang cukup berat. Karena diagnosis skizofrenia itu, Bunga tidak bisa berhenti mengkonsumsi obat-obatan. Namun, ada kalanya ia skip obat-obatan tersebut karena kesibukannya bekerja hingga ia lupa meminum obatnya. Di saat berhenti meminum obat itu biasanya Bunga kemudian akan mengalami mentally unstable. Di saat seperti itu, Bunga mendengarkan musik gubahan Baskara Putra agar ia mampu melepaskan emosi yang membuncah di diri.