Menjura Kepada Maudy Ayunda

Jul 23, 2021

“Aku amat familiar dengan Karl Marx. Saya suka pemikirannya tentang konsep materialisme, materialisme dialektika,” tutur Maudy Ayunda.

Kutipan tersebut diambil dari wawancara Maudy Ayunda dengan Tempo pada 2013 silam. Pada masanya waktu itu, saya ingat betul pernyataan Maudy ini lumayan bikin geger, terutama di kalangan kiri-kiri-an dan ranah pergerakan.

Kenapa bikin geger? Kalau yang ngomong memang seorang yang biasa menulis di situs web Indoprogress sih mungkin biasa saja. Tapi ini yang ngomong adalah Maudy Ayunda, seorang yang masih sangat muda—pada saat wawancara Tempo itu ia masih berusia 18 tahun—namun sudah menjadi pesohor karena sepak terjangnya di dunia film dan musik.

Memang kenapa kalau seseorang familiar dengan gagasan materialisme dialektika? Ya nggak kenapa-kenapa, sih. Cuma sebagaimana kita ketahui, di Negeri +62 ini Marxisme adalah paham yang diharamkan. Maka, materialisme dialektika sebagai salah satu gagasan termahsyur Kar Marx juga pantang dibicarakan.

pernyataan Maudy soal Marxisme ini lumayan bikin geger, terutama di kalangan kiri-kiri-an dan ranah pergerakan.

Wajar jika kemudian ada kegemparan ketika seorang pesohor muda bicara kepada media nasional mengaku bahwa ia familiar dengan teori yang bilang bahwa materi adalah sesuatu yang mutlak dan absolut di semesta, dan hal-hal gaib dan klenik seperti eksistensi jiwa itu tidak nyata.

Ayunda Faza Maudya alias Maudy Ayunda memang sosok yang istimewa. Kariernya moncer di banyak bidang. Di usia yang masih muda ia sudah memiliki sederetan prestasi dan karya. Di ranah musik Maudy sudah merilis tiga buah album penuh, dan 15 single. Sementara di bidang film, ia sudah membintangi 14 judul film.

Tak hanya di ranah hiburan, Maudy juga moncer di ranah akademis. Ia lulus kuliah dari dua kampus prestisius, S1 di Oxford, dan S2 alias master di Stanford. Kemashyuran Maudy Ayunda sampai senmpat bikin ibunya khawatir. Mauren Jasmedi sempat memberi wejangan pada putrinya bahwa jangan pintar-pintar, takutnya nanti jadi nggak asyik lagi.

Seolah semakin melengkapi titelnya sebagai seorang sosok yang progresif, Maudy juga aktif bergerak di bidang aktivisme. Tercatat bahwa Maudy bergerak di kampanye anti perbudakan modern. Maudy memanfaatkan posisinya sebagai pesohor untuk menggetok kesadaran publik bahwa perbudakan modern itu ada dan harus dimusnahkan.

Mauren Jasmedi sang ibu sempat memberi wejangan pada putrinya bahwa jangan pintar-pintar, takutnya nanti jadi nggak asyik lagi.

Di musiknya, Maudy kebanyakan memang berbicara perkara afeksi sebagaimana lazimnya topik musik pop niaga. Dengan aransemen musik tipikal pop niaga di mana ada string section yang mengalun, Namun, ada satu lagu istimewa yang diambil dari album penuh ketiganya Oxygen yang menurut saya cukup progresif. Lagu itu bertajuk “Jakarta Ramai”.

 

Jakarta Ramai dan Alienasi

Di tulisan saya mengenai musik dan politik otentik, saya pernah bilang bahwa bentuk partisipasi politik oleh para musisi tidak terjebak genre atau jenis musik. Perlawanan atau sikap politik radikal tak harus melulu jadi hak eksklusif aliran punk. Mau musiknya pop, dangdut, indie, rock, semua punya hak yang sama: melontarkan gagasan politik.

Melalui lagu “Jakarta Ramai”, Maudy Ayunda melontarkan gagasan politik itu. Aransemen lagu ini memang manis nian. Jalinan antara gitar akustik, instrumen perkusi, dan dentingan glockenspiel. Aransemennya sungguh bikin kita terhanyut menikmatinya.

Namun, jangan salah. Aransemen musik boleh manis semanis aspartame, tapi lirik dari lagu ini kalau kita dalami bisa saja bikin hati masygul membayangkan malang nian orang-orang yang tinggal di Jakarta.

Perlawanan atau sikap politik radikal tak harus melulu jadi hak eksklusif aliran punk. Melalui lagu “Jakarta Ramai”, Maudy  melontarkan gagasan politik itu

“Jakarta Ramai” membicarakan apa yang—lagi-lagi—Karl Marx sebut sebagai alienasi. Dalam pandangan Marx, alienasi menjelaskan bagaimana alienasi sosial menjadikan manusia terasing dari aspek sosialnya yang secara natural ia miliki. Hal ini disebabkan karena adanya stratifikasi kelas sosial di kehidupan masyarakat.

Sederhananya, orang-orang yang hidup di wilayah urban yang harus terus bergerak demi perputaran kapital—dalam kasus ini Jakarta—terlampau sibuk bekerja demi menjaga perputaran kapital ini. Sampai mereka tak punya kesempatan untuk menikmati hak asasinya sebagai manusia.

