Pentingnya Album OST Darah Muda dalam Karier Rhoma Irama

Feb 16, 2024

Sudah hampir setengah abad Soundtrack Film (OST) Darah Muda dibuat. Tepatnya pada tahun 1977, sebuah OST mengudara bersamaan dengan peluncuran film Darah Muda [i]yang dibintangi oleh Rhoma Irama, Yati Octavia, Ucok Harahap, dkk.

Alih-alih hanya menggenapi dan menghiasi adegan dalam film, OST ini patut dibicarakan lebih. Pasalnya OST ini tak hanya sekadar saja, melainkan menjadi bukti perlawanan Rhoma Irama terhadap sengitnya pertarungan melawan kalangan rock. Pun dari lintasan waktu, OST ini juga menjadi manifestasi—sekaligus eksplorasi musik Rhoma Irama yang terakhir—sebelum perseteruan didamaikan pada 31 Desember 1977.

Hal yang menggembirakan, Elevation Records turut mengapresiasi OST Darah Muda, dengan me-reissue-nya dalam bentuk piringan hitam 12” pada penghujung tahun 2023. Bahkan album tersebut di-remaster oleh sound engineer, Bill Skibbe dari Third Man Mastering. Mendengar Taufiq Rahman, selaku penggagas, mendiskusikan album tersebut pada hari Jum’at (22/12/23) beberapa pekan lalu, terkesan jika salah satu tujuan album ini di-reissue guna mentransmisikan pencapaian sang raja dangdut kepada para darah muda masa kini.

Alih-alih hanya menggenapi dan menghiasi adegan dalam film OST ini tak hanya sekadar saja, melainkan menjadi bukti perlawanan Rhoma Irama terhadap sengitnya pertarungan melawan kalangan rock

Tentu ini membahagiakan, tetapi apakah generasi muda tahu pencapaian apa yang telah Rhoma Irama raih di album OST Darah Muda? Perlawanan macam apa yang Rhoma ciptakan di dalam OST tersebut? Mengapa OST ini penting?

 

Darah Muda: Dari Lagu ke Album, lalu Soundtrack Film [ii]

Tidaklah sulit menyebut lagu-lagu hits karya raja dangdut, Rhoma Irama bersama Soneta. Sekitar 900-an lagu yang telah ia rilis, ada banyak yang dengan mudah terlintas, mulai dari “Begadang”, “Dangdut/Terajana”, “Judi”, “Mirasantika”, “Musik”, “Viva Dangdut”, “Cuma Kamu”, “Rupiah”, “Darah Muda”, dan masih banyak lainnya. Namun, dari sekian banyak lagu Rhoma Irama, lagu “Darah Muda” merupakan salah satu lagu yang penting dibicarakan. Pasalnya lagu ini diciptakan pada tahun 1975, tetapi tercatat telah enam kali dialbumkan, yakni Vol 4: Darah Muda (1976), OST Darah Muda (1977), Album Spesial: Haram (1990), Album Spesial: Baca (1995), Album Spesial: Jana-Jana Syahdu (2008), dan Boxset Soneta edisi 50 tahun (2020).

Setelah mendengarkan hampir semua lagu di album-album tersebut, saya hanya mendapati dua versi “Darah Muda”, yakni versi lagu dan versi film. Enam album tersebut memiliki “Darah Muda” versi lagu, tetapi hanya di OST Darah Muda-lah terdapat dua versi dalam satu album. Bahkan, jika “credit title” dihitung sebagai versi yang lain dari “Darah Muda”—sesederhana terdengar ada lantunan “Darah Muda” di dalamnya—, maka di OST jugalah versi itu berada. Kendati demikian, ini bukan soal kuantitas versi, melainkan apa kegunaan versi “Darah Muda” yang berbeda? Perbedaan macam apa yang signifikan pada versi-versi tersebut? Apa yang menarik pada versi lagu? Dan, apa yang penting pada versi film?

Atas dasar itu, Saya memulainya dari versi lagu “Darah Muda”, khususnya dari album ketiga yang memuat lagu tersebut, Haram (1990). Album ini menjadi pertama saya bahas karena aransemen lagu “Darah Muda” inilah yang diputar dan sering dipanggungkan di pentas-pentas sang raja dangdut bersama Soneta hingga hari ini. Jika Anda mendengarkan lagu “Darah Muda” pada konser Soneta sedari tahun 1983, kemungkinan besar aransemen inilah yang Anda dengar di konser-konsernya. Tidak hanya itu, “Darah Muda” di album Haram juga menjadi aransemen yang digunakan di album-album setelahnya, seperti “Darah Muda” di Album Spesial: Baca (1995), Album Spesial: Jana-Jana Syahdu (2008), serta Boxset Soneta edisi 50 Tahun.

