Mencari Kunci Isyana Sarasvati

Nov 15, 2020
Mencari Kunci Isyana Sarasvati

“Halo, nama saya Isyana Sarasvati. Saya seorang musisi, sekarang berumur 27 tahun. Sudah mau menginjak enam tahun di industri musik Indonesia.”

Mungkin ini dampak dari kelamaan di rumah akibat pandemi yang telah mengacaukan persepsi saya terhadap konsep waktu, tapi tetap ada sedikit rasa kaget saat mendengar ucapan itu keluar dari mulut sang penyanyi, musisi dan pencipta lagu tersebut. Gaya bicaranya yang energik dan kadang emosional membuatnya tampak 10 tahun lebih muda, dan bukan perempuan dewasa yang menikahi kekasihnya, Rayhan Maditra, pada Februari lalu. Isyana yang sedang mengobrol dengan saya juga tampak sangat kontras dengan dirinya saat bernyanyi opera sebagaimana terlihat di video YouTube yang sempat ramai dibicarakan beberapa bulan silam.

Agak sulit percaya bahwa hampir enam tahun telah berlalu sejak perkenalan Isyana Sarasvati dengan industri musik Indonesia, setelah masa remajanya yang penuh prestasi sebagai musisi, komponis dan penyanyi, serta masa pendidikannya sebagai mahasiswi Music Performance di Nanyang Academy of Fine Arts yang prestisius di Singapura. Masanya di Sony Music Entertainment Indonesia membawanya sampai ke Swedia untuk menulis lagu dan rekaman bersama tim produksi pop The Kennel untuk dua albumnya, Explore! (2015) dan Paradox (2017). Setelah dikenal melalui lagu-lagu manis seperti “Tetap dalam Jiwa” dan “Winter Song”, Isyana pun mengalami hal-hal yang biasa dialami siapa pun yang terjun ke industri musik, baik yang menyenangkan seperti mendapat banyak pendengar baru – termasuk para penggemar berat yang dinamakan Isyanation – maupun yang kurang enak, seperti dibanding-bandingkan dengan artis lain.

Lexicon bisa dianggap sebagai bunuh diri komersial, pada kenyataannya “Untuk Hati yang Terluka.” adalah salah lagunya yang paling banyak didengar di Spotify saat ini,

Tapi rasanya tak banyak artis di industri musik Indonesia melakukan apa yang Isyana Sarasvati lakukan di tahun 2019 lewat Lexicon, albumnya yang paling personal sekaligus paling mewakili segala kemampuannya sebagai penyanyi, musisi dan komponis. Pada albumnya yang ketiga dan terakhir untuk Sony ini, Isyana memadukan naluri pop yang sudah terasah selama beberapa tahun dengan kecintaannya akan musik klasik, opera dan progressive rock. Bagi orang awam mungkin langkah ini bisa dianggap sebagai bunuh diri komersial, tapi pada kenyataannya “untuk hati yang terluka.” adalah salah lagunya yang paling banyak didengar di Spotify saat ini, dan pada Oktober lalu Isyana mendapat empat nominasi AMI Awards 2020, termasuk di kategori Album Terbaik Terbaik.

Pada suatu siang menjelang akhir Oktober, Isyana Sarasvati mampir ke Pop Hari Ini untuk mempromosikan “Unlock the Key”, single terbaru dramatis yang direkam bersama band pengiring panggungnya, The Tuttis, sekaligus karya rekaman perdana di bawah Redrose Records, label rekaman yang baru didirikannya. Ia datang didampingi oleh manajernya, Sarah Kasenda, serta seorang asisten yang tak banyak bicara sambil mengangkat telepon genggam untuk merekam wawancara ini dalam bentuk video, sepertinya untuk tujuan dokumentasi.

Sarah adalah teman masa kuliahnya Rara Sekar, kakak Isyana yang mungkin Anda tahu sebagai separuh dari Banda Neira sebelum bubar, sepertiga dari Daramuda sebelum bubar juga, dan kini bermusik sebagai hara yang seharusnya tidak bubar karena itu adalah proyek solo. Sebelum menangani Isyana, Sarah terlibat di manajemen KLa Project dan menjadi project manager untuk konser ulang tahun ke-30 band tersebut di akhir 2018 yang juga menghadirikan Isyana sebagai salah satu bintang tamu. Ketika Isyana memasuki tahun terakhirnya di Sony dan memutuskan bahwa ia butuh manajer, maka Sarah menjadi pilihannya. “Dia punya mimpi yang jelas, dia punya visi yang jelas, dan aku merasa bisa bareng-bareng untuk memenuhi itu, untuk bisa mencapai itu satu per satu,” kata Sarah.

Berikut ini hasil obrolan selama 50 menit bersama Isyana Sarasvati, dengan sekali-sekali ditimpali Sarah, yang berlangsung di ruang kontrol Organic Studio yang berada dua lantai di atas Pop Hari Ini. Kami membicarakan perjalanan kariernya sejauh ini, termasuk proses pembuatan “Unlock the Key” yang lahir dari perang batin yang terjadi dalam diri Isyana dan hanya bisa diceritakan secara tersirat. Walau tak bisa bicara banyak tentang apa yang meresahkannya, mudah-mudahan wawancara ini bisa sedikit banyak membuka kunci ke pikiran seorang Isyana Sarasvati.

 

Bagaimana 2020 sejauh ini?
[Tertawa] Ya, enggak bisa dipungkiri 2020 cukup stres secara fisik dan batin, karena kan kita enggak pernah tahu kondisi ini akan terjadi dan kita enggak punya patokan, pedoman untuk dilihat di masa lalu juga, ya. Jadi banyak banget hal yang harus kita pikirkan untuk bisa bertahan di keadaan ini. Sulit juga, enggak semuanya mudah. Aku juga yakin cara-cara atau hal-hal yang kita lakukan belum tentu semua akan mencapai pada tujuannya, tapi enggak apa-apa. Namanya juga keadaan baru kan. Belum bulan madu! [Tertawa] Itu berpengaruh banget, gila! [Tertawa]

Kayaknya awal tahun ini bahagia banget.
Iya, kayak pas banget Februari! Pas mau bulan madu, PSBB! Ya sudahlah.