Maudy Ayunda melalui “Jakarta Ramai” mengisahkan alienasi ini. Ia bertanya “Apa kabar mimpi-mimpimu? Apa kau tinggal begitu saja? Apa kabar angan-anganmu hari ini?” Begitulah manusia yang menetap di Jakarta. Kesibukan menjaga perputaran kapital menjadikan mereka lupa dengan mimpi-mimpi personalnya, dengan angan-angannya.

Manusia malang ini seperti tak punya waktu, tak sempat untuk berangan-angan. Lebih lanjut Maudy berkata “Jakarta ramai, hatiku sepi. Jangan kau tanya, “Mengapa sedih?” ‘Ku tak tahu, ‘ku tak tahu Apa arti resah ini.” Alienasi menjadikan adanya garis demarkasi antara satu manusia dengan manusia lain, wajar jika kemudian banyak orang merasa kesepian meski berada di sebuah kota yang sungguh ramai, dan mereka semua bersedih karena itu.

Apakah privilese atau hak istimewa itu memengaruhi sepak terjang Maudy Ayunda dalam meraih sebuah pencapaian?

Seolah makin menggambarkan sedih tak tepermanai yang mendera manusia-manusia di Jakarta ini, Maudy menutup lagunya dengan bait “Langitnya abu, hatiku biru. Banyak hal baru tapi ‘ku lesu.” Sudah berhati biru alias sedih, lesu pula di tengah banyak hal baru.

Saya bisa menyimpulkan bahwa di kancah musik pop niaga, lagu “Jakarta Ramai” milik Maudy Ayunda ini adalah juara. “Jakarta Ramai” menegaskan bahwa bicara ihwal sosial politik itu tidak melulu menjadi hak eksklusif genre musik cadas. Pop niaga sekalipun bisa bicara kritik sosial.

 

Privilese

Saya telah memikirkan hal ini sejak lama. Pertanyaan ini sekian lama menghantui saya dan berusaha saya jawab: apakah privilese atau hak istimewa itu memengaruhi sepak terjang seseorang dalam meraih sebuah pencapaian?

Pertanyaan saya ini bisa digunakan juga untuk membedah berbagai pencapaian Maudy Ayunda. apakah privilese atau hak istimewa itu memengaruhi sepak terjang Maudy Ayunda dalam meraih sebuah pencapaian?

Sebelumnya kita harus pahami dulu bagaimana cara privilese bekerja. Sebab, jika kita tidak pahami dulu cara bekerja privilese ini, seringnya kita akan terjebak di premis bahwa “orang-orang yang punya privilese tidak bekerja dengan keras.”

Maudy tentu bekerja dan berupaya sangat keras di semua bidang yang ia geluti tersebut: musik, film, akademis, aktivisme

Analoginya begini. Anggaplah ada dua orang yaitu si A dan si B. Keduanya berjibaku di satu bidang yang sama. Bedanya si A memiliki privilese atau hak istimewa, sedangkan si B tidak. Si A secara otomatis memiliki return of investment yang lebih cepat karena ia memiliki privilese itu. Artinya, meski bergerak di bidang yang sama, bekerja sama kerasnya, serta memulai mengerjakan bidang itu di titik start yang sama, si A yang memiliki privilese akan selalu berada di titik yang lebih tinggi ketimbang si B.

Menurut hemat saya, Maudy Ayunda adalah sosok A itu. Bukan berarti ia tidak bekerja keras, ya. Maudy tentu bekerja dan berupaya sangat keras di semua bidang yang ia geluti tersebut: musik, film, akademis, aktivisme. Namun, Maudy memiliki privilese yang lebih memuluskan jalannya di berbagai bidang tersebut, dan menurut hemat saya, privilese tersebut adalah sokongan luar biasa dari keluarganya.

Ketika Maudy Ayunda lulus dari Stanford dan fotonya beredar di media sosial, saya sempat membaca sebuah cuitan di twitter yang saya lupa link-nya tapi seingat saya kurang lebih bicara begini, “Maudy Ayunda beruntung memiliki orang tua yang model pengasuhannya sangat mendukung segala hal yang dilakukan anaknya.”

Tidak semua orang punya privilese itu. Maka, Maudy Ayunda dengan segala kerja kerasnya dan privilese-nya bisa dibilang cukup beruntung.

Maka, dengan segala prestasi dan pencapaian yang diraih pemeran Zakiah Nurmala dalam film Sang Pemimpi ini, saya menjura kepada Maudy Ayunda. Sambil harap-harap cemas semoga Maudy menulis dan merilis lagi lagu keren seperti “Jakarta Ramai”.

 

____

 

Penulis
Aris Setyawan
Etnomusikolog dan musikus. Co-founder dan editor Serunai.co. Bercerita di arissetyawan.net.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

Album Ningrat, Jamrud: Kontrasepsi dan Duka Surti

21 Tahun album Ningrat milik Jamrud , gitaris dan penulis lagu Azis M.Siagian sempat bikin geger tahun 2000 lewat “Surti-Tejo”.

Sinergi Sri Hanuraga dan UPH CoM

Adalah musisi jazz Sri Hanuraga bersama dengan UPH Conservatory Of Music yang mengambil sinar panggung kolaborasi kali ini.