Kareem Soenharjo, Hikayat Pagebluk Si Nerdy Jaksel

1689
BAPAK.
Kareem Soenharjo dan BAPAK. / foto: nadia rompas

Saya akan pura-pura tidak kenal dengan Kareem Soenharjo. Tidak pernah berbincang atau duduk di sofa ruang tamu yang sama sebelumnya, mendengarkan ocehannya tentang Richard Watterson atau keberatannya terhadap sebuah bar di Jakarta Selatan yang dinilai tuli karena luput menyuarakan dukungan kepada perjuangan kulit hitam saat panasnya ribut-ribut aksi Black Lives Matter setahun silam.

“Padahal,” ujarnya. “Mereka mainin jazz dan soul hampir setiap malam. Itu jualannya. Jadi kayak cuma dieksploitasi doang.”

Saat itu juga sontak saya melontarkan cengir – dasar millenial justice warrior, dalam hati menggurau – sembari mengecapnya naif, meski juga memahaminya sebagai rasa belas iba yang tulus. Seumur hidupnya ia telah menggali serta memuja banyak artis kulit hitam, menjadikan karya mereka inspirasi, hingga mungkin pegangan hidup. Mungkin kalau bisa minta dilahirkan kembali, ia akan memilih wujud imigran Senegal yang tersesat sebagai klerk toko rekaman di Staten Island, New York City – kisaran ’94, dan berbagi sepocong Strawberry Cough dari balik meja kasir dengan seorang Negro-Italo yang akrab disapa Giorgio Suge Jr. Tapi lupakan. Selama bejibun paragraf ke depan, buat saya, Kareem Soenharjo adalah sama seperti orang lainnya, musisi 24 tahun yang tahun 2020 kemarin merilis sebuah album pandemik di bawah nama Bapak dan mengaku ‘hate everything’ menyangkut kasak kusuk single Dogma Milenial Provinsi Yggdrasil (DMPY).

Betapa saya selalu suka orang yang menulis dengan bensin kebencian. Itu menunjukkan sifat sensitif yang sesungguhnya. Ada kepekaan di sana, rasa geram dari ego tebal yang membuka dinding bagi kesedihan: ia membenci akibat muak digelayuti oleh kesedihan. Dan sering kali, satu-satunya jenis manusia yang patut diandalkan di dunia ini adalah mereka para seniman yang mampu melahirkan keindahan setelah tersungkur menderita. Terdengar klise memang, sekaligus tragis, sampai-sampai menjuruskan saya pada sebuah pertanyaan, seberapa tersiksanya jiwa Kareem Soenharjo sampai ia bisa membenci semua hal?

Malas dicap sok tahu, saya sadar tidak ada sosok yang lebih berkuasa menjawab itu selain dirinya sendiri, sehingga hal paling pantas yang bisa saya lakukan hanyalah menerka gejalanya melalui, tentu saja, musik-musik yang ia tulis. Segala tetek bengek album Miasma Tahun Asu serta sedikit teropong ke belakang melalui BAP. dan Yosugi, dua transformasi karakter Kareem Soenharjo lainnya.

Dengan tiga lokus musikal berbeda yang aktif dalam waktu hampir bersamaan, cukup untuk menunjukkan kalau ternyata pemiliknya memiliki ambisi serius; ia lapar, seolah intuisi yang membuat kepalanya terus gatal harus selalu diberi makan.

Rilisan teranyar Yosugi, proyek beatmaker terjun bebas miliknya, terbit April 2020 kemarin, sebuah EP silang dengan Greybox, produser lokal tongkrongan New York yang doyan main soul – lebih tepatnya, neo soul. Klop dengan ‘darah’ Negro Kareem Soenharjo. Padahal sebulan sebelumnya, EP ‘iseng-iseng baru dapet alat’ berjudul unbothered. unmastered baru saja dilepas. Dan masih dalam periode berdekatan, di antara keduanya ia berulah dengan Radio Kareem, mixtape beat berkedok siniar monolog yang membuat saya terbayang pada intro Return To The 36 Chambers The Dirty Version-nya Ol’ Dirty Bastard.

Sedang tidak ketinggalan BAP. – persona lo-fi yang menelurkan Monkshood, album hip hop paling progresif dari generasinya di mana ia merentet sefasih Negro moker – merilis single comme des garcons (dalam Bahasa: seperti anak lelaki) yang menilap ketukan pedaw lagu Terbunuh Sepi-nya Slank, untuk kemudian di-gilscottheron-kan dengan versi bius tiga suntik air liur Bunda Ifrit. Nodding-off-and-off.

BAPAK.
Hitam putih, BAPAK.

Anak ini aslinya nakal, saya suka. Ia seperti tidak kapok punya masalah, menggelapkan lagu itu via Bandcamp lalu memaksa kita yang sakaw setelah memutarnya beruntun secara gratis lebih dari lima kali untuk membeli seharga $1. Bisa jadi Bimbim bakal melepas tuntutan setelah tahu lagunya dibikin sekeren itu, dan kemudian berusaha ikhlas memahami bahwa seni curi mencuri-rombak tempel kultur sampling di hip hop adalah sebuah tindak penghormatan. Lagipula apalah artinya pundi sedolar bila dibandingkan dengan mansion sarang kupu-kupu di gang sempit Jalan Potlot.

Pengalaman menyerempet masalah yang sebenarnya dulu pernah dialaminya kala meremiks No Fruits For Today milik Sore dengan sentuhan jungle yang janggal: Keith Moon kepelintir ketamine pada drum sample: $1 yang direstui Ade Paloh, tapi harus kena gertak dulu sama Mondo Gascaro. . .

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments