Jumat, Sabtu, Minggu, Festival Musik, Ku Menginginkanmu

Nov 3, 2022
Festival Musik

Cinta , beragam bentuknya, dan absurd maknanya. Tapi umumnya, bisa membuat kita membela secara habis-habisan, meluangkan sekian dari dua puluh empat jam, dan tak ragu untuk menyatakan apa yang sejatinya kita rasakan. Adalah festival musik dan segala hal tentangnya yang membuat banyak orang jatuh cinta––dan tentu, kemungkinan untuk menemukan cinta di sana. Gelaran yang pada umumnya memakan tiga hari di akhir pekan untuk dituntaskan.

Ardi Wilda. Jauh sebelum menuliskan hatinya dalam resensi album Memorandum dari Perunggu, dan menggasak kekang yang membuatnya tak lagi menulis musik selama satu dekade, adalah seorang penulis musik yang ulung. Transkrip wawancaranya dengan Ugoran Prasad, pengisi departemen vokal dari artists collective, Melancholic Bitch, 2011 lalu, punya ruang tersendiri di sanubari memori saya. Melancholic Bitch sendiri memang layak diusahakan. Jadwal tampil mereka tidak serutin itu. Menemukan mereka di Pestapora, akhir September kemarin, jelas momen menyenangkan bagi banyak orang.

Adalah festival musik dan segala hal tentangnya yang membuat banyak orang jatuh cinta––dan tentu, kemungkinan untuk menemukan cinta di sana. Di gelaran yang pada umumnya memakan tiga hari di akhir pekan untuk dituntaskan

Lewat obrolan dua anak manusia ini, saya, sekali lagi yang bertindak sebagai penikmat musik dan pelanggan festival musik, memahami bagaimana sang penampil memandang perjumpaannya dengan kami, para penonton. Ugo, dan mungkin banyak musisi di luar sana, ingin menciptakan hubungan seniman dan pendengarnya sebagai kawan. “No fucking celebrity”, tegasnya pada Ardi saat mereka berbincang sebelas tahun lalu. Ugo menggilai Slank. Mengetahui Kaka Slank pernah menyaksikannya lewat Pameran Kelas Pagi Jakarta saat Anton Ismael merespon Balada Joni Dan Susi menegaskan kesadarannya bahwa hubungan ini pula yang menginspirasi seseorang untuk memproduksi sesuatu. 

Tersadar, salah satu pelatuk tertulisnya tulisan ini juga sebab penampilan Melancholic Bitch di suatu festival baru besutan Kiki Ucup, Pestapora, di penghujung September lalu. Ini satu manfaat dari berangkat ke festival. Menemukan inspirasi. Bisa dari apa yang Ugo dan Melancholic Bitch lakukan dalam penampilannya yang teatrikal nan penuh kharisma; boleh dari penampilan berapi-api dari empat serangkai kelompok penghasil musik rock oktan tinggi di Seringai; atau olah suara ciamik dan pembawaan panggung yang selalu menyenangkan dari Tulus. 

Bisa jadi juga, eksposur berita atas orang yang penonton anggap berjasa di balik festival musik yang ditonton, jadi inspirasimu, sebut saja nama seorang pria yang semasa hidupnya pernah berkarir sebagai crew bass, road manager, nombok berjuta-juta rupiah untuk tur sebuah band alternatif rock bernama Morfem, dan kini menjadi sosok yang dikenal sebagai perwujudan imajinasi dari beragam acara menarik di tanah air, Kiki Ucup. Sarah Deshita mungkin? Namanya sudah berseliweran diluar lingkaran pelaku industri musik––menjadi konsumsi publik, atas buah kerja kerasnya di We The Fest bertahun-tahun terselenggaranya festival itu.

Ini satu manfaat dari berangkat ke festival. Menemukan inspirasi. Boleh dari penampilan berapi-api dari empat serangkai kelompok penghasil musik rock oktan tinggi di Seringai atau olah suara ciamik dan pembawaan panggung yang selalu menyenangkan dari Tulus. 

Festival musik mengizinkan ini. Pertemuan kita dengan hal yang kita impikan, kebebasan merancang rencana dan asyik sendiri dalam melakukannya, hingga merawat mimpi itu, membawanya pulang, dan membesarkannya. Sal Priadi membuktikan hal ini di Synchronize Festival, awal Oktober kemarin. Getar resonan vokal ratusan individu yang diajaknya merebak agenda hari pertama gelaran acara yang membawa kampanye “Lokal Lebih Vokal” itu.

Sekali lagi, sebagai penonton musik, kita cenderung tidak perlu mendalami peran balik layar yang sama seperti pekerjaan lainnya, sarat akan tensi tinggi, deru kaki yang terburu-buru, dan detail lainnya yang menjadikan hal ini tetap sebagai pekerjaan untuk mereka. Akan tetapi, peran penonton musik dalam ekosistem ini bukan berarti mudah pula. Tabungan yang harus disisihkan, jarak yang harus ditempuh, serta detail lainnya tentang mensiasati hari kerja dan pekerjaan dalam gelaran tiga hari sebuah festival musik. 

Lalu, dari festival musik berisikan musisi arus pinggir hasil inisiasi gemilang teman-teman Noisewhore pertengahan tahun 2022 kemarin di Tangerang Selatan, hingga panggung alternatif hasil kurasi Microgram di Pestapora kemarin, bepergian ke sana, menyimpulkan satu hal: Kita sebagai penonton, memang dan selalu punya akses terhadap pertumbuhan. Bejibun nama baru yang masuk dan menawarkan keunikannya masing-masing, semuanya layak punya kesempatan untuk didengarkan.

Akan tetapi, peran penonton musik dalam ekosistem ini bukan berarti mudah pula. Tabungan yang harus disisihkan, jarak yang harus ditempuh, serta detail lainnya tentang mensiasati hari kerja dan pekerjaan dalam gelaran tiga hari sebuah festival musik

Pun dalam menyikapi kekesalan atas daftar penampil festival yang tidak sesuai sebab hanya diisi nama baru dan tidak menarik, ya, sebagai penonton, jujur saja, kekecewaan ini tidak ada salahnya. Hal yang salah adalah, menuntaskan kekecewaan tersebut dengan cacian yang bernadakan kebencian. Sama seperti hal lainnya dalam hidup, kita toh selalu punya kesempatan untuk melewatkan, menghemat energi untuk membenci. Tapi, sama pula seperti banyak hal baik lainnya dalam hidup, pengalaman menyenangkan datang dari mencoba hal baru.

Ah iya, yang ini juga tidak boleh dilupakan. Irisan-irisan menarik yang terangkut juga dalam sajian sebuah festival musik. Sebut saja bazar kuliner sebagai salah satu contohnya. Sudah menjadi kebiasaan umum dalam sebuah festival musik, terdapat sajian dari kedai makanan dan minuman terbaik yang bisa ditemukan di sekitar kita. Semuanya dirangkum dan dipermudah untuk diakses guna menyenangkan para hadirin.

Pun dalam menyikapi kekesalan atas daftar penampil festival yang tidak sesuai sebab hanya diisi nama yang tidak menarik. Ya, sebagai penonton kekecewaan ini tidak ada salahnya. Tapi, sama pula seperti banyak hal baik lainnya dalam hidup, pengalaman menyenangkan datang dari mencoba hal baru

Sama seperti menyediakan waktu dan melapangkan niat untuk menonton musisi yang barangkali baru ditemui, menemukan olahan pangan dari sebuah resto pun demikian. Tidak jarang saya mengunjungi tempat itu di tempat biasa menjajakan dagangannya setelah acara selesai. Alasannya jelas, saya baru menemukan mereka biasanya di sebuah festival musik, dan merasa cocok dengan apa yang disajikan. Begitulah, kemampuan dan manfaat yang terkandung dalam gelaran festival musik, memajukan pula irisannya.

Satu lagi yang tak bisa lepas: merchandise! Sebagai penonton, membayar kontan sebuah merch adalah upaya merayakan. Menghidupi euforia. Juga syukur-syukur bisa membagikan rezeki kepada pihak-pihak yang terlibat. Ini juga menjadi semacam upaya keberpihakan. Lagi-lagi, didasari cinta. Lewat branding yang biasanya mengambil tempat di produk tekstil atau cetakan tersebut, sebagai penonton, kita tak akan segan membagikan hal yang kita suka kepada khalayak ramai.

Satu lagi yang tak bisa lepas: merchandise! Sebagai penonton, membayar kontan sebuah merch adalah upaya merayakan. Menghidupi euforia. Juga syukur-syukur bisa membagikan rezeki kepada pihak-pihak yang terlibat

Kecintaan pada King Nassar, Agnez Mo, atau Dara Puspita, misalnya, atau yang diproduksi oleh musisi arus pinggir macam Perunggu, Hursa, dan Swellow yang sudah mulai menjamur di gelaran festival. Dengan harapan band atau penampil yang dimaksud dapat dihibahkan lebih banyak pendengar, dilirik oleh pembuat acara, lalu selanjutnya lebih sering mendapatkan jadwal tampil dari yang telah mereka lakoni sekarang. Toh, dengan begini, kita sebagai penonton dapat mudah mencocokannya dengan ketersediaan jadwal kita pula.

Sama seperti perkara cinta lainnya, cinta juga menyuarakan hal-hal yang tidak disuka. Walaupun tak selamanya blak-blakan, tapi beberapa hal yang bisa disampaikan untuk kemajuan, memang sebaiknya selalu diutarakan. Tak ayal pada penyelenggaraan sebuah festival musik. Merangkum kesedihan penonton, minimnya akses ke dunia luar disebabkan sinyal telepon yang hambar jelas jadi kegelisahan. Untuk hal ini, saya rasa penjabaran teknis bisa dilakukan oleh mereka yang lebih paham. Tapi apabila mengandalkan logika, rasanya hal ini mungkin terjadi sebab adanya sekian ribu manusia dalam suatu daerah terisolasi menggunakan data dalam ukuran besar secara bersamaan, bukan tak mungkin hambatan dapat tercipta.

