910

Perempuan Dibalik Toko Buku, Musik dan Merchandise, Omuniuum.

Berdiri di Bandung dari tahun 2007. Awalnya Omuniuum hanya menjual buku hingga lama-kelamaan menjual segala sesuatu yang