Pada album spesial Haram (1990), sebenarnya tiada beda dengan semua versi lagu “Darah Muda” di album-album lainnya. Ia tetap berstruktur lagu: intro, verse, bridge, chorus, verse, bridge, chorus, verse, outro. Struktur ini jugalah yang menjadi pakem dari versi lagu “Darah Muda”. Namun, yang membedakan “Darah Muda” pada album Haram adalah aransemen yang sudah dilengkapi dengan brass section, yakni trompet, saksofon tenor, dan saksofon alto—sebagaimana pada formasi Soneta 1982 terdapat penambahan instrumen tiup. Tak jarang, alat musik tiup ini mengisi bagian-bagian intro, bridge, hingga sisipan verse dan chorus. Atas dasar itu, keputusan Rhoma Irama menambahkan brass section pada master “Darah Muda” di album Haram tentu penting dicatat, entah sebagai upaya pembeda, kontekstualisasi musikal, ataupun tawaran pembaruan.

Atas upaya tersebut, tadinya saya mengira jika perubahan formasi Soneta dengan pelbagai penambahannya akan memengaruhi master rekaman album-album Soneta seterusnya, tetapi dugaan saya keliru, karena hal tersebut tak terjadi. Sebagai contoh, penambahan backing vocal yang saya kira akan terjadi pada album Baca (1995). Di mana di tahun yang sama, terdapat Soneta Femina, empat penyanyi latar perempuan yang tak hanya menjadi backing vocal, tetapi mengisi lagu demi lagu Soneta dengan koreografi. Saya membayangkan suara penyanyi latar dapat bersanding dengan bunyi keyboard pada bagian bridge, atau memecah suara ketika chorus.

Selain itu, saya juga mengira penambahan terjadi di album Jana-Jana Syahdu (2008), mengingat di formasi Soneta 2004 terdapat penambahan pemain keyboard. Keragaman isian bunyi keyboard tentu akan memperkaya aransemen lagu. Kendati tak terjadi di master rekaman mereka, hal tersebut tetap berlaku surut pada konser-konser Soneta, semisal lagu “Musik” (1977) dan “Begadang” (1975) yang dimainkan pada Prambanan Jazz 2023.

Lantas bagaimana dengan lagu “Darah Muda” di dua album tersisa, Vol 4 Darah Muda dan OST Darah Muda? Apa yang membuatnya berbeda? Jika merujuk keberadaannya, Vol 4 Darah Muda adalah album pertama yang memuat lagu “Darah Muda”, sekaligus menjadi inspirasi terbuatnya film ketiga Rhoma Irama—sebagai bintang utama. Darah Muda difilmkan dan dirilis setahun setelahnya (1977). Vol 4 Darah Muda menjadi album keempat di bawah naungan Yukawi [iii] yang diluncurkan tahun 1976—sebelum tahun 1975 bersama Remaco. Bersamaan dengan film, turut tercipta “Darah Muda” versi soundtrack yang juga direkam oleh Yukawi.

Berbeda dengan “Darah Muda” di album Haram, kedua album tersebut sama-sama tidak mengakomodasi alat musik tiup. Pasalnya formasi Soneta di tahun pembuatan kedua album, yakni 1976 dan 1977 masih berformasi delapan pemain, yakni vokal dan gitar melodi—sudah barang tentu Rhoma Irama—, mandolin, seruling, gitar rhytm, keyboard, tamborin, bas, dan gendang. Hal ini jugalah yang membuat musik pada bagian verse setelah lirik //Darah muda, darahnya para remaja//, hanya terdengar paduan gitar dan mandolin, ketika pada versi Haram dan tiga album lainnya terdengar brass section. Alhasil bersama formasi delapan pemainlah, Soneta menggarap Vol 4 Darah Muda dan OST Darah Muda.

Hal yang menarik, komposisi lagu membuat karakter kedua album berbeda walau memiliki beberapa lagu yang sama. Pada album Vol 4 Darah Muda, terdapat sembilan lagu yang dinyanyikan baik secara solo oleh Rhoma Irama, maupun berduet dengan Rita Sugiarto—pasangan duet barunya. Sembilan lagu tersebut adalah “Darah Muda”, “Apa Kabar”, “Kematian”, “Biduan”, “Cuma Kamu”, “Awet Muda”, “Dilarang Melarang”, “Pria Idaman”, dan “Api dan Lautan”. Sementara pada OST Darah Muda, hanya terdapat tiga lagu dari Vol 4 Darah Muda, yakni: “Darah Muda”, “Dilarang Melarang”, dan “Awet Muda”. Sisanya, terdapat empat lagu baru, yakni “Credit Title” (instrumental), “Berdendang”, “Kerinduan”, dan “Perjalanan” (instrumental); dan satu lagu lama dengan garapan ulang, yakni “Darah Muda” versi film.

Pada Vol 4 Darah Muda, karakter yang muncul adalah karakter Rhoma Irama yang memang telah dibentuk sejak berdirinya Soneta, baik bersama Remaco ataupun Yukawi. Lagu-lagunya memiliki cakupan musik Melayu, India, serta padanan rock dan dangdut (Frederich, 1982: 109). Semisal lagu “Apa Kabar” yang kentara nada musik India, sementara “Kematian” kental Dangdut Rock ala Rhoma, atau “Biduan” yang memiliki kesan kuat akan musik melayu. Singkat kata, rumusan padu padan musik yang Rhoma Irama bentuk telah melekat pada Vol 4 Darah Muda. Namun, alih-alih serupa, saya mendapat kesan yang lain pada OST Darah Muda, di mana Rhoma seakan tengah menegosiasikan sesuatu, mencampurkan lebih banyak elemen musik di dalamnya. Jika pada Vol 4 Darah Muda pelbagai unsur musik yang ia apropriasi telah menjadi dangdut rock ala Rhoma, maka di OST Darah Muda, Rhoma justru menunjukkan percampuran tak melulu baur, melainkan bisa terpisah dan berjarak.

Lantas, bagaimana hal-hal tersebut termanifestasi pada delapan lagu di soundtrack film? Pertama, tiga lagu dari Vol 4 Darah Muda, yakni: “Darah Muda”, “Awet Muda”, dan “Dilarang Melarang”. Tiga lagu ini secara komposisi musik merupakan pertemuan antara musik Melayu, Hindi, dan barat (baca: rock). Dalam konteks Vol 4 Darah Muda, tiga album ini mengejawantahkan apa yang dimaksud dengan dangdut ala Rhoma Irama.

Terkait lagu, tadinya saya mengira jika ada perubahan musik yang akan dilakukan. Namun setelah mendengarkan dengan saksama, yang membedakan antara ketiga lagu pada Vol 4 Darah Muda dan OST Darah Muda adalah hasil mixing dan mastering-nya. Pada Vol 4 Darah Muda, kesan mono audio tersemat pada lagu-lagunya, sehingga detail suara dari instrumen tertentu tidak terlalu jelas terdengar. Sementara pada OST Darah Muda, ketiga lagu tersebut telah mengalami proses mixing—tentu dengan pengaturan sound yang lebih mutakhir. Alhasil “Darah Muda”, “Awet Muda”, dan “Dilarang Melarang” pada OST Darah Muda lebih menunjukkan detail bunyi yang jelas, khususnya lebih tebal pada suara kendang dan bas—membuat kesan Dangdut lebih kentara. Hal ini jugalah yang menyebabkan mengapa kesan “Darah Muda” di OST Darah Mudalebih terasa cepat dalam tempo ketimbang “Darah Muda” di Vol 4 Darah Muda walau sama-sama ber-BPM 120.

Kedua, empat lagu baru dalam rangka film Darah Muda, yakni instrumental ketika “Credit Title, “Berdendang”, “Kerinduan”, dan instrumental bertajuk “Perjalanan”. Pada keempat lagu ini, Rhoma mengeluarkan sisi rock, pop, dan dangdut ala Orkes Melayu Deli. Lebih lanjut, dua lagu instrumental pada “Credit Title” dan “Perjalanan” lebih terkesan rock dengan efek gitarnya, ketimbang dangdut. Bahkan, jika mendengar dua lagu ini tanpa informasi siapa yang membawakan, tentu tiada yang mengira jika dua lagu tersebut dibawakan oleh musisi dangdut. Apalagi ia sama sekali tak mencampurkan sisi dangdut pada dua lagu instrumental tersebut. Permainan gitar ala Richie Blackmore, belum lagi eksplorasi keyboard ala Jon Lord, membuat lagu ini berbeda.

Berbeda dengan dua lagu instrumental sebelumnya, pada lagu “Kerinduan” Rhoma mencobakan memasukkan banyak unsur dalam satu lagu. Di mana terdengar pop, dangdut, dan rock sekaligus. Unsur pop tentu menjadi tebal ketika Rita Sugiarto menyanyi di beberapa kata awal pada bagian verse, tetapi secara bersamaan menjadi dangdut ketika cengkok dangdut menghiasi kata demi katanya di setiap bagian akhir verse. Cengkok tersebut lantas diperkaya dengan suara suling yang niscaya menghipnotis, sekaligus mengejawantah kedangdutan di dalam lagu.

Selain itu, Rhoma juga dengan piawai mencampurkan rock melalui alunan gitarnya. Bagian paling mencolok adalah saat melodi pada lagu tersebut. Sebaliknya, lagu yang niscaya dangdut dari ketiga lagu sebelumnya hanyalah “Berdendang”. Namun, alih-alih Rhoma menampilkan dangdut yang lebih modern, Rhoma justru kembali pada pola orkes melayu terdahulu, yakni dimainkan secara akustik dan menghindari musik elektrik. Pun di film, mereka memainkannya secara akustik di taman. Bagi saya, Rhoma seakan menciptakan nostalgia atas Orkes Melayu pada lagu ini.

Terakhir, lagu “Darah Muda” versi film. Saya mengartikan versi film “Darah Muda” sebagai garapan ulang, maka itu ia tidak saya kategorikan sebagai lagu baru laiknya lagu-lagu di paragraf sebelumnya. Jika didengarkan, sebenarnya struktur lagu “Darah Muda” versi film tak jauh berbeda dari versi lagu, yakni intro, verse, bridge, chorus, Interlude, verse, outro. Namun setelah mendengar bagian bridge dan interlude, sudah lebih dari cukup untuk mengatakan lagu ini sebagai garapan ulang. Lebih lanjut, pada bagian bridge dan interlude, Rhoma menebalkan unsur rock dengan permainan gitar yang lebih eksploratif. Belum lagi, Riswan turut mencampurkan bunyi synthesizer di dalam lagu.

Hal yang lebih esensial, BPM pada versi film ini pun lebih pelan ketimbang versi lagunya. Hal ini tentu membuat penyesuaian sekaligus kemungkinan ruang eksplorasi dan kreativitas Rhoma dalam menebalkan unsur rock di dalam lagu. Alhasil, kesan lagu versi film terasa berbeda. Belum lagi jika Anda mendengarkannya sembari menyaksikan scene di film Darah Muda, pakaian dan aksi panggung Rhoma niscaya melipatgandakan kesan rock pada lagu tersebut.

Kendati demikian, keragaman lagu dan eksplorasi musikal OST ini menjadi tidak sulit dan masuk akal dilakukan jika melihat perubahan formasi Soneta di tahun 1977. Usut punya usut, walau Soneta berformasi delapan pemain, terdapat perbedaan pemusik antara Vol 4 Darah Muda dan OST Darah Muda. Pada Vol 4 Darah Muda, formasi Soneta terdiri dari Rhoma Irama (vokal/gitar), Nasir (mandolin), Hadi (seruling), Riswan (keyboard), Ayub (tamborin), Herman (bas), Wempy (rhytm), dan Kadir (gendang).

Sedangkan formasi Soneta pada OST Darah Muda, terdapat dua pemain musik pengganti. Setelah Kadir—pemain kendang—dan Herman—pemain bas—mengundurkan diri. Sebagai pengganti, Pongky Sutomo alias Pongpong menjadi pemain bas dan Chovif menjadi pemain kendang. Menurut hemat saya, pergantian ini tentu memengaruhi, apalagi kendang dan bas pada dangdut bak fondasi. Dengan masuknya dua pemain baru, perubahan ini juga sedikit banyak mendorong bagaimana Soneta dapat bereksperimen lebih, khususnya pada lagu “Darah Muda” versi film, serta keseluruhan album soundtrack-nya.

Atas dasar itulah, OST Darah Muda menjadi menarik. Karena bagi saya, album ini bagaikan paket lengkap, di mana: pertama, komposisi lagu, di mana terjadi percampuran antara tiga lagu lama, empat lagu baru, dan satu lagu garapan ulang; kedua, album dengan dua formasi Soneta yang berbeda, yakni Soneta 1973 dan 1977. Hal ini seakan menjadi bonus, yakni satu album dengan dua pemain gendang yang berbeda—mengingat pemain gendang menjadi penting untuk dangdut; ketiga, eksplorasi bunyi yang lebih luas, yakni mengakomodasi genre dangdut, rock, pop, Melayu, dan dangdut rock ala Rhoma Irama.

Namun bagi saya itu semua terjadi bukan karena kebetulan, melainkan turut distimulasi dari konteks-konteks selingkarnya dan diciptakan tidak sekadar saja. Entah lebih pantas disebut ambisi atau perlawanan, tapi saya percaya jika Rhoma Irama sadar sedang beririsan dengan friksi-friksi yang memang membutuhkan pembuktian.

Bukan sekadar soundtrack, melainkan pembuktian

Membahas OST Darah Muda (1977) tentu tak bisa dicerabut dari konteks zaman yang menaunginya. Atas dasar itu, pembuatan OST tersebut tak bisa dilepaskan dari tahun-tahun sebelumnya dan apa yang terjadi di antaranya. Adalah tahun 1975-1977 menjadi tahun penting yang harus ditatap, tidak hanya dalam karier bermusik Rhoma Irama, tetapi juga pada pembuatan OST ini. Pasalnya di tiga tahun tersebut, sang raja dangdut menghadapi pelbagai tantangan, dan tak jarang berujung keributan. Pun hal itu sedikit banyak berdampak pada produksi-produksi di sepanjang tahun 1975 (Gelandangan, Vol 1 Begadang, Vol 2 Penasaran, Vol 3 Rupiah), tahun 1976 (Vol 4 Darah Muda, Vol 5 Musik, OST Penasaran, Vol 6 135 Juta) dan tahun 1977 (Vol 7 Santai, OST Gitar Tua, Vol 8 Hak Azasi, dan OST yang kita bahas di sini). Alhasil, OST Darah Muda menjadi penting karena ia terbuat pada konteks-konteks penting pada perjalanan musik Rhoma Irama, ataupun trayektori musik Indonesia.