Mau tur album juga kan
Iya, mau tur album. Ya udahlah, enggak apa-apa sih. Jadi pembelajaran.

Akhirnya disibukkan dengan apa sejak enggak bisa apa-apa?
Sumpah ya, kan aku pribadi kalau ciptakan lagu, ya memang harus spontan, sesuai dengan momentum yang ada. Dan pas awal pandemi ini memang rada terkejut juga ya, jadi bikin lagu aja enggak ada semangatnya. Yang aku lakukan adalah main Animal Crossing. Aku harus berterima kasih sama Animal Crossing karena [tertawa] permainan itu sangat membantu aku untuk membunuh kejenuhan, kebosanan, kestresan karena kita membangun kerajaan kita sendiri. Itu sangat membantu di awal-awal pandemi. Pada saat kayak, “Oh, pulaunya sudah jadi, nih”, sudah bintang lima, segala macam, ya bosan juga sih.

Seiring berjalannya waktu banyak hal yang terjadi juga. Tiba-tiba bulan Juni tanggal 21, akhirnya aku bisa menulis lagu “Unlock the Key”. Ada sesuatu yang terjadi.

 

Apa itu, kalau boleh tahu?
Kalau secara spesifik aku enggak bisa jelaskan, tapi intinya ada sebuah peperangan yang terjadi di antara aku dan batin aku. Enggak ada faktor-faktor eksternal. Ini antara aku dan diri aku sendiri, dan senang banget akhirnya bisa lega karena cuma musik wadah aku bisa benar-benar terbuka dan jujur. Banyak orang yang omong pas aku baru keluarkan teaser, “Kok sekarang gelap banget ya? Dari kemarin kayak gelap banget, ya?” Karena cuma musik wadah aku bisa benar-benar menumpahkan keresahan, kegelisahan, gejolak perasaan. Kalau secara verbal, tertulis, yang kayak, “Aduh guys, hari ini…”, aku enggak pernah bisa. Jadi di lagu inilah aku bisa menumpahkan itu.

Apakah itu berhasil sebagai terapi atau proses yang masih berlangsung?
Berhasil menjadi terapi juga, tapi enggak bisa dipungkiri masih proses berjalan, lah. Di lagu ini ada kalimat “set me free from the darkness, unlock the key and step away from my life.” Di situ aku kayak memberikan doa dan semangat buat diri aku. Kayak, “Lu bisa, pasti, lu bisa keluar dari kegelapan ini.” Jadi di lagu ini menggambarkan kompleksitas dan dinamika kehidupan yang aku alami beberapa bulan terakhir, tapi juga semangat untuk aku kayak, “Lu bisa, lu bisa keluar dari sini.”

Pencerahannya apa dalam melalui ini? Apa yang ditemukan?
Yang membantu adalah…karena ini terjadi dari beberapa bulan lalu. Pada saat lagunya betul-betul rampung, semakin hari aku semakin bisa lebih mengenali diri aku lagi. Itu saja sih, paling. Masih dalam proses, tapi aku merasa sudah jauh lebih baik. Kalau dilihat, mungkin yang kemarin itu warnanya masih agak gelap. Sekarang itu sudah mulai agak lebih terang. Vibrasi juga, aku merasa antara aku dan diri aku sendiri itu terasa lebih enakan. Yang kemarin kayak amburadul banget, kayak semua rasanya redup. Tapi sekarang kayak lumayan “ah, ini sudah mulai bisa menerima lagi, mulai bisa mengikhlaskan lagi.”

Ingin menangis, tiba-tiba. [Tertawa] Oh, ini salah satu cerita tapi enggak menyambung, ya. Lexicon ini juga salah satu medium terapeutik juga buat aku, karena tadinya aku itu orangnya cukup keras. Maksudnya, enggak bisa terlalu mengekspresikan diri, apalagi ke publik. Tertutup banget. Sekarang semenjak Lexicon aku jadi jauh lebih bisa menerima, lebih ikhlas dan…saking ikhlasnya di panggung, menangis terus! [Tertawa] Yang tadinya sama sekali kayak, “Ya sudah, begitu saja”, sekarang kayak sensitif banget. Tapi aku bukan menjadikan itu kayak harus malu atau apa. Aku merangkulnya, mengeluarkan itu semua. Dan kayaknya di lagu ini juga akan seperti itu.

Berarti pas bikin “Unlock the Key” itu…
Amburadul.

Semenjak Lexicon aku jadi jauh lebih bisa menerima, lebih ikhlas dan…saking ikhlasnya di panggung, menangis terus!

[Tertawa] Kata-katanya duluan atau sudah bikin musiknya, baru kepikiran ini tentang apa?
Bareng. Tiba-tiba di hari itu, tanggal 21, aku ingat banget lagi jatuh banget, lah. Lagi enggak enak banget secara mental, badan, fisik. Enggak enak semua. Terus akhirnya aku naik ke atas, langsung ke studio sendiri, langsung ke piano, terus langsung bersenandung dan buat kordnya di tempat. Enggak pakai rumus juga, mengarang-ngarang saja dulu. Pokoknya tempel-tempel, dan kata-katanya belum lengkap semua. Masih ada yang bolong-bolong, lah. Ada beberapa yang langsung, kayak pas [Isyana bernyanyi] “lost, I am lost again, now I am alone again“, itu langsung keluar: “Ah, begini deh.” Intro juga langsung keluar, tapi ada bagian yang cepat itu, yang, “I keep falling into fear”, itu enggak langsung tiba-tiba kayak, “Wow, jenius! ‘I keep falling into fear’!” Enggak kayak begitu, sih. Ada prosesnya.

