Irama Dari Nusantara: Perjalanan Panjang Radio Kita

Sep 20, 2018

Sesuai dengan fungsi awal munculnya radio pertama di Indonesia yaitu propaganda, -tentunya dahulu disetir oleh kelompok perorangan Belanda- yang bersifat swasta dibangun pada tanggal 16 Juni 1925 di Batavia bernama BRV (Bataviaache Radio Vereening). BRV memperlihatkan kemajuan yang signifikan membuat beberapa stasiun radio lainnya bermunculan. Semua kekhawatiran ini pun membuat pemerintahan Belanda membentuk NIROM (Nederlands Indische Radio Omroep) yang membuat dan mengatur segala hal undang-undang mengenai radio di Indonesia. Para pribumi saat itu pun tak tinggal diam. 1 April 1933 jadi tonggak dibangunnya stasiun radio milik bangsa Indonesia pertama bernama SRV (Soloche Radio Vereniging). Sejak itulah, berbagai stasiun radio lokal lahir seperti MARVO di Yogyakarta, EMRO di Madiun, CIRVO radio etnik Tionghoa di Surabaya, VORL di Bandung, Radio Semarang, dan lain-lain. Mereka menyiarkan berbagai jenis-jenis informasi yang bersifat ketimuran seperti kebudayaan, kesenian, dan pergerakan nasionalisme.

Irama Nusantara yang sedang mendigitalkan koleksi RRI di berbagai kota. foto: Irama Nusantara

Pergerakan perjuangan pun mulai banyak lewat siaran-siaran radio membuat NIROM khawatir dan kembali memonopoli semua kegiatan radio di Indonesia. Penyerahan kekuasaan Belanda ke Jepang memang membuat cerita radio ini semakin seru, radio siaran yang tadinya berstatus perkumpulan swasta dimatikan dan diurus oleh jawatan khusus bernama Pusat Jawatan Radio (Hoso Kanri Kyoku), yang merupakan pusat radio siaran dan berkedudukan di Jakarta. Walaupun semua radio siaran diarahkan kepada kepentingan militer Jepang semata. Tetapi selama kependudukan Jepang, kebudayaan dan kesenian mendapat kemajuan yang pesat. Kesempatan ini menyebabkan pula munculnya seniman-seniman pencipta lagu-lagu Indonesia baru.

Rupanya taktik Jepang membuka jaringan radio malah menjadi bumerang, kalahnya Jepang terhadap sekutu sudah diperhitungkan oleh pemimpin-pemimpin dan angkatan muda Indonesia yang selalu mendengarkan radio luar negeri sejak akhir bulan Juli 1945. Ketika Jepang mulai kalah, dengan cepat para pejuang mengambil alih komando stasiun radio di 6 kota dan menyiarkan kemerdekaan Indonesia lewat siaran langsung radio ke seluruh pelosok negeri.

11 September 1945 Radio Republik Indonesia resmi berdiri. Indonesia telah merdeka namun presiden Soekarno pada saat itu melarang siaran lagu-lagu barat. Karena para muda mudi yang haus akan informasi dan tren saat itu akhirnya lahirlah radio-radio gelap yang memutarkan lagu-lagu barat. Orde lama digantikan oleh orde baru, lalu radio swasta milik masyarakat diperbolehkan mengudara. Radio swasta khusus menyiarkan konten hiburan ini mulai menjamur bahkan memperlihatkan tajinya sebelum lahirnya kanal TV-TV swasta.

1
2
3
Penulis
Alvin Yunata
Mengawali karirnya menjadi seorang vokalis band Harapan Jaya sejak tahun 1996 dan membuahkan 3 album. Di 2002 bersama Sir Dandy membentuk band Teenage Death Star dan menjadi gitarisnya. Di 2003 memulai sebuah acara program acara musik sidestream di Oz Radio Bandung. Di akhir tahun 2005 sempat menjabat feature editor Trax Magazine. Lalu bersama David Tarigan fokus mendirikan Yayasan Irama Nusantara, www.iramanusantara.org. Sebuah inisiasi pengumpulan dan pendigitalisasian data musik Indonesia populer. Yang berfokus pada rekaman era pra kemerdekaan, 1950an, 1960an, 1970 dan 1980an.

Eksplor konten lain Pophariini

Dead Bachelors ‘Reuni’ di Single Terbarunya

Yang satu ini, bisa dibilang sebagai sebuah kejutan yang menyenangkan bagi duo Narendra Pawaka dan Mario Pratama yang tergabung dalam unit Dead Bachelors.

Saling Menguatkan bersama Nino Kayam

Mengenai “Nikmati Rindunya”, Nino mendedikasikan single terbarunya ini untuk sang ayah yang berpulang di bulan Oktober 2020 lalu.