Tahun 1975-1977 menjadi tahun penting tidak hanya dalam karier Rhoma Irama, tetapi juga pada pembuatan OST ini. Pasalnya di tiga tahun tersebut, sang raja dangdut menghadapi pelbagai tantangan, dan tak jarang berujung keributan. Alhasil, OST Darah Muda menjadi penting karena ia terbuat pada konteks-konteks penting pada perjalanan musik Rhoma Irama, ataupun trayektori musik Indonesia.

Konteks pertama yang paling berdampak adalah perseteruan dangdut dan rock. Belum habis cemoohan dangdut sebagai musik kampungan, perseteruan antara musik rock dan Dangdut terjadi di pertengahan dekade 1970-an. Hal ini terjadi karena musik dangdut dicemooh sebagai “Musik tai anjing” oleh vokalis sekaligus gitaris Giant Step, Benny Soebardja[iv]. Rhoma Irama geram bukan kepalang, ia membalasnya dengan “musik rock trompet setan”. Bukannya usai, pertarungan justru berdampak panjang, baik untuk dirinya, ataupun penggemar di akar rumput (Raditya, 2022). Ketika terdapat pentas dangdut, maka penggemar rock mengacau—Rhoma menceritakan bagaimana ia dihujani batu ketika di Bandung (Irama, 2021); pun ini juga terjadi sebaliknya, ketika rock pentas di sebuah tempat, maka penggemar dangdut akan menyerang konser tersebut. Oleh karena berkepanjangan, perseteruan didamaikan oleh tokoh pemuda—yang beberapa tahun setelahnya menjadi ketua Pemuda Pancasila—, Japto Soelistyo Soerjosoemarno, S.H. Bertajuk konser damai di penghujung tahun, perseteruan berakhir pada 31 Desember 1977. Konser tersebut dianggap menjadi penanda akan berakhirnya friksi rock dan dangdut—walaupun saya menduga belum sepenuhnya usai seperti yang saya ulas di “Membaca Ulang Kontestasi Dangdut dan Rock Era 1970-an”(2021).

Hal yang menarik, film dan OST, Darah Muda dirilis sebulan sebelum konser damai. Alhasil, OST—bahkan film—Darah Muda saya terjemahkan sebagai manifestasi terakhir dari karya Rhoma Irama sebelum perseteruan usai. Maka tidak sulit menduga jika perseteruan antara dangdut dan rock niscaya menjadi alasan mengapa film dan soundtrack dibuat. Apalagi di dalam film, terlihat betul bagaimana jalan cerita pertarungan dimunculkan. Walau dengan plot cerita berbeda serta bumbu romansa antara Rhoma dan Ani, tampak jelas bagaimana perseteruan antara kedua genre menjadi fokus. Rhoma melawan Ricky, Soneta melawan Apache, dan tentu Dangdut melawan Rock. Belum lagi, film garapan Maman Firmansjah tersebut menempatkan dua grup secara dikotomis, di mana grup Apache yang sarat dengan kebiasaan menenggak minuman keras dan melakukan pergaulan bebas, sementara Rhoma berprinsip Amar ma’aruf nahi mungkar atau menegakkan kebenaran, mencegah keburukan. Lantas siapa yang menang? Tak perlu pikir panjang, Rhoma Irama (baca: dangdut)-lah pemenangnya.

Pada pentas dangdut, penggemar rock mengacau—Rhoma menceritakan bagaimana ia dihujani batu ketika di Bandung (Irama, 2021); pun terjadi sebaliknya, ketika rock pentas di sebuah tempat, maka penggemar dangdut akan menyerang konser tersebut. Oleh karena berkepanjangan, perseteruan didamaikan dalam konser damai di penghujung tahun pada 31 Desember 1977

Tak hanya film, soundtrack tersebut juga menjadi rilisan yang patut dicatat. Karena bagi saya, OST Darah Muda juga menjadi akumulasi dan pembuktian akan bagaimana sikap Rhoma terhadap rock. Saya menyebutnya akumulasi karena hal ini sejalan dengan lintasan album Rhoma Irama antara tahun 1975-1977. Semisal tahun 1976 pada Vol 4 Darah Muda, Rhoma melawan perseteruan dan tuduhan musik kampungan dengan lagu “Dilarang Melarang”. Di tahun 1977, Rhoma juga melawan rong-rongan yang sama dengan salah satu ciptaan geniusnya, yakni lagu “Musik” di Vol 5 Musik. Begini nukilan liriknya //Musik yang kami perdengarkan//Musik yang berirama Melayu//Siapa suka mari dengarkan//Yang tak suka boleh berlalu//Bagi pemusik yang anti-Melayu//Boleh benci jangan mengganggu//Biarkan kami mendendangkan lagu//Lagu kami lagu Melayu//Lain kepala lain pula kesenangannya pada musik//Dari itu, mainlah musik asalkan jangan saling mengusik//.

