Menonton Konser Seharusnya Aman Untuk Semua

Oct 24, 2019

Dua hari yang lalu, ketika sedang menyusuri linimasa Twitter, saya tersentak membaca cuitan akun seorang perempuan yang bercerita bahwa dia mengalami pelecehan seksual ketika sedang menonton konser. Lebih kaget lagi ketika membaca bahwa yang mengalami ternyata lebih dari satu orang.

Ketika saya melihat video dari kerumunan penonton yang sedang menonton band tersebut, penontonnya memang penuh luar biasa. Acaranya gratis, diadakan di sebuah mall, tidak ada jarak antar penonton dan entah kenapa saya juga yakin kalaupun saat itu si mbak yang mengalami berteriak, bisa jadi teriakannya akan tenggelam oleh suara penonton lain yang tentu saja sedang bernyanyi.

sosialisasi aturan-aturan untuk membuat moshing pit/area konser aman untuk semua orang

Peristiwanya sudah terjadi. Saya berdoa semoga yang mengalami cepat pulih dari trauma. Dari pihak band juga sudah ada upaya untuk mendidik para penonton juga penggemarnya lewat semua akun media sosial dan juga mengupayakan sebuah gerakan untuk memberi tanda bahaya berupa video/gif/gambar SOS jika terjadi sesuatu pada penonton konser dimanapun.

Sebagai penonton perempuan, tentu saja saya langsung berempati karena langsung terlintas, bagaimana kalau hal yang sama terjadi pada diri saya sendiri. Sebagai penyelenggara konser, saya langsung berpikir tentang sosialisasi aturan-aturan untuk membuat moshing pit/area konser aman untuk semua orang, apapun gendernya. Sebagai pembaca komen di media sosial saya kesal dengan jawaban netizen yang bilang bahwa sebaiknya penonton perempuan tidak datang ke konser gratisan dan lebih kesal lagi dengan pernyataan bahwa ada yang menyaksikan peristiwanya tapi tidak melakukan apa-apa.

Pembiaran, adalah hal yang berbahaya. Saya membayangkan kalau saja orang yang menyaksikan peristiwanya melakukan sesuatu, misalnya menegur orangnya secara langsung atau memberitahu pihak keamanan mungkin korbannya lebih sedikit atau mungkin saja peristiwanya tidak akan terjadi. Kalau saja banyak dari kita sesama penonton konser lebih waspada, mungkin peristiwanya bisa dicegah dan masih banyak kalau-kalau lainnya yang sayangnya seringkali tidak terjadi karena kita luput memperhatikan sekitar atau luput karena menganggap itu bukan urusan kita.

Berbicara tentang pelecehan seksual, stigma yang paling kuat muncul rasanya selalu yang salah adalah korban. Misalnya, “salah lu dateng ke konser gratisan”. Meski mungkin ada faktor manajemen kerumunan yang kurang baik, yang salah bukan acara dan konsernya. Yang salah adalah ada orang yang memanfaatkan situasi untuk melecehkan dan salahnya ada pembiaran yang terjadi. Baik dari lingkungan atau normalisasi dari peristiwa pelecehan tersebut.

Pembiaran, adalah hal yang berbahaya

Saya merasa mual ketika membaca beberapa jawaban seperti “mbak masih lebih beruntung”, atau “saya juga sering mengalami hal yang sama”, atau “saya sudah kapok datang ke konser karena setiap kali datang saya mengalami pelecehan”. Tidak ada yang lebih beruntung dan tidak seharusnya yang datang ke acara musik mengalami hal itu.

Stigma lain dari urusan pelecehan seksual adalah gender. Karena memang yang lebih sering mengalami adalah perempuan. Padahal mungkin teman lelaki juga ada yang mengalami.

Saya tidak mau terjebak pada dikotomi gender seperti bahwa perempuan lebih lemah dan butuh perlindungan. Karena semua orang selalu butuh jaminan keamanan. Khususnya untuk kasus nonton konser, setiap orang yang datang, butuh akses keamanan untuk peristiwa buruk yang bisa saja terjadi.

Band-band yang penontonnya punya energi untuk stage dive/moshing harus punya usaha lebih untuk mendidik para penggemarnya untuk saling menjaga terutama di barisan depan

Saya baru mengerti ketika seorang teman penyelenggara festival bercerita kalau dia selalu meminta beberapa tentara atau polisi atau pihak keamanan untuk berkeliling patroli di acara yang dia selenggarakan. Ternyata itu memang disengaja sebagai peringatan bagi orang-orang yang berniat buruk seperti misalnya ada yang mau kurang ajar atau mau malak/memeras penonton yang di bawah umur, untuk pencopet dan lain sebagainya.

Hal lain yang bisa diambil dari peristiwa ini adalah bagaimana band kemudian memang harus punya usaha lebih untuk mendidik para penggemarnya untuk saling menjaga terutama di barisan depan. Apalagi untuk band-band yang penontonnya punya energi berlebih untuk stage dive/moshing. Atau band memang harus punya standar keamanan untuk penonton yang bisa dikompromikan dengan panita dan lebih selektif memilih acara.

Saya punya sebuah band idola yang melakukan hal itu. Mereka selalu mengabsen penonton perempuan dan mengingatkan penonton laki-lakinya untuk selalu saling menjaga. Untuk mereka, saya punya jarak aman untuk menonton dan kalau areanya memungkinkan, saya biasanya memilih untuk berada di garis depan.

Dan saya tidak mau karena peristiwa ini banyak teman perempuan yang jadi kembali takut datang ke konser

Sepuluh tahun terakhir, saya sering pergi ke konser, lokal dan beberapa kali nonton konser ke luar negeri. Sebagai penonton perempuan, saya adalah penonton yang sampai saat ini dan semoga sampai kapanpun tidak pernah mengalami peristiwa seperti di atas. Mungkin karena privilege dari profesi saya yang banyak berhubungan dengan band membuat saya punya pengetahuan dan jaringan teman yang selalu punya ruang untuk membuat saya menonton dengan aman. Memilah konser mana yang saya mau dan bisa menonton dari garis depan, konser mana yang saya cukup nonton dari barisan belakang atau konser mana yang saya sampai berani stage diving. Hal itu tidak datang dalam pengalaman satu atau dua kali menonton konser tapi terbangun dengan sendirinya setelah bertahun-tahun.

Beberapa tahun terakhir, saya sangat senang setiap kali melihat ada perempuan lain yang juga melakukan hal yang sama karena satu dekade yang lalu, perempuan yang datang ke festival musik masih hitungan jari. Dan saya tidak mau karena peristiwa ini banyak teman perempuan yang kemudian jadi kembali takut untuk datang ke konser.

Konser adalah arena bersenang-senang untuk para penggemarnya bertemu dengan band kesukaan dan bukan untuk mencari celaka. Baik itu konser berbayar atau juga konser gratis. Tanggung jawab panitia penyelenggara sudah tentu lebih besar untuk acara gratis karena tidak bisa mengukur jumlah penonton yang datang dan tidak tersaring penonton seperti apa yang akan datang. Kalau terjadi apa-apa, sudah tentu selain panitia, band dan skena adalah pihak yang akan menanggung akibatnya. Untuk urusan over kapasitas, Bandung sudah pernah punya pengalaman buruk dan semoga itu tidak pernah terjadi lagi dimanapun.

Konser berbayar ataupun gratis adalah arena bersenang-senang para penggemar bertemu dengan band kesukaan dan bukan untuk mencari celaka

Sebagai penutup dari tulisan ini, saya akan berbagi beberapa aturan tidak tertulis sebagai bekal untuk para penonton konser terutama untuk para penonton baru dari band-band yang para penontonnya cenderung merusuh atau mungkin saja belum punya pengetahuan yang cukup sebagai penonton konser.

Peraturannya, sebagai berikut:

  1. Pakaian yang aman dan nyaman untuk menonton konser. Sesuaikan dengan acara, outdoor atau indoor, lapangan rumput atau paving block, beraspal atau jalanan becek dan lain sebagainya.
  2. Perhatikan situasi, terutama untuk band-band yang kamu tahu penontonnya seringkali membuat barisan depan jadi arena moshing/pogo/slam dance/berjoget tidak jelas main tubruk sana sini.
  3. Tentukan jarak aman. Sebetulnya untuk para penonton musik keras, biasanya area akan langsung terbagi jadi area depan panggung yang dikosongkan untuk mosh pit dan akan ada orang-orang yang otomatis membuat batas aman penonton yang mau ada didepan tapi tidak mau ikut moshing atau yang sewaktu-waktu mau ikut moshing. Untuk festival juga biasanya di area belakang juga akan ada lingkaran dimana para penonton beradu kemampuan jago-jagoan dansa ga jelas, yang ini biasanya untuk bocah-bocah dibawah umur yang ingin moshing tapi kalah besar badannya oleh kakak-kakaknya.
  4. Titipkan barang-barangmu seperti handphone, aksesoris kacamata, tas atau barang-barang yang rawan jatuh jika kamu memutuskan untuk melakukan stage dive/crowd surf.
  5. Pastikan kamu tahu resikonya karena mosh pit biasanya adalah area full body contact. Jangan marah kalau tersenggol, kepala kena kaki, terdorong sampai jatuh, ini bukan area untuk berantem. Jangan kampungan.
  6. Waspada dan selalu siap angkat setiap ada yang crowdsurf/stage dive karena siapa tahu kamu juga ingin melakukan hal yang sama. Tapi tahu diri juga. Kalo kamu badannya besar, kasian yang ngangkatnya. 🙁
  7. Bantulah setiap orang yang jatuh dan atau mengalami kesulitan. Pastikan kamu langsung menghubungi panitia dan atau pihak keamanan kalau hal yang terjadi diluar kemampuanmu untuk membantu.
  8. Kalau kamu menemukan barang jatuh, minggir sejenak, angkat ke atas untuk mencari pemiliknya atau serahkan pada panitia.
  9. Jangan melempar sesuatu. Entah botol minum, sisa makanan atau apapun. Ini bukan area jumroh untuk mengusir setan.
  10. Jangan sampai dehidrasi. Minum yang cukup, bekal tumblr isi air putih karena energi untuk moshing itu bikin capek dan sesak nafas kayak abis lari keliling lapang sepuluh kali.
  11. Kalau kamu atau temanmu terlalu mabuk dan tidak bisa dikontrol kelakuannya, sebaiknya menjauhlah dari area karena kalau kelakuanmu norak, itu artinya kamu mengganggu orang lain dan bisa jadi mengganggu jalannya pertunjukan, jangan sampai diusir oleh pihak keamanan.
  12. Buatlah mosh pit aman untuk semua. Karena itu area untuk bersenang-senang dan melepas energi bersama band kesayangan, bukan area untuk rese, mencari keributan, mencelakakan dan melecehkan orang lain.

Seperti itu. Semoga berguna, silakan disebarkan untuk pengetahuan teman-teman lainnya. Mari kita saling jaga dan selalu saling mengingatkan dimanapun kita menonton konser.

 

____

Penulis
Boit
Ibu dua putri yang katanya senang membaca dan mendengarkan musik. Seringnya ngurusin toko buku, musik dan pernak-pernik musik Omuniuum, kadang juga ngurus Limunas (Liga Musik Nasional).

Eksplor konten lain Pophariini

Makassar Bukan Lagi Hanya Sekadar Daerah

Tulisan kempat Bising Kota kali ini ditulis langsung oleh Brandon Hilton dari Makassar

Portree Saling Menguatkan di Single “Jingga”

Portree mendedikasikan lagu “Jingga” untuk teman dan sahabat yang berada di lingkaran mereka, yang selalu hadir dan terlibat di setiap langkah Portree.