Baru satu lagu ini saja atau apakah waduknya terbuka?
Belum. Baru satu lagu ini saja.

Apakah bisa dibilang secara musik ini adalah kelanjutan dari Lexicon?
Kurang tahu! [Tertawa] Sebenarnya aku tidak pernah merumuskan musik seperti apa yang akan aku buat. Murni saja begini, yang keluar ya akan seperti ini. Ke depannya akan seperti apa, aku pun enggak pernah tahu, dan enggak akan pernah mau merumuskan karena takutnya jadi enggak jujur lagi. Ya, kalau memang ke depannya tiba-tiba, “Aduh, aku ingin mengeksplorasi genre lain” atau kayak, “Suasana hatiku kayak lagi ke sini,” aku akan mengikuti itu. Orang sekarang mungkin agak sedikit kayak, “Wah, sekarang lo Lexicon banget, ke depan pasti harus Lexicon lagi,” berharap semuanya Lexicon. Enggak bisa kayak begitu, sih. Aku selalu bilang ke pendengar aku, “Aku tidak akan mau memaksakan kehendak aku dan keinginan aku untuk berkarya. Pasti akan berevolusi lagi.” Enggak tahu, lah.

Selingan sedikit. Kemarin sempat ramai videonya yang lagi nyanyi opera…
Wow, lucu! [Tertawa] Ya, apa, lah. Lagi pandemi butuh hiburan sekali-kali.

Langsung jutaan kali ditonton.
Gila loh, itu yang tadinya enggak ada yang nonton tiba-tiba jadi lebih dari sejuta, dan komennya puluhan ribu. Ya, senang sih. Orang jadi tahu sisi lain Isyana.

Dari umur berapa nyanyi?
Nyanyi itu malah cukup akhir, ya. Pertama main instrumen dulu. Benar-benar sekolah formal nyanyi itu umur 9-10. Kalau piano, main Electone dari tujuh. Nyanyi agak telat sedikit.

Itu kemauan sendiri atau orang tua?
Enggak dong. Kalau ibu itu hanya memperkenalkan musik saja sama anak-anaknya. Pada akhirnya merasa orang tua aku selalu membebaskan mau apa saja. Apa yang mau dicapai juga, kami enggak pernah diatur. Yang penting, orang tua selalu mengingatkan, sesuai minat, yang sungguh-sungguh. “Kejarlah mimpi yang sesuai dengan minat kalian,” itu sih yang selalu kuingat. Awalnya ingin main Electone, terus piano, terus waktu itu aku ingin banget les saksofon sama flute, tapi karena kami selalu diajarkan untuk menabung dan beli barang-barang sendiri, jadinya akhirnya aku ikut ajang pencarian bakat di Bandung, se-Jawa Barat. Akhirnya aku menang Juara 1, dapat motor sama uang. Motornya aku jual, aku beli saksofon. Seru sih, prosesnya.

Aku les saksofon, les flute, terus les nyanyi. Ya sudah, berkelanjutan terus, dan aku pribadi juga enggak pernah merasa bosan dengan musik. Malah musik itu menyempurnakan kehidupan aku, jadi aku memilih musik, yakin jadi profesi. Aku sekolah musik, masuk universitas musik, dan hidup aku bakal bersama musik terus, deh. Enggak pernah tuh ada kepikiran masuk jurusan lain. Jadi sebenarnya cari mati juga. Teman-teman kayak, “Jurusannya apa?” “Plan A-nya ini, FISIP. Plan B-nya…lo apa, Syan?” “Musik.” “Yang lain?” “Enggak ada.” [Tertawa] Jadi kalau enggak sekolah musik, enggak tahu. Sama sekali enggak ada.

pas bikin “Unlock the Key” itu… Amburadul

Orang tua juga, “Ya sudah, terserah…”
Terserah. Mendukung banget, lah.

Dengan dukungan orang tua, terutama ibunya yang latar belakangnya guru musik, apakah jadi ada tekanan lebih untuk harus sesempurna mungkin dalam pencapaian?
Enggak, sih. Orang tuaku enggak pernah yang kayak, “Kamu harus selalu menjadi yang terbaik di antara yang lain!”, enggak. “Kamu harus jadi versi terbaik dari diri sendiri” saja, karena semua orang pasti beda-beda, lah. Jalan hidupnya beda-beda, terus juga memiliki karyanya masing-masing. Jangan banding-bandingkan sama orang lain. Jadi diri sendiri, dan jadilah versi terbaik dari diri sendiri juga sudah cukup, lah.

Berarti publik mulai menyadari bakat Isyana di tahun…
Jadi sebenarnya awalnya main Electone dulu, terus aku ikut lomba JOC (Junior Original Concert, program Yamaha yang memberi kesempatan bagi murid-muridnya untuk membawakan komposisi sendiri). Perlombaan itu untuk buat komposisi, terus itu dilombakan dari yang tingkat sekolah musik ke tingkat regional, nasional, terus Asia, terus dunia. Ternyata pada tahun 2008, umur 15, aku bikin sebuah lagu judulnya “Wings of Your Shadow”. Ceritanya tentang kepergian Rara. Dia harus pergi ke Amerika, jadi aku bikin lagu tentang kehilangan. Eh terus ternyata sampai 12 Besar sedunia, tahun 2008. Dan akhirnya kami dikonserkan di Jepang, di Shibuya, di Bunkamura Hall. Dari situ, orang tua aku kayak, “Wah, ini anak memang di musik. Memang suara dia itu di musik. Kita tahu dia punya kekurangan dan keterbatasan dalam berbicara, dalam verbal ada keterbatasan. Tapi ternyata suara dia adalah musik. Dia bisa melontarkan itu semua dengan lebih baik lewat musik.”

Lalu mulai mengunggah video ke YouTube…
Aduh, unggah video di YouTube yang pertama kali itu ceritanya lucu, sih. Jadi waktu aku masih kuliah di Singapura, suatu hari aku pulang, lagi liburan. Nah, Rara itu awalnya, kayak, “Eh, iringi aku,” dia bilang. “Iringi aku nyanyi lagu ini, tapi kamu jazz-jazz-kan sedikit, dong!” Tadinya begitu doang: “Oh, ya.” “Paling kamu suara duakan saja.” “Oke.” Jadi inisiasi awalnya dari Rara. Ya sudah, akhirnya kami unggah, itu 2010 kalau enggak salah. Ternyata, “Eh, ada penonton!” Ada YouTube, kita bisa membawakan lagu dan unggah itu ke media sosial. Itu kan masih baru, ya.

Dari situ ternyata ada responnya, seru dan baik. Akhirnya lama-lama, “Wah, seru juga ya mengaransemen lagu.” Ternyata aku juga punya ketertarikan dalam aransemen sebuah lagu. Dari situ aku mulai membawakan (lagu) cover, tapi enggak banyak. Itu benar-benar cuma hobi doang. Aku tetap fokus di kuliah, di klasik, kayak biasa. Kuliah dan fokus di musik klasik, tapi YouTube ini menadi hobi. Kayak waktu penyegaran buat aku. Begitu doang awalnya. Kalau dilihat, sebenarnya cover aku enggak terlalu banyak. Beberapa doang.

Kapan memutuskan untuk menjadikan ini sebuah profesi?
Dari mulai aku mulai kuliah, memang aku sudah kepikiran. Pokoknya nanti tujuan akhirnya aku mau berkarier di musik, mau berprofesi sebagai musisi. Cuma, memang enggak pernah menyangka awalnya itu bakal jadi penyanyi dan pencipta lagu yang masuk ke industri musik. Tadinya mengira bakal jadi komponis saja, pianis. Nyanyi opera saja, jadi guru musik. Bangun sekolah musik, pusat musik yang aku impikan dari dulu. Kayak begitu doang. Tapi tiba-tiba ternyata dibuka kesempatan dan jalan oleh Sony, kayak, “Yuk, coba eksplorasi diri saja. Kami melihat akar kamu memang di klasik, tapi kayaknya kamu juga bisa eksplorasi di genre yang lain.” Ya, masih agak terkejut sih, karena sebenarnya genre itu bukan genre keseharian aku.

Jadi, “Ya sudah, ayo deh.” Aku masih jiwa-jiwa umur 19-20, yang kayak, “Ayo, eksplorasi.” Akhirnya kami berangkatlah ke Swedia, dan aku eksplorasi di situ. Makanya judul albumnya Explore! Ya, memang aku lagu eksplorasi saja. Berjalan terus, sampai akhirnya keluar Paradox. Mulai paradoksikal pikirannya. Setelah itu keluarlah Lexicon.

Perjalanan saja, sih. Musik aku…ya, perjalanan hidup Isyana, lah.

Dulu saya pertama kali dengar rekamannya Isyana yang di album kompilasi Fariz RM & Dian PP In Collaboration With.
Oh, “Paseban Cafe”.

Musik aku…ya, perjalanan hidup Isyana, lah

Yang produser lagunya Mondo Gascaro. Jadi sempat berpikir mungkin musiknya akan seperti ini, tapi ternyata enggak. Dibawa ke Swedia!
Ya, ternyata enggak. [Tertawa] Tapi enggak apa-apa sih, aku tidak pernah menyesali apa pun yang telah aku lewati, karena itu adalah proses perjalanan hidup.

Yang bisa dibilang genre sehari-harinya apa pada saat itu?
Pada saat itu benar-benar klasik ya, apalagi pas kuliah setiap hari belajarnya klasik, dengarnya harus klasik, latihannya klasik. Teman-teman di sekitarannya klasik banget. Cuma, pas terjun ke industri, ya seru karena eksplorasi hal baru dan aku memang menginginkan itu juga.

Kalau nyanyi opera itu apakah ada proses persiapan yang berbeda?
Banget. Proses persiapannya beda, pemanasannya saja beda banget. Dulu kalau di kampus mau ada resital akhir atau seri konser – kami biasa ada seri konser setiap minggunya – kami harus selalu pemanasan yang betul-betul tertata, sistematik. Ada caranya, waktunya juga sangat ditentukan. Maksimal 30 menit, lah. Kalau misalkan 30-45 itu sudah enggak disarankan, karena teknik yang kita gunakan berbeda. Seluruh tubuh kami digunakan untuk bernyanyi, teknik dan rentang vokalnya juga agak lebih lebar. Jadi kami juga harus menyimpan energi itu, kan. Jadi sekitar 15-30 menit itu kami pemanasan, setelah itu kami harus minum air putih yang lebih baik adalah suhu ruangan. Jangan yang panas, juga jangan yang dingin. Orang kira panas biar enak, padahal jadi kering. Dianjurkan tidak makan permen. Aduh, berpengaruh banget deh.

Banyak banget hal yang harus diperhatikan pada saat menyanyi opera. Harus sehat fisik juga, karena sangat berpengaruh. Kami juga diajarkan beberapa trik pada saat kami merasa tidak enak badan. Terus apa lagi ya, kalau mau nyanyi klasik? Itu sih, pemanasan penting banget. Kalau pemanasannya salah, bisa ke sananya semua jadi enggak enak.

Itu dilatih terus atau cuma di saat mau tampil?
Dilatih terus, jadi kalau waktu di kampus itu kami ada kelasnya.

Sampai sekarang?
Sampai sekarang? Enggak, sih. Sekarang tergantung kebutuhan juga. [Tertawa] Jadinya dulu waktu kuliah, memang kami dilatih bagaimana cara bisa menjaga suara kami dengan baik. Apalagi ada kelasnya. Ada yang les privatnya, ada tutornya juga. Terus ada yang ansambel, terus ada juga yang kelas besar. Jadi di situ kami terus dikasih asupan.

Kalau sekarang sih aku sudah tergantung kebutuhan. Di saat merasa, “Kayaknya beberapa hari ke depan lagi enggak ada acara apa-apa,” aku malah mengistirahatkan. Misalkan ini hari Senin dan hari Jumat ada panggung, aku mulai pemanasan di Senin, Rabu dan Jumat. Enggak setiap hari juga.

Mencari Kunci Isyana Sarasvati

Isyana Sarasvati, Unlock The Key / Foto: Babam Bramaditia

Balik lagi ke era Explore!, sepertinya dulu ada semacam upaya membangun persepsi bahwa Isyana adalah saingannya Raisa.
Itu mah orang lain saja, kali. [Tertawa]

Enggak tahu itu dari mana, tapi apakah pernah merasa didorong ke situ?
Oh, enggak. Kalau dari internal, dari label, enggak ada yang pernah mendorong itu. Itu benar-benar…

Terjadi sendiri?
Terjadi dengan sendirinya. Benar-benar penggemarnya sendiri yang ribut. Aku sama Yaya (nama panggilan Raisa) pun biasa saja. Yaya juga mengontak aku duluan. Wah, gila, aku benar-benar merasa tenang banget. Bikin aku jadi semangat juga, karena Yaya sendiri juga yang, “Wah, jangan dipikirkan ya.” Itu doang.

Sempat kesal?
Kesal enggak, cuma terganggu saja. Karena kan memang sama-sama penyanyi perempuan…

Mentang-mentang perempuan?
Enggak sih, mau laki, mau perempuan, pasti ada mengalami masa-masa dibanding-bandingkan. Cuma ya, sebenarnya musiknya juga beda. Dari awal juga enggak sama banget, jadi agak bingung kenapa dibanding-bandingkan. Tapi ya sudahlah, jalan saja terus. Jangan buat aku patah semangat. Untung aku punya support system yang sangat suportif, jadi bikin aku bisa kuat juga.

Kalau boleh mengobrol sedikit tentang albumnya sendiri, di Explore! itu apa yang masih berkesan sampai sekarang, baik yang positif maupun negatif? Dari saat tiba-tiba didorong untuk membuat album yang mungkin berbeda genre.
Ini keinginan aku sendiri, sih. Maksudnya, kan lagu-lagunya juga lagu-lagu yang aku ciptakan, ya. Jadi aku enggak bisa menyalahkan pihak mana pun, karena memang ini aku lagi bereksplorasi dengan genre ini, dan aku juga mengiyakan. Kayak, “Ayo, ke Swedia, ayo workshop sama orang lain.” Jadi enggak ada hal yang aku sesali sama sekali, sih. Aku juga berterima kasih, lah. Kalau bukan karena album Explore!, rasanya aku enggak bisa ada di titik ini hari ini. Itu saja, sih.

Kapan terakhir dengar sealbum?
Baru kemarin-kemarin ini! [Tertawa] Tanya Sarah, tuh! Aku sering banget akhir-akhir ini – karena sudah ada “Unlock the Key”, ada Lexicon – aku dengar dari awal. Aku merasa perubahan…wah, gila, ini seru banget dengarnya. Perubahan yang sangat signifikan yang aku dengarkan. Selain dari musiknya, ya, kita omong vokalnya. Dulu itu vokalnya sama sekarang beda banget. Dulu itu kayak orang yang habis belajar opera, terus memaksa nyanyi pop. Yang benar-benar kayak [menyanyikan sepotong “All or Nothing” dengan bombastis] “Hari-hari kulewati!” [Tertawa] Tapi seru, kayak, “Wah, gila nih ya! Kayak belum dewasa!” Sampai sekarang, lama-lama, sudah mengerti bagaimana cara mengontrol emosi pada saat nyanyi. Terus lebih tahu bagaimana cara menggunakan dinamika menyanyi non-klasik, karena kadang-kadang enggak semua lagu nyanyinya harus seperti itu.

Seru sih, lihat evolusinya, lagu-lagunya. Terus jadi ingat-ingat lagi, ya: “Eh, enak juga yang ini! Wah, ini masih bahagia banget si Isyana yang ini!” [Tertawa] Aduh. Sekarang? [Tertawa]

Dari album itu, lagu apa yang masih favorit?
“All Over Me”, aku suka banget, sih. “Keep Being You” juga suka banget. Apa lagi, ya? Dua itu, lah.

Saat dengar kembali, masih bisa merasakan apa yang ada di situ?
Enggak, sih. Kalau relevan dengan kehidupan, ya enggak, lah. Itu kan fase hidup aku tujuh tahun yang lalu. Tapi mengingat-ingat masa itu jadi bawa ketawa: “Kata-katanya begini, euy!”

Kayak melihat buku tahunan
Iya, lihat buku tahunan! “Oh, ini Isyana umur 20, 19, kayak begini ya!” Masih [menyanyikan “Tap Tap Tap”] “Tap tap, mari berjalan!” Eh, gila. Bahagia banget hidupnya! Sampai akhirnya mulai Paradox, ya…di tengah-tengah sampai Lexicon, depresi! [Tertawa] Ya, seru, lah. Dibawa seru saja. O ya, aku juga suka banget lagu “Mimpi”. “The Way I Love You”, aku juga suka. “Di Batas Waktu”, aku suka sekali. Ini lagu yang enggak bisa dinyanyikan, kayak nyanyi “Biarkan Aku Tertidur”. Selalu getar! “Di Batas Waktu” ini lagu yang aku ciptakan untuk oma aku yang meninggal, jadi ini sangat personal.

Mungkin krisis paruh baya. Mungkin, ya. Terus akhirnya aku menulis lagu “Lexicon” untuk melupakan gejolak perasaan

Masuk ke Paradox, seperti apa pola pikirnya dibanding Explore!?
Ada sedikit pendewasaan dari Explore!. Di Paradox itu sudah mulai terjadi kontradiksi di dalam pikiran aku. Paradox sebenarnya enggak terlalu jauh berbeda dari Explore!, ya. Cuma, ada beberapa hentakan, kayak “Mad” terus “Winter Song”. Yang lain masih sama saja, sih, cuma lebih dewasa saja, kayaknya.

Secara proses kurang lebih sama dengan Explore!?
Iya, masih sama. Masih dikirim lagi ke Swedia, soalnya. Nah, terus akhirnya pas album tiga, aku bilang, “Kayaknya aku album tiga enggak mau ke Swedia lagi, deh.” Aku bilang mau mengerjakan ini sendiri. “Aku merasa ini personal banget albumnya. Kerjakan sendiri, ya?” Ya, Sony senang-senang saja juga, ya. Terus aku memilih produsernya sendiri, semua. Akhirnya jadi Lexicon, tanpa campur tangan yang lain.

Tadi belum sempat bahas favoritnya di Paradox.
“Mad!” [Tertawa]

Itu yang masih dimainkan sampai sekarang?
Ya, tapi dengan aransemen yang berbeda. “Winter Song” juga aku suka banget, ini personal banget. Terus “Lembaran Buku” oke juga. “Anganku Anganmu” (kolaborasi Isyana dan Raisa) suka karena proses pembuatannya seru banget, apalagi kami melewati fase-fase dibanding-bandingkan. Terus akhirnya kami bersatu membuktikan pada dunia bahwa tidak terjadi apa-apa, saling mendukung. Seru banget! Terus “Sekali Lagi” juga seru sih, karena kan itu pertama kalinya aku isi soundtrack film komersial.

Mulai merasakan pergejolakan apa di Paradox?
Ini tahun berapa? (2017.) Aku kan dua tahun sekali kalau mengeluarkan album. Aku orangnya lupaan. Kalau ada masalah, selesaikan masalah itu, setelah itu enggak usah lihat ke belakang, lihatnya ke depan. Hari ini dan ke depan, aku begitu sih kalau ingat ini. Apa yang terjadi, ya? Kayak parah banget, jadi Lexicon! [Tertawa]

Apakah jadi lebih susah karena sindrom album kedua?
Terasa, sih. Terasa banget. Cuma, enggak jadi problem buat aku. Ya, itu lagi: yang lewat biarkan saja, yang penting fokus di hari ini dan ke depan. Aku lupa apa yang terjadi, intinya yang terjadi adalah Lexicon. Itu gejolak perasaan mulai muncul. Mungkin krisis paruh baya. [Tertawa] Mungkin, ya. Terus akhirnya aku menulis lagu “Lexicon” untuk melupakan gejolak perasaan.

Mudahkah untuk membujuk Sony karena mau membuat musik seperti ini?Alhamdulillah mudah, ya. Aku langsung kirim demo saja: “Ini ya, lagu-lagunya.” Enggak omong apa-apa sih mereka. [Tertawa] “Oke!” “Nanti produsernya ini, rekamannya ini.” Enggak ada sama sekali intervensi, sama sekali enggak ada. Didukung penuh.

Ya, aku juga awalnya kayak, “Bagaimana ya, ini mau kirim demo.” Soalnya beda banget kan. Pembukaan dulu: “Ini demo yang aku kirimkan. Ini suasana hati aku sekarang, ini karyaku sekarang.” Ya sudah. Ternyata pas aku kasih, salah satu A&R-nya – waktu itu masih ada Inu (Mahavira Wisnu Wardhana, kini pendiri Wonderland Records) ya, kalau Inu pasti akan menerima saja artisnya apa adanya – ada satu lagi, Heddy (Ibrahim). Heddy malah omong begini, mengejutkan: “Syan, ini akar musik kamu. Enggak apa-apa!” Ya, mereka tahu dari awal. Kenapa mendekati aku, dari awal mereka bahwa awalnya aku juga ada musik klasiknya.

Apakah sebenarnya ini musik yang mau dibuat selama ini tapi dibilang nanti dulu?
Dibilang ini musik yang mau dibuat, enggak tahu juga ya. Karena itu lagi, aku selalu buat musik itu spontan saja. Takutnya kalau aku mendeklarasi, “Ya, ini musik yang aku buat,” tapi nanti album empat atau kelima tiba-tiba genre yang ga kepikiran, kan kayaknya, “Kok faktanya enggak sesuai dengan apa yang lo omong?” Jadi aku enggak pernah bisa omong itu. Intinya, aku bermusik sesuai dengan apa yang dirasakan pada saat itu. Itu saja. Di hari ke depannya kita enggak pernah tahu apa yang akan terjadi. Tapi akhir-akhir ini mungkin suasana hati lagi seperti ini.

Isyanation sangat mendukung dan mereka memang banyak yang mengikuti aku dari sebelum aku terjun ke dunia industri

Saat Lexicon keluar, bagaimana reaksi pendengar yang selama ini terbiasa dengan Explore! dan Paradox?
Sebenarnya kami agak kaget, karena satu, kami enggak kasih ekspektasi apa-apa. Yang kedua, ternyata oke juga apresiasinya. Dikira yang kayak, “Woi, dikit banget!” Tapi ternyata ada yang mengapresiasi. Orang-orang yang mungkin bukan seleranya, ya mereka jadi enggak mendengarkan lagi saja, sih. Tapi enggak pernah ada lontaran…

“Mengkhianati!”
“Mengkhianati! Kok jadi begini?” Enggak ada ya. Untungnya Isyanation dari awal mendukung banget. Isyanation yang memang resmi, mereka sangat mendukung dan mereka memang banyak yang mengikuti aku dari sebelum aku terjun ke dunia industri. Tahu aku di mana posisinya dari dulu.