Alhasil perlawanan dilakukan tidak sekali jalan, melainkan perlahan dan terus menerus. Pun dengan logika tersebut, dapat terjelaskan mengapa lagu “Dilarang Melarang” masih dipertahankan Rhoma di OST Darah Muda.

Sementara tentang pembuktian, pun dengan jelas bagaimana di sub-bab sebelumnya, OST menjadi ruang eksperimen Rhoma Irama dalam memperlihatkan dominasinya terhadap genre lawannya. Di mana, alih-alih empat lagu baru dan satu lagu garapan ulang memainkan musik dangdut yang kerap ia bawakan, Rhoma justru menunjukkan keragaman dan luasnya wawasan serta keahliannya dalam meracik musik yang dangdut, dianggap dangdut, dan bukan dangdut; atau yang dianggap kampungan dan sebaliknya.

Atas dasar itu, dengan melihat keahliannya dalam memainkan tuts gitar, penggunaan efek yang tak lazim di dangdut—yang justru lumrah di genre rock—, dan tentu bagaimana cara Rhoma mengomposisi sebuah lagu; bagi saya, OST Darah Muda tidak semata-mata menunjukkan kebisaan dan kepandaian Rhoma Irama dalam bermain musik rock, melainkan menyadarkan publik jika musik tidak memiliki kelas—sebagaimana stigma yang dangdut terima sebagai musik kampungan dan kelas bawah—serta dapat dimainkan oleh siapa saja, bahkan termasuk orang yang dicap sebagai kelas tertentu.

Dengan keahliannya dalam penggunaan efek gitar yang tak lazim di dangdut—yang justru lumrah di genre rock—, dan tentu bagaimana cara Rhoma mengomposisi sebuah lagu; bagi saya, OST Darah Muda tidak semata-mata menunjukkan kebisaan dan kepandaian Rhoma Irama dalam bermain musik rock, melainkan menyadarkan publik jika musik tidak memiliki kelas

Perseteruan rock dan dangdut memang fenomenal, tetapi Rhoma tak hanya menghadapi persoalan tersebut. Tahun 1977 juga menjadi tahun yang berat untuk Rhoma karena di tahun tersebut beberapa lagunya dicekal pemerintah. Menteri Penerangan, Mashuri Saleh mencekal lagu “Rupiah” dan “Hak Azasi” (Shofan, 2014; Maulana, 2020). Lagu “Rupiah” dirilis tahun 1975 dan “Hak Azasi” di tahun 1977. Lagu “Rupiah” dicekal karena liriknya dinilai provokatif, seperti //Sering karena rupiah//Jadi pertumpahan darah//Sering karena rupiah//Saudara jadi pecah//, dan dianggap mendegradasi marwah dari mata uang Republik Indonesia. Sementara “Hak Azasi” menjadi buntut panjang balas berbalas pelarangan.

Tidak selesai di situ, Rhoma juga dicekal karena pilihan politiknya. Di mana sang raja dangdut terang-terangan mendukung partai oposisi, Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Dampaknya, Rhoma dilarang tampil di TVRI selama 11 tahun (1977-1988), dan banyak konser Rhoma yang dipersulit. Tentu ini menjadi persoalan tersendiri untuk Rhoma, maupun Soneta. Namun bukan Rhoma namanya jika ia tidak terus melawan. Di tahun-tahun pencekalan, Rhoma tetap konsisten dalam membuat lagu dan album. Kembalinya Rhoma Irama di TVRI terjadi pada tahun 1988, ditandai dengan konser album Vol 14 Judi pada 8 Mei 1988. Kembali pada OST Darah Muda, tentu persoalan ini sedikit banyak memengaruhi Rhoma. Dan, [jangan-jangan] keberadaan lagu “Dilarang Melarang” pada album soundtrack ini memang tidak bermakna tunggal, melainkan juga sebagai langkah untuk menyuarakan pelarangan yang mereka terima—ibarat sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.

