Ihwal Kesehatan Mental di Blantika Musik Nusantara

1308

“Pas lagi skip minum obat biasanya mentally unstable terus suddenly denger lagu-lagu dengan tema kesehatan mental gitu aku biasanya langsung nangis kejer. Dan kayaknya itu mediaku untuk menyalurkan emosi-emosi itu sih lewat nangis dan dengerin lagu itu,” ujar Bunga.

Menyimpulkan sesuatu dari kelindan musik dan kesehatan mental ini dengan hanya berkaca pada kisah Mara dan Bunga tentu saja tidak dapat dilakukan. Karena setiap orang tentunya memiliki kondisi mentalnya masing-masing, setiap orang memiliki musik kegemarannya. Namun, setidaknya kisah Mara dan Bunga mengamini apa yang dikatakan Erie dan Rifki di atas: musik, bagaimanapun bentuknya, dapat menjadi salah satu media katarsis, atau ruang aman dalam bahasa Rifki.

Jika kita kemudian ingin mengamini perkataan Erie, bahwa selain musik, harus ada kesadaran penuh seseorang dan lingkungan yang sehat, maka sudah menjadi kewajiban kita semua untuk mulai menciptakan kesadaran-kesadaran tersebut, dan mengkondisikan lingkungan sekitar agar lebih sehat dan ramah kesehatan mental.

Cara paling mudah yang bisa kita lakukan misalnya dengan turut serta membangkitkan kesadaran publik akan pentingnya menjaga kesehatan mental. Jika Barasuara melakukannya dengan menciptakan lagu “Pikiran dan Perjalanan”, atau Isyana Sarasvati yang mendendangkan “Untuk Hati yang Terluka”, atau Kunto Aji yang memeluk erat para fans di akhir video “Pilu Membiru (Experience)”, kita juga harus bisa melakukan hal yang sama, sesuai kapasitas kita.

Kita patut sadar bahwa barangkali ucapan selamat pagi, atau terima kasih, atau pelukan hangat kita pada orang terdekat dapat membantunya keluar dari lingkaran setan gangguan mental. Kita harus paham benar, bahwa lingkungan media sosial kita belakangan ini sudah sangat toxic, dan bisa menimbulkan korban jiwa.

Masih segar di ingatan kita saat beberapa waktu yang lalu Bintang K-Pop Sulli dan Goo Hara memutuskan mengakhiri hidup karena menjadi korban cyberbullying. Sulli dan Goo Hara menjadi martir, korban keganasan industri budaya pop Korea Selatan, dan kejamnya penghakiman  a la media sosial.

Baik sebagai musisi atau pendengar di blantika musik Nusantara, menjadi tanggungjawab kita untuk saling jaga satu sama lain. Saling menguatkan. Saling mengingatkan: ihwal kesehatan mental ini harus kita ruwat dan rawat bersama.

Catatan: Jika anda memiliki masalah dengan gangguan mental, jangan merasa sendirian. Anda tidak sendirian dan bisa mengungkapkan apa yang anda rasakan ke keluarga atau teman terdekat. Atau bisa juga menghubungi komunitas yang peduli dengan isu kesehatan mental seperti Into The Light Indonesia, Bipolar Care Indonesia, atau Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia. Jika anda merasa sudah sangat membutuhkan bantuan profesional, jangan ragu ke pakar seperti psikolog atau psikiater.

 

____