Legenda Hidup Qasidah Modern: Grup Nasida Ria!

• Apr 29, 2021
Legenda Hidup Qasidah Modern: Grup Nasida Ria!

Sementara bila kita mundur pada dekade 1980an dan 1990an, Nasida Ria malah telah tampil di berbagai ajang internasional. Pada 1988 mereka bermain di Malaysia. Enam tahun kemudian, bermain di Jerman pada acara Die Garten des Islam, kemudian kembali bermain di Jerman, kali ini untuk perhelatan Heimatklange Festival pada 1996.

Maju ke masa kini, memasuki 2020, datanglah pandemi. Pertunjukan-pertunjukan langsung terpaksa ditunda, tapi mereka terus bergerak dengan mengaktifkan saluran Nasida Ria Management di Youtube.  Penggemar mereka, lama maupun baru, tua maupun muda, dapat mengobati rindunya, bahkan jadi semakin dekat, senantiasa bisa menyaksikan beragam aktivitas hingga arsip-arsip pertunjukan mereka.

Bukan itu saja, pada 19 September 2020 Nasida Ria meluncurkan album terbarunya, album ke-36 berjudul Kebaikan Tanpa Sekat. Rilis album ini bertepatan dengan 45 tahun mereka berkarya.

Semua itu tentu tiada disangka kala HM Zain, seorang pemuka agama Islam di Semarang yang mendorong murid-muridnya di asrama untuk bermusik dan membentuk kelompok qasidah modern Nasida Ria pada 1975.

Berawal dari membawakan lagu berbahasa Arab dengan rebana, Nasida Ria kemudian menyertakan gitar, keyboard, seruling, kendang, tamborin, dan biola. Seluruh personil awalnya memulai belajar musik dari nol.

Tiga tahun sejak terbentuk, Nasida Ria merilis album perdana, Alabaladil Makabul bersama Ira Puspita Records. Lagu-lagu mereka seluruhnya didasarkan pada dakwah. Tiga album berikut bertema serupa dan menyertakan banyak nyanyian bahasa Arab. Adalah kyai Ahmad Buchori Masruri yang menyarankan agar Nasida Ria berubah haluan: menggunakan Bahasa Indonesia agar pesan lebih efektif disampaikan. Kyai Ahmad Buchori Masruri bahkan kerap menyumbang menulis lagu bagi Nasida Ria dengan moniker Abu Ali Haidar.

Nasida Ria pun mulai menyanyikan lagu-lagu dengan syair berbahasa Indonesia. Sementara tema lirik lagu juga semakin beragam—dari lingkup keluarga, lingkungan, hingga sosial.

Sebagai kelompok qasidah, meskipun kemampuan musik tak diragukan dan sangat terjaga, namun lirik memang hal yang mendapat perhatian penting dalam kaidah Nasida Ria. Agar syiar bertambah luas, mudah diterima oleh banyak kalangan.  Hasilnya, dalam beberapa tema lagu, lirik-liriknya malah terdengar nyentrik.

Nasida Ria pun meledak dengan lagu “Perdamaian”, tampil di TVRI, dan pentas di banyak tempat.  Lagu yang sangat klasik, hingga dibawakan ulang oleh di berbagai panggung, termasuk direkam oleh GIGI pada 2005.

Hit besar lainnya dari Nasida Ria berjudul “Kota Santri” juga banyak dibawakan ulang, salah satunya secara duet oleh Krisdayanti dan Anang. Masih ingat? Berikut liriknya…

Suasana di kota santri / Asik, senangkan hati / Tiap pagi dan sore hari / Muda mudi berbusana rapi / Menyandang kitab suci / Hilir mudik silih berganti / Pulang pergi mengaji

Duhai ayah ibu / Berikanlah izin daku / Untuk menuntut ilmu / Pergi ke rumah guru

Mondok di kota santri / Banyak ulama, kiyai / Tumpuan orang mengaji / Mengkaji ilmu agama / Bermanfaat di dunia / Menuju hidup bahagia / Sampai di akhir masa

Pada awal terbentuknya, Nasida Ria terdiri dari 9 personil. Kini hanya Rien Djamain personil awal yang tersisa. Choliq Zain, putra dari HM Zain, tampil memimpin kelompok sebagai manajer. Bersama regenerasi personil yang berlanjut, mereka terus berjalan. Hingga kini mereka telah memiliki katalog lebih dari 350 lagu untuk tampil menghibur dengan semangat awal “dakwah dalam nada”. Dengan tembok pandemi sekalipun lagu-lagu mereka terus terdengar.

Nasida Ria hari ini terdiri dari 11 personil, dari 3 generasi yang berbeda. Rien Djamain (bas) merupakan personil sejak awal terbentuk, sementara lainnya kini ada Afuwah (kendang), Nadhiroh (biola), Nurhayati (biola), Sofiyatun (keyboard), Hamidah (seruling), Nurjanah (gitar), Uswatun Hasanah (gitar), Titik Mukaromah (gitar), Siti Romnah (piano), dan Thowiyah (kendang).

Semua personil Nasida Ria minimal menguasai 3 alat musik dan dapat bernyanyi sehingga mereka bisa tampil saling bergantian di berbagai pentas. Manajernya Choliq Zain, juga membentuk kelompok baru bagi generasi penerus. Bersama Nazla Zain, putrinya, didirikanlah Ezzura, kelompok qasidah milenial dengan nuansa pop.

Choliq mengikuti jejak yang telah dirintis oleh ayahnya dahulu. Jika Nasida Ria terbentuk dari kumpulan murid mengaji, maka Ezzura terdiri dari anak-anak grup lomba rebana yang sering menang. Ezzura digawangi oleh sembilan perempuan muda.

Penulis
Harlan Boer
Lahir 9 Mei 1977. Sekarang bekerja di sebuah digital advertising agency di Jakarta. Sempat jadi anak band, diantaranya keyboardist The Upstairs dan vokalis C’mon Lennon. Sempat jadi manager band Efek Rumah Kaca. Suka menulis, aneka formatnya . Masih suka dan sempat merilis rekaman karya musiknya yaitu Sakit Generik (2012) Jajan Rock (2013), Sentuhan Minimal (2013) dan Kopi Kaleng (2016)
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

SIVIA Merilis Lagu Hening dalam “Serene”

Memasuki pertengahan bulan keenam, SIVIA kembali hadir dengan single terbarunya, “Serene”. Ini merupakan single kedua menuju peluncuran mini album yang akan datang, setelah dibuka nomor pertama “Are You My Valentine?” pada Februari 2021 lalu. …

Perjalanan Panjang Basboi dalam Album Debutnya

Setelah melalui rangkaian single-single yang dilepas secara eceran di beberapa waktu ke belakang, akhirnya Basboi resmi menutup rangkaian tersebut dengan album debutnya, Adulting For Dummies. Resmi dilepas pada hari Jumat (18/06) ini, Basboi menyuguhkan …