Kalau nonton pertunjukan juga sudah kelihatan.
Ya, kalau Isyanation yang suka nonton dari awal pasti sudah tahu: “Haha, Isyan banget nih!” Jadi enggak terlalu terkejut, lah. Mungkin untuk orang-orang yang memang hanya mendengarkan “Kau Adalah”, “Tetap dalam Jiwa”, mungkin akan kaget. Atau malah enggak dengar juga sampai hari ini! [Tertawa] Ada saja sih orang yang kayak begitu, tapi enggak apa-apa juga.

Berarti Lexicon adalah album yang paling memuaskan sejauh ini? Paling mewakili siapa Isyana?
Paling mewakili Isyana sekarang, lah. Paling personal, lah, soalnya kan album satu dan kedua itu ada yang cerita orang, ada yang imajinasi. Kalau album Lexicon itu, “Hei! Semuanya cerita tentang saya! Saya! Me, myself and I!” [Tertawa] Personal banget, lah.

Sebagai orang yang introver, berarti lebih mudah mengekspresikan lewat musik, terutama lirik?
Ya, karena merasa lebih bebas juga. Kalau omong, jadinya berpikir dulu: “Ini omongnya benar enggak, ya?” Tapi kalau di lirik, terserah aku mau [mengutip lagu “Lexicon”] “Sang Nirwana menghadirkan mata-mata.” Kan enggak mungkin [dengan nada obrolan biasa] “Iya, Sang Nirwana menghadirkan mata-mata.” [Tertawa] Kayak, “Omong apa lu?” Tapi kalau di lirik, aku merasa bebas berekspresi. Kalau di verbal, aku merasa kayak ada rasa takut. Enggak tahu, mungkin ada sesuatu yang terjadi di masa lampau. Tapi kalau di musik, aku merasa, “Ini kan musik gue, ini karya gue. Ini yang ada di pikiran gue. Itu jujur-jujurnya.” Kalau bisa relate, alhamdulillah. Kalau enggak juga enggak apa-apa. Ternyata banyak juga yang bisarelate dengan Sang Nirwana! [Tertawa] Seru sih. Kaget sih aku.

Lagu favoritnya apa di Lexicon?
Ah, enggak bisa. Kalau di Lexicon, harus album! Karena itu kamus hidup saya.

Kontraknya di Sony memang untuk tiga album?
Ya, kontraknya memang tiga album, jadi selesai secara alamiah.

Mungkin mereka juga santai karena ini album terakhir.
[Tertawa] Enggak tahu, boleh tanya ke Sony!

Enggak ada opsi untuk memperpanjang? Atau memang tidak berminat?
Enggak sih, karena memang dari awal juga sudah tahu aku pada akhirnya mimpi jangka panjangnya punya keinginan sendiri.

Sekarang bikin label sendiri.
Ya, doakan saja. Sebenarnya label ini inginnya jangka panjang jadi rumah bagi para musisi di kemudian hari. Cuma, untuk sekarang karena pandemi, kami agak sulit juga untuk gerak. Dan kami enggak mau asal-asalan. Kami harus matang dalam setiap langkah yang kami lakukan. Jadi untuk sekarang mewadahi diri aku dulu sendiri karena aku ingin mengeluarkan karya tapi enggak ada rumahnya. Ya sudah, mau enggak mau harus mensahkan itu sekarang. Cuma, jangka panjangnya ingin ini jadi perusahaan musik yang besar. Awalannya harus sebaik mungkin.

 

Sampul Unlock the Key

Apa inspirasinya untuk bikin label?
Dari dulu memang sudah kepikiran bikin semacam rumah musik yang isinya ada produksi musik, label rekaman, sekolah musik. Seperti itulah. Inginnya itu jadi sesuatu yang besar. Sekarang mengerjakan dulu langkah demi langkah. Yang pertama adalah label rekamannya dulu. Semoga pandemi ini cepat berakhir, agar kami bisa leluasa bergerak [tertawa] dan bisa mulai merealisaskan langkah-langkah yang lain.

Kenapa namanya Redrose?
Aku membayangkan Redrose itu tegas banget, ya. Passionate. Terus misterius. Dia terlihat sangat elegan, sangat cantik, tapi dia punya aksen duri-duri. Cantik ya, tapi eh, kok galak?

(Sarah: Red rose itu kan identik dengan sesuatu yang strong, bold. Misalnya, kayak kita kasih buket bunga. Kalau mawar putih, kayaknya harus satu buket. Tapi kalau kita kasih satu tangkai mawar merah, kok kayaknya cukup?)

Pernyataan! “Saya cinta kamu!” [Tertawa]

(Sarah: Dan memang Isyana sendiri juga suka banget warna marun, merah marun. Jadi punya unsur terhadap pribadinya Isyan juga.)

Saat akan mengembangkan label ini, mencari artisnya seperti apa?
Ya, pelan-pelan. Kami benar-benar inginnya musisi-musisi, artis, seniman yang masuk ke dalam Redrose itu yang betul-betul menjadi dirinya sendiri. Butuh waktu juga, enggak akan asal juga.

Adakah yang ditakuti Isyana ke depannya?
Yang ditakuti? [Tertawa] Enggak tahu ya, aku enggak pernah menanamkan itu di dalam pikiran aku. Yang penting jalankan saja, lah. Sudah tahu juga dalam proses kehidupan akan melewati pasang dan surut. Sambil berjalan. Enggak takut juga. Takut gendut saja! [Tertawa] Itu doang. Sudah tahu di hidup pasti akan ada lika-liku kehidupan, enggak usah ada yang harus ditakuti. Kita harus berani melewati itu.

Apa kelebihan dan kekurangan dalam jalan sendiri tanpa berada di bawah label besar lagi? Atau apakah belum terasa karena ini masih baru?
Masih terasa sangat baru, ya. Belum rilis juga, malah. Jadi kami sebenarnya belum tahu, nih! Belum terlalu bisa menjawab pertanyaannya, karena sebenarnya mau di label, mau independen, ada plus minusnya, dua-duanya. Sama saja.

(Sarah: Lebih merasa terlibat secara langsung, ya.)

Ya, benar-benar bukan sisi kreatifnya, ya. Tapi sisi bisnis! [Tertawa] Wah, gila! Asyik, sih. Cuma, untuk sekarang memang belum terlalu bisa diceritakan terlalu dalam. Nanti kita wawancara lagi beberapa tahun ke depan! [Tertawa] Ya, begitulah.

Setelah semua yang telah dicapai sejauh ini, apa lagi yang dicari?
Yang dicari…untuk diri aku sendiri, enggak omong hal-hal yang lain, enggak omong Redrose, buat aku pribadi semoga bisa segera menang, melewati peperangan yang sedang ada sekarang, inner self ini. Semoga bisa cepat pulih yang sedang aku lewati. Itu saja sih buat sekarang. Menangis lagi, gila. Lemah! Lemah! [Tertawa] Aduh! Itu saja sih, kalau sekarang. Enggak tahu nanti beberapa bulan ke depan atau beberapa tahun ke depan.

Ini hal yang harus diatasi sendiri atau butuh bantuan profesional?
Kebetulan inner circle aku, terutama suami aku, dokter dan memang dia juga sangat tertarik dengan kesehatan mental. Dia juga lagi mau ambil spesialis mau jadi psikiater, mau ambil psikiatri. Jadi banyak hal yang bisa terbantu oleh dia. Saya sangat terbantu. Cuma, kalau memang saya butuh bertemu dengan profesional, saya pasti akan ke sana. Cuma, untuk sekarang aku merasa suami aku masih sangat bisa membantu aku.

(Sarah: Untuk menjadi teman diskusi. Sebetulnya kayaknya yang harus dicari memang di dirinya sendiri. Ada gejolak-gejolak saja. Kalau aku sebagai yang lihat, enggak yang harus sampai profesional. Tapi kita sama, lah. Kita semua pasti merasakan itu. Mungkin Isyana lagi di fase itu. Mungkin bisa terjawab dengan karya-karyanya, nanti selesai juga.)

Iya sih, sebenarnya begitu. Salah satunya “Unlock the Key”. Ya, semoga aku bisa segera unlock the key and get back my light.

Itu baru di beberapa bulan terakhir atau bawaan dari dulu?
Sebenarnya itu bawaan dari yang lalu-lalu juga, mungkin. Tapi mungkin benar-benar terpicu itu beberapa bulan terakhir. Sebenarnya dari sebelum Juni sudah ada yang terjadi, cuma belum bisa aku tumpahkan. Masih kayak, “Aduh, bagaimana ini?” Pada akhirnya, Juni, “Wah, gila nih!”, terus ke atas, langsung menulis dan akhirnya keluar. Habis itu terus, masih berjuang sampai detik ini. Lebih jauh lebih baik, tapi masih berjuang, lah. Belum 100 persen pulih.

Ya, semoga aku bisa segera unlock the key and get back my light.

Berarti dalam berkarya harus menunggu momennya datang?
Setiap musisi pasti beda-beda, tapi untuk aku pribadi seperti itu.

Ada impian yang belum tercapai?
Banyak. Ingin bikin sekolah musik, ingin punya studio musik kayak (Organic Records. red) ini. [Tertawa] Kolaborasi sama Jamie Cullum. [Tertawa] Wah, banyak, lah. Semoga bisa terealisasi satu hari nanti. Dimulai dari hari ini dulu, Redrose dulu. Semoga bisa berkembang ke depannya. Mencari investor! [berbicara kepada mikrifon telepon pintar saya yang sedang merekam wawancara ini] Mungkin ada yang mau bantu investasi…

Nanti dimasukkan biar bisa dibaca. [Tertawa]
[Tertawa] Makanya ini sekarang kami berjuang dulu untuk bangun image dan portfolio Redrose yang baik, yang rapi agar ke depannya bisa lebih mudah juga.

(Sarah: Banyak gagasan kreatif yang kami ingin realisasikan, dan memang kami pasti harus butuh resource yang memadai.)

Pelan-pelan lah, percaya. Positif. Kami ingin membahagiakan orang.

Ada yang menjadi semacam panutan untuk Redrose?
Kalau Redrose Records [kepada Sarah], satu, dua, tiga. [Bersama Sarah] Big Hit Entertainment! Akhir-akhir ini kami sangat tertowel oleh Big Hit Entertainment. Gila.

(Sarah: Rapid banget, soalnya. Tapi itu sebuah role model.)

Role model saja, tapi visi misinya mungkin menyesuaikan. Kami melihat apa yang mereka alami, perjalanan yang mereka alami. Dari benar-benar nol sampai sekarang bisa jadi Big Hit Entertainment. Jadi bahan bakar buat kami juga, kayak, “Oh, tak ada yang mustahil.”

Membuka Kunci Isyana

Sesi wawancara dengan Isyana Sarasvati / Foto: Martinus Ragita

 

_____

Penulis
Hasief Ardiasyah
Hasief Ardiasyah mungkin lebih dikenal sebagai salah satu Associate Editor di Rolling Stone Indonesia, di mana beliau bekerja sejak majalah itu berdiri pada awal 2005 hingga penutupannya di 31 Desember 2017. Sebenarnya beliau sudah pensiun dari dunia media musik, namun kalau masih ada yang menganggap tulisannya layak dibaca dan dibayar (terutama dibayar), kenapa tidak?
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

Daftar Musisi Berzodiak Libra

Kami sesuaikan pula lagu-lagu dari masing-masing musisinya yang mungkin bisa mewakili cerita kehidupan para Libra di luar sana di masa ini.

Gavendri – Should I | GOODLIVE Sessions

Di akhir bulan Agustus lalu, Gavendri kembali melepas satu lagi nomor yang membawa warna terbaru dari perjalanan bermusiknya, peralihan dari pop ke R&B.