Selain konteks yang terjalin di luar tubuh Soneta dan Rhoma Irama, album ini bagi saya juga menjadi pembuktian akan kebertahanan mereka. Karena 1976 dan 1977 menjadi tahun yang tak mudah bagi Soneta. Di mana, pertama, keluarnya Elvy Sukaesih. Hingga hari ini, duet Rhoma Irama dan Elvy Sukaesih masih menjadi salah satu yang terbaik. Atas dasar itu, berpisahnya Rhoma Irama dan Elvy Sukaesih tentu menjadi rintangan tersendiri. Sang ratu dangdut, Elvy memutuskan untuk berkarier solo setelah bersama Rhoma bertahun-tahun lamanya, baik di bawah Soneta sejak tahun 1972-1975, maupun bersama di O.M. Purnama atau O.M. Prahasta beberapa tahun sebelumnya. Maka itu, niscaya sulit untuk Rhoma dan Soneta kehilangan sosok penyanyi perempuan dengan teknik suara dan cengkok yang menawan seperti Elvy. Beruntung Rhoma segera mendapatkan pasangan duet yang menjanjikan. Adalah Rita Sugiarto, seorang penyanyi pop asal Semarang yang memutuskan berganti haluan ke dangdut. Menurut penuturan Rita, ia pernah satu atap bersama Rhoma Irama dan istrinya Veronica Agustina, sang keyboardis band pop, Beach Girl. Di sana, Rita belajar dengan sungguh-sungguh dalam bernyanyi dangdut (Irama, 2022). Namun Rita dan Elvy tetaplah berbeda, mereka punya karakter, warna suara, teknik bernyanyi yang niscaya berlainan. Maka, Rhoma harus tetap berpikir ulang tentang lagu macam apa, teknik suara yang bagaimana, hingga cengkok seperti apa yang cocok dengan Rita. Karena mau bagaimana pun, Rhoma dan Soneta harus membuktikan ke publik lagu-lagu mereka tetap hits walau tak bersama Elvy.

Kedua, bongkar pasang pemain. Rhoma harus menghadapi kenyataan jika ia harus kehilangan dua pemain krusial, pemain kendang (Kadir) dan pemain bas (Herman) yang mengundurkan diri pada tahun 1977. Tentu pengunduran diri keduanya cukup disayangkan, apalagi Saya menyebut formasi mereka dengan formasi legenda. Pasalnya para pemain di formasi Soneta 1973-1976 adalah mereka yang bersepakat dengan prinsip the voice of Moslem. Pada tahun 1973, Oma—penggunaan nama Oma disesuaikan pada konteks tahun kejadian, karena nama Raden Haji Oma yang menjadi Rhoma terjadi di tahun 1975 setelah ia ibadah haji—tidak segan mempersilahkan pergi pemain yang tidak bersepakat untuk menghindari minuman keras, pergaulan bebas, dan obat-obatan terlarang. Walhasil formasi Soneta 1973-1976 membuat kesan tersendiri bagi saya. Atas dasar itu, masuknya seorang bassist, Pongky Sutomo alias Pongpong—walau untuk beberapa saat—dan pemain kendang, Chovif[v]—yang kini menjadi satu-satunya pemain senior Soneta—, tentu sebuah perjudian tersendiri. Karena bayang-bayang pemain lama, kebesaran Soneta, dan tentu kreativitas Rhoma, dapat menjadi momok untuk pergantian formasi ini. Beruntung, Soneta Group di tahun 1977 justru menjadi formasi yang eksploratif, dan tak perlu berpikir dua kali untuk menempatkan OST Darah Muda menjadi salah satu buktinya.

Namun saya tidak menyangka, jika Rhoma Irama tetap menciptakan karya-karya luar biasa walau dilanda persoalan-persoalan yang sedemikian deras dan keras. Bagi saya, OST Darah Muda dapat menjadi salah satu contoh—bahkan artefak—atas apa yang harus ia hadapi, negosiasikan, dan lawan. Kendati berbentuk soundtrack, tetapi tidak sedikit pun mengurangi esensi akan bagaimana sebuah karya mutakhir terlahir, bahkan penting pada perjalanan musik Indonesia, bukan?[]

Referensi

Frederick, W.H. 1982. “Rhoma Irama and Dangdut Style”, dalam Indonesia, No. 34. Ithaca: Modern Indonesia Project, Cornell University.

Irama, Rhoma. 12 November 2021. Bisikan Rhoma #11: Achmad Albar ogah main film sama Rhoma, ada apa nih? Bisikan Rhoma. Rhoma Irama Official. https://youtu.be/kASFgV0nTpY?si=ynTcnI1MCWIT_gZc

Irama, Rhoma. 24 Juni 2022. Bisikan Rhoma #32: Rita Sugiarto: Nama saya pernah mau diganti sama Mas Oma. Bisikan Rhoma. Rhoma Irama Official. https://youtu.be/C6S6c41H8G8?si=3UJocJGiSeKerbkg

Maulana, B. 2020. “50 Tahun (1970-2020) Soneta”, dalam Soneta edisi 50 Tahun 1970-2020. Depok: Soneta Record Indonesia.

Raditya, M.H.B. 2021. “Membaca Ulang Kontestasi Dangdut dan Rock Era 1970-an”, pada Ekspresi Seni: Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni, Vol 23(1), halaman 75-95.

Raditya, M.H.B. 2022. Dangdutan: Kumpulan Tulisan Dangdut dan Praktiknya di Masyarakat. Yogyakarta: Penerbit Gading.

Shofan, M. 2014. Rhoma Irama: Politik Dakwah dalam Nada. Depok: Imania.

[i] Darah Muda adalah sebuah film garapan Maman Firmansjah yang menampilkan Rhoma Irama, Yati Octavia, Ucok Harahap, dkk. Darah Muda menceritakan tentang pertarungan Rhoma Irama dengan Ucok Harahap, yang berperan sebagai Ricky. Rhoma yang sebelumnya tergabung dalam grup Apache merasa tidak sevisi lagi karena kebiasaan anggota yang bagi Rhoma adalah maksiat. Sementara Rhoma ingin menyuarakan Amar ma’aruf nahi mungkar, menegakkan yang benar, mencegah yang salah. Berpisahnya Rhoma lantas membuat ia mendirikan grup Dangdut bernama Soneta. Popularitas Soneta lantas membuat Apache—dengan vokalis baru, Ricky—marah. Dalam sebuah pertengkaran, tangan Rhoma dihantam batu agar kelak tak bisa lagi bermain. Rhoma yang muram memutuskan pergi ke kampung untuk berobat dan berlatih pada gurunya, H. Hasbullah. Beberapa saat sebelum pulangnya Rhoma, kelompok Apache mengacau di rumahnya, menjahati ibunya, dan memperkosa pacarnya. Tak tinggal diam, Rhoma mendatangi kelompok Apache. Ia membalaskan dendam atas apa yang telah ia dan keluarga alami. Keseluruhan cerita itu dikemas dalam 101 menit dan dirilis pada 18 November 1977.

[ii] Dalam sub-bab ini, alih-alih langsung membahas OST Darah Muda, saya memulai pembahasan dari hal yang paling Anda kenali jika mendengar “Darah Muda”, yakni lagu. Dengan begitu, kita bisa sama-sama memahami OST Darah Muda dari menjelajahi karya demi karya Rhoma Irama.

[iii] Untuk menandai perekaman dengan Yukawi, Rhoma melakukan beberapa perubahan, pertama, menyematkan terma volume sebagai kata depan sebelum judul album, semisal Vol 1 Begadang (1975), Vol2 Penasaran (1975), dan seterusnya. Kedua, sejak tahun 1975, Rhoma juga menyesuaikan rilisan pada permintaan pasar dan perkembangan teknologi, di mana ia juga menyediakan musiknya tidak hanya dalam bentuk piringan hitam, tetapi juga kaset pita (Shofan, 2014; Maulana, 2020). Ketiga, pada Vol 4 Darah Muda, Rhoma Irama juga tidak lagi menyematkan nama Orkes Melayu di depan terma Soneta, melainkan mengubahnya menjadi group yang disematkan di belakang terma Soneta, Soneta Group (Shofan, 2014). Namun, saya mendapati jika piringan hitam Vol 4 Darah Muda masih tertulis OM Soneta, bukan Soneta Group. Nama Soneta Group justru tertulis jelas pada cover OST Darah Muda. Kendati demikian, bersama Yukawi, terjadi proses perubahan nama Soneta dari OM ke group.

[iv] Pada podcast Bisikan Rhoma #11, Rhoma menghadirkan Achmad Syech Albar dan Japto Soelistyo Soerjosoemarno. Mereka membicarakan perseteruan dangdut dan rock. Hal yang menarik, Rhoma mengatakan jika ia pernah bertemu dengan Benny Soebardja di sebuah butik di kala itu. Menurut penuturannya, Benny mengklarifikasi jika bukan dirinya yang mencemooh dangdut sedemikiannya, melainkan salah seorang jurnalis di Majalah Aktuil yang Rhoma rahasiakan namanya. Alhasil bagi Rhoma, perseteruan itu justru dibuat dan diperpanjang oleh majalah tersebut untuk keuntungan sepihak.

[v] Formasi ini juga turut bermain di film Darah Muda, tepatnya di bagian lagu “Berdendang”.

Penulis
Michael HB Raditya
Peneliti musik di LARAS-Studies of Music in Society. Pendiri Pusat Kajian Dangdut (www.dangdutstudies.com). Pimpinan orkes dangdut, O.M. Jarang Pulang. Buku terbarunya bertajuk: OM Wawes: Babat Alas Dangdut Anyar (2020). Salah satu tulisan dangdutnya diterbitkan oleh Routledge, pada buku Made in Nusantara: Studies in Popular Music (2021).
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

Excrowded Menggelorakan Musik di Malang Lewat Album Mini Terbaru

Setelah jeda hampir 2 tahun, Excrowded akhirnya kembali membawa karya baru berupa album mini bertajuk Unite Diversity hari Senin (01/04)   Excrowded beranggotakan Hazbi Azmi (vokal), Gilang Akbar (gitar), Gianni Maldino (bas), dan Rijadli …

Mickmorthy Luncurkan Single Ketiga Berjudul Why Am I Here?

Setelah merilis “Alive” (2021) dan “Greed” (2023), Mickmorthy asal Tangerang Selatan kembali mempersembahkan karya musik terbaru dalam tajuk “Why Am I Here?” hari Jumat (12/04) yang menjadi jembatan mereka menuju penggarapan album.   Mickmorthy …