Namun lagi, seperti cinta, amarah akan padam dan bahagia jadi emosi yang dibiarkan merebak dan meluap. Menemukan cinta di festival berarti mendobel kebahagiaan. Semacam keberuntungan yang menyenangkan apabila dapat merasakan hal ini atau sekadar menjalankannya saja

Kapasitas. Hari pertama Festival Berdendang Bergoyang kemarin disebutkan menerima 21.000 pengunjung dalam Istora Senayan yang hanya bisa menerima 10.000 individu. Hasilnya, terjadi penumpukan, saling berdorongan yang berujung pada sesak, jadi hal yang tidak terhindarkan. Polisi turun tangan dan mengerahkan investigasi. Aspek ini berhubungan langsung dengan keamanan dan keselamatan, lekas, izin untuk hari ketiga yang awalnya akan menampilkan banyak penampilan kolaborasi yang seru, harus ditarik. 

Kebersihan. Hal ini tentu selalu jadi perbincangan. Untungnya, dalam beberapa gelaran festival, sudah jarang ditemukan sarana pembuangan yang memprihatinkan. Namun bukan berarti tak ada. Untuk yang satu ini, nilainya saya rasa harus mutlak. Harus layak. Tantangan yang besar memang. Namun lagi, nilainya harus mutlak.

Waktu. Sebagai aset yang berharga, membuangnya jelas jadi akar masalah bagi banyak individu. Seringkali menimbulkan kekesalan, bukan hanya bagi zodiak Virgo yang terkenal dengan kegemarannya mengatur jadwal saja, apabila adanya jadwal tampil yang tidak sesuai informasi di awal. Baik itu mulai lebih cepat, selesai lebih cepat, ataupun dipotong. Untuk hal yang terakhir, bisa saja karena adanya pertimbangan transisi. Tapi untuk dua hal pertama, seringnya hal itu jadi kelalaian pembuat acara yang telat diinformasikan. Jelas, kekesalan jadi hal yang tak mampu dihindarkan.

Tapi, siapapun kamu, penonton ataupun pelaku industri, semoga musim festival yang kembali berdatangan ini tidak menyisakan apapun selain kebahagian. Sebab memori baik tidak akan pernah kehabisan ruang untuk dikoleksi

Namun lagi, seperti cinta, amarah akan padam dan bahagia jadi emosi yang dibiarkan merebak dan meluap. Menemukan cinta di festival berarti mendobel kebahagiaan. Semacam keberuntungan yang menyenangkan apabila dapat merasakan hal ini atau sekadar menjalankannya saja. Menghabiskan hari-hari menonton musik bersama orang yang kita sayang. 

Tulisan ini adalah sebuah pemaknaan terhadap festival musik. Bagaimana dari perspektif penonton, semoga tulisan ini dapat merangkum rasa terima kasih, hal baik yang semoga bisa sama-sama kita pertahankan, dan kekurangan yang walaupun semakin jarang, sayangnya masih bisa ditemukan. Festival musik bagaimanapun eksekusinya, jelas bukan pekerjaan yang mudah. Sama seperti ekosistem industri lainnya, kita pun saling membutuhkan. Penonton juga bukan hadir tanpa perjuangan. Ada pendapatan yang harus disisihkan, upaya menabung pundi-pundi yang jauh dari kata mudah dan patut diapresiasi. 

Tapi, siapapun kamu, penonton ataupun pelaku industri, semoga musim festival yang kembali berdatangan ini tidak menyisakan apapun selain kebahagian. Sebab memori baik tidak akan pernah kehabisan ruang untuk dikoleksi. Serta sedu sedan semoga jadi kubangan yang selalu mampu dihindari.

 


 

Penulis
Hillfrom Timotius
Lulus SMA saat pandemi Covid-19 dan mengikuti Ospek di depan layar laptop. Pembaca dan penulis. Mendirikan School For Cool. Fans berat serial How I Met Your Mother, Bakmie Cong Sim, dan Nuran Wibisono. Oh ya, kalau nama saya terlalu sulit, kamu bisa memanggil saya Ipom. Salam kenal.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

Foreseen Rilis Album Perdana, Suspended Reality

Foreseen juga menampilkan dua kolaborator untuk mengisi beberapa bagian lagu, mereka adalah Gabriela Fernandez dan Endro Trilaksono.

Akhiri Masa Vakum, Sheila Anandara Rilis Single Terbaru

Terakhir merilis single “Kereta” dua tahun silam, kini Sheila Anandara kembali dengan tembang berjudul “Menunda Luka” yang dilepasnya hari ini (27/01).