Mencari Kunci Isyana Sarasvati

3021
Mencari Kunci Isyana Sarasvati
Isyana Sarasvati, Unlock The Key / Foto: Babam Bramaditia

“Halo, nama saya Isyana Sarasvati. Saya seorang musisi, sekarang berumur 27 tahun. Sudah mau menginjak enam tahun di industri musik Indonesia.”

Mungkin ini dampak dari kelamaan di rumah akibat pandemi yang telah mengacaukan persepsi saya terhadap konsep waktu, tapi tetap ada sedikit rasa kaget saat mendengar ucapan itu keluar dari mulut sang penyanyi, musisi dan pencipta lagu tersebut. Gaya bicaranya yang energik dan kadang emosional membuatnya tampak 10 tahun lebih muda, dan bukan perempuan dewasa yang menikahi kekasihnya, Rayhan Maditra, pada Februari lalu. Isyana yang sedang mengobrol dengan saya juga tampak sangat kontras dengan dirinya saat bernyanyi opera sebagaimana terlihat di video YouTube yang sempat ramai dibicarakan beberapa bulan silam.

Agak sulit percaya bahwa hampir enam tahun telah berlalu sejak perkenalan Isyana Sarasvati dengan industri musik Indonesia, setelah masa remajanya yang penuh prestasi sebagai musisi, komponis dan penyanyi, serta masa pendidikannya sebagai mahasiswi Music Performance di Nanyang Academy of Fine Arts yang prestisius di Singapura. Masanya di Sony Music Entertainment Indonesia membawanya sampai ke Swedia untuk menulis lagu dan rekaman bersama tim produksi pop The Kennel untuk dua albumnya, Explore! (2015) dan Paradox (2017). Setelah dikenal melalui lagu-lagu manis seperti “Tetap dalam Jiwa” dan “Winter Song”, Isyana pun mengalami hal-hal yang biasa dialami siapa pun yang terjun ke industri musik, baik yang menyenangkan seperti mendapat banyak pendengar baru – termasuk para penggemar berat yang dinamakan Isyanation – maupun yang kurang enak, seperti dibanding-bandingkan dengan artis lain.

Lexicon bisa dianggap sebagai bunuh diri komersial, pada kenyataannya “Untuk Hati yang Terluka.” adalah salah lagunya yang paling banyak didengar di Spotify saat ini,

Tapi rasanya tak banyak artis di industri musik Indonesia melakukan apa yang Isyana Sarasvati lakukan di tahun 2019 lewat Lexicon, albumnya yang paling personal sekaligus paling mewakili segala kemampuannya sebagai penyanyi, musisi dan komponis. Pada albumnya yang ketiga dan terakhir untuk Sony ini, Isyana memadukan naluri pop yang sudah terasah selama beberapa tahun dengan kecintaannya akan musik klasik, opera dan progressive rock. Bagi orang awam mungkin langkah ini bisa dianggap sebagai bunuh diri komersial, tapi pada kenyataannya “untuk hati yang terluka.” adalah salah lagunya yang paling banyak didengar di Spotify saat ini, dan pada Oktober lalu Isyana mendapat empat nominasi AMI Awards 2020, termasuk di kategori Album Terbaik Terbaik.

Pada suatu siang menjelang akhir Oktober, Isyana Sarasvati mampir ke Pop Hari Ini untuk mempromosikan “Unlock the Key”, single terbaru dramatis yang direkam bersama band pengiring panggungnya, The Tuttis, sekaligus karya rekaman perdana di bawah Redrose Records, label rekaman yang baru didirikannya. Ia datang didampingi oleh manajernya, Sarah Kasenda, serta seorang asisten yang tak banyak bicara sambil mengangkat telepon genggam untuk merekam wawancara ini dalam bentuk video, sepertinya untuk tujuan dokumentasi.

Sarah adalah teman masa kuliahnya Rara Sekar, kakak Isyana yang mungkin Anda tahu sebagai separuh dari Banda Neira sebelum bubar, sepertiga dari Daramuda sebelum bubar juga, dan kini bermusik sebagai hara yang seharusnya tidak bubar karena itu adalah proyek solo. Sebelum menangani Isyana, Sarah terlibat di manajemen KLa Project dan menjadi project manager untuk konser ulang tahun ke-30 band tersebut di akhir 2018 yang juga menghadirikan Isyana sebagai salah satu bintang tamu. Ketika Isyana memasuki tahun terakhirnya di Sony dan memutuskan bahwa ia butuh manajer, maka Sarah menjadi pilihannya. “Dia punya mimpi yang jelas, dia punya visi yang jelas, dan aku merasa bisa bareng-bareng untuk memenuhi itu, untuk bisa mencapai itu satu per satu,” kata Sarah.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments