678

Menjadi Indonesia: Nasionalisme Banal Ketika Tur Luar Negeri

Ilustrasi: Rosyad A.

Lekas bangun dari tidur berkepanjangan
Menyatakan mimpimu
Cuci muka biar terlihat segar
Merapikan wajahmu
Masih ada cara menjadi besar
Memudakan tuamu
Menjelma dan menjadi Indonesia

(“Menjadi Indonesia”- Efek Rumah Kaca)

 

Beberapa waktu lalu, saat band metal asal Solo, Down For Life tampil di festival metal bergengsi Wacken Open Air 2018, vokalis Stephanus Adjie dan kawan-kawan tampil garang mengenakan baju batik lusuh bermotif parang. Tampil ribuan kilometer jauh dari Tanah Air, unsur budaya Jawa ini menjadi gimmick Down For Life memperkenalkan dari mana mereka berasal. Secara musik, mereka sangat jauh dari unsur musik Jawa yang pentatonik. Tapi identitas batik yang mereka kenakan tentu memiliki tujuan politis ketika berbicara di ranah global. Sama seperti ketika kita melihat sebuah band mengenakan kimono, tentu kita akan paham identitas budaya asal pakaian tersebut.

Baca juga:  Feast, Para Pembawa Pesan

Pada 2009 lalu, hal sama dilakukan band punk Superman Is Dead ketika melakukan Tur Amerika. Tur bertajuk From Bali With Rock digelar event organizer asal Philadelpia, Mastra Production bertujuan untuk mempromosikan Bali dan Indonesia kepada publik Amerika. Saat tampil dalam tur tersebut mereka memakai baju tradisional Bali dan diiringi musik gamelan Bali. Bahkan SID membuat sebuah buklet yang menceritakan potensi budaya dan pariwisata Bali.

Superman is Dead / foto: dok. Superman is Dead

Kalau melihat hubungan antara identitas budaya lokal yang dikenakan sebuah band ketika menjalani tur di luar negeri, maka tak bisa dilepaskan dari band death metal asal Bandung, Jasad. Band ini termasuk apik memperkenalkan identitas budaya lokal Sunda, seperti iket Sunda dan pakaian pangsi. Upaya Jasad membangun “propaganda budaya” lewat musik tak hanya melalui pakaian. Jasad memadukannya pula dengan lagu-lagu yang dikenal berbahasa Sunda.

Selalu saja ada kutipan, “bangga dan haru membawa musik Indonesia” atau “mengenalkan musik Indonesia ke luar negeri”.

Tampaknya memang ada sesuatu yang berbeda ketika sebuah band akan melakukan tur ke luar negeri. Ada keinginan untuk menunjukkan identitasnya. Pada akhirnya, tujuan sebuah band tampil ke luar negeri bukan hanya karena alasan ekonomi atau pasar semata. Ada sesuatu yang bersifat kultural didalamnya.

Baca juga:  Para Pahlawan Gitar yang Terabaikan dan Ditinggalkan

Kalau saya perhatikan wawancara band atau musisi Indonesia yang akan mengadakan tur ke luar negeri maka selalu ada keinginan untuk membawa rasa ke-Indonesia-an mereka. Selalu saja ada kutipan, “bangga dan haru membawa musik Indonesia” atau “mengenalkan musik Indonesia ke luar negeri”. Tentu saja, yang saya bahas di sini bukanlah musik tradisional yang tampil di konsulat luar negeri. Atau band-band dalam negeri atas undangan para tenaga kerja Indonesia. Tapi musisi-musisi di ranah musik populer yang menjalani tur di berbagai gigs atau festival luar negeri.

Upaya yang dilakukan oleh band-band tersebut untuk “menjadi Indonesia” – mengutip judul lagu Efek Rumah Kaca – dilakukan dengan beragam cara, mulai dari mengenakan pakaian tradisional, menyematkan unsur musik tradisi, atau yang paling lazim, menggunakan bendera merah putih sebagai bagian latar pertunjukan. Pada akhirnya, musik kemudian mampu menjadi media untuk membangun perasaan nasionalis.