Kareem Soenharjo, Hikayat Pagebluk Si Nerdy Jaksel

1830

Melihat daftar produktivitas Kareem Soenharjo di sepanjang paruh awal 2020 kemarin membenamkan saya pada ucapan seorang jurnalis musik (seorang milenial, berusia di bawah 30) Shindu Alpito yang mengatakan, sulit bagi kita untuk menemukan lagi lagu-lagu baru di era streaming yang nantinya mampu awet dalam usia panjang, alias enteng ditinggalkan seiring keinstanan yang diberikan teknologi untuk merilis karya.

Katanya, “Musisi hari ini melihat karya bukan lagi sebagai monumen tapi cuma sebatas media pelepasan ekspresi. Pengerjaan sebuah album sudah tidak lagi dianggap suci sehingga berujung pada hilangnya status pendengar setia, sebab perputaran musik baru yang datang begitu cepat dan berganti.”

Mendengar itu saya, sialnya, refleks merespons dengan pepatah yang sangat ‘OK boomer’: “Jangan-jangan semakin maju jaman, semakin mundurlah kita.” Suatu ungkapan yang diserap dalam tata arogansi khas seorang penyair ilegal yang dulu pernah meminta presiden Amerika Serikat untuk tampil bugil di televisi: “Musik sekarang sudah seperti sampah saking banyaknya.” — Dylan, 79 tahun, bau tanah, sudah siap mati. Dan sebelum kalian mengonfirmasi status dinosaurus milik saya, saya akan menyangkalnya terlebih dahulu.

Di era ketika musik membludak seperti gunungan sampah, satu-satunya kecacatan yang bisa dilakukan oleh seorang fans musik adalah merasa lelah untuk mau menggali. Kejebak mentok ke situ-situ lagi. Di era kebyar internet ketika para musisi merilis karya sesering anak kucing mengeluh, satu-satunya cara terbaik untuk menyaring air kencing mereka adalah dengan sering-sering melepeh.

Kita sedang berada di tengah jurang generasi yang coba dijembatani lewat cara menyakitkan: adaptasi mutlak wabah pandemi. Bukan hanya bagi mereka golongan tua yang kelabakan, tapi juga anak muda yang kobam pengetahuan. Kita semua adalah korban dari penafsiran ulang nilai-nilai yang dianggap problematik. Bingung bercampur optimis, jadinya toksinis. Itulah yang terjadi ketika setiap langkah yang diambil lebih banyak mengandung keraguan dibanding keluwesan – tidak tahu ke mana lagi harapan harus dilacurkan.

BAPAK.
BAPAK. dan seragam hitam putih

Dan itulah alasannya kenapa sedari awal saya sangat banyak melepeh. Atau bisa dikatakan, saya melepeh musik baru sesering menelannya. Sebagian besarnya sampah trendi, sedang sisanya dilema plastik. Musik baru – angkatan 2015 ke sini dan ditulis oleh musisi berusia di bawah 25 – selalu membuat saya merasa beruntung bisa dinikmati tanpa harus dimiliki. Nilainya sama dengan setitik nila di dinding lama-lama menjadi bukit. Begitulah cara saya mensyukuri kelahiran generasi milenial digital hari ini. Zilenial, silakan mengantre di belakang.

Baca juga:  Musik Pop di Indonesia dan Kontrol Negara

Taruhlah saya keliru, tapi Kareem Soenharjo mungkin tidak terlalu peduli soal kelanggengan lagu-lagunya di masa depan. Mengingat ia selalu bisa menulis lagu baru setiap hari dan merilisnya ke publik sesuka hati kapan pun ia mau. Yang artinya ia tidak terpaku pada lagu-lagu tertentu. Bergerak secara underground merupakan nirwana bagi setiap musisi yang tidak suka diatur. Ia memegang kontrol penuh atas eksistensi dan royalti. Penggemarlah yang mengikuti egonya, bukan sebaliknya. Bisa jadi lagu-lagu paling keren miliknya seperti Samsara Pt. II atau Malam atau Goya yang mencangkok gesekan biola Willie The Pimp-nya Frank Zappa tidak akan lagi dimainkan di panggung dalam kurun empat tahun ke depan. Atau kalau mau dibalik, siapakah yang sekiranya masih mengingat lagu-lagu Miasma Tahun Asu di tahun 2027, ketika dia terus ketimpa katalog musik barunya yang bertambah setiap saat?

‘Aku Milenial, Aku Madesu.’     

(Masa depan suram). Itu bunyi dari sampul belakang kaset Monkshood. Kareem Soenharjo menyambut ironi dalam memandang hidup, perpaduan kebencian yang sempurna, pemuda pesimis namun ambisius, dan insting satirnya mengatakan sesuatu yang dapat memprovokasi ignoransi seperti Francis Bacon (sang filsuf, bukan si pelukis) pernah mencibir kita semua dari kalender 4 abad silam: harapan adalah menu sarapan yang baik, tetapi buruk dihidangkan untuk bersantap malam.

Puji Tuhan, saya sudah lama membanjur harapan masuk ke dalam lubang kloset, dan merasa lebih baik setelahnya. Jadi ketika menerima judul Miasma Tahun Asu sebagai hidangan makan malam yang terlambat saya malah merasa pesimis. Tapi pesimis adalah optimis yang tersembunyi. Keahlian memeliharanya merupakan keistimewaan terakhir yang dimiliki anak muda, selama mereka tetap bisa menjaga temperaturnya tidak mendidih sampai naik ke level sinis sakit gigi.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments