188

Menonton Konser Seharusnya Aman Untuk Semua

Ilustrasi @abkadakab

Dua hari yang lalu, ketika sedang menyusuri linimasa Twitter, saya tersentak membaca cuitan akun seorang perempuan yang bercerita bahwa dia mengalami pelecehan seksual ketika sedang menonton konser. Lebih kaget lagi ketika membaca bahwa yang mengalami ternyata lebih dari satu orang.

Ketika saya melihat video dari kerumunan penonton yang sedang menonton band tersebut, penontonnya memang penuh luar biasa. Acaranya gratis, diadakan di sebuah mall, tidak ada jarak antar penonton dan entah kenapa saya juga yakin kalaupun saat itu si mbak yang mengalami berteriak, bisa jadi teriakannya akan tenggelam oleh suara penonton lain yang tentu saja sedang bernyanyi.

sosialisasi aturan-aturan untuk membuat moshing pit/area konser aman untuk semua orang

Peristiwanya sudah terjadi. Saya berdoa semoga yang mengalami cepat pulih dari trauma. Dari pihak band juga sudah ada upaya untuk mendidik para penonton juga penggemarnya lewat semua akun media sosial dan juga mengupayakan sebuah gerakan untuk memberi tanda bahaya berupa video/gif/gambar SOS jika terjadi sesuatu pada penonton konser dimanapun.

Baca juga:  Nasionalisme Seorang Pelaut Handal Bernama Rich Brian

Sebagai penonton perempuan, tentu saja saya langsung berempati karena langsung terlintas, bagaimana kalau hal yang sama terjadi pada diri saya sendiri. Sebagai penyelenggara konser, saya langsung berpikir tentang sosialisasi aturan-aturan untuk membuat moshing pit/area konser aman untuk semua orang, apapun gendernya. Sebagai pembaca komen di media sosial saya kesal dengan jawaban netizen yang bilang bahwa sebaiknya penonton perempuan tidak datang ke konser gratisan dan lebih kesal lagi dengan pernyataan bahwa ada yang menyaksikan peristiwanya tapi tidak melakukan apa-apa.

Pembiaran, adalah hal yang berbahaya. Saya membayangkan kalau saja orang yang menyaksikan peristiwanya melakukan sesuatu, misalnya menegur orangnya secara langsung atau memberitahu pihak keamanan mungkin korbannya lebih sedikit atau mungkin saja peristiwanya tidak akan terjadi. Kalau saja banyak dari kita sesama penonton konser lebih waspada, mungkin peristiwanya bisa dicegah dan masih banyak kalau-kalau lainnya yang sayangnya seringkali tidak terjadi karena kita luput memperhatikan sekitar atau luput karena menganggap itu bukan urusan kita.

Baca juga:  Fakta 20 Tahun Album Debut Sheila On 7

Berbicara tentang pelecehan seksual, stigma yang paling kuat muncul rasanya selalu yang salah adalah korban. Misalnya, “salah lu dateng ke konser gratisan”. Meski mungkin ada faktor manajemen kerumunan yang kurang baik, yang salah bukan acara dan konsernya. Yang salah adalah ada orang yang memanfaatkan situasi untuk melecehkan dan salahnya ada pembiaran yang terjadi. Baik dari lingkungan atau normalisasi dari peristiwa pelecehan tersebut.

Pembiaran, adalah hal yang berbahaya

Saya merasa mual ketika membaca beberapa jawaban seperti “mbak masih lebih beruntung”, atau “saya juga sering mengalami hal yang sama”, atau “saya sudah kapok datang ke konser karena setiap kali datang saya mengalami pelecehan”. Tidak ada yang lebih beruntung dan tidak seharusnya yang datang ke acara musik mengalami hal itu.

Stigma lain dari urusan pelecehan seksual adalah gender. Karena memang yang lebih sering mengalami adalah perempuan. Padahal mungkin teman lelaki juga ada yang mengalami.

Baca juga:  Menjadi Indonesia: Nasionalisme Banal Ketika Tur Luar Negeri

Saya tidak mau terjebak pada dikotomi gender seperti bahwa perempuan lebih lemah dan butuh perlindungan. Karena semua orang selalu butuh jaminan keamanan. Khususnya untuk kasus nonton konser, setiap orang yang datang, butuh akses keamanan untuk peristiwa buruk yang bisa saja terjadi.

Band-band yang penontonnya punya energi untuk stage dive/moshing harus punya usaha lebih untuk mendidik para penggemarnya untuk saling menjaga terutama di barisan depan

Saya baru mengerti ketika seorang teman penyelenggara festival bercerita kalau dia selalu meminta beberapa tentara atau polisi atau pihak keamanan untuk berkeliling patroli di acara yang dia selenggarakan. Ternyata itu memang disengaja sebagai peringatan bagi orang-orang yang berniat buruk seperti misalnya ada yang mau kurang ajar atau mau malak/memeras penonton yang di bawah umur, untuk pencopet dan lain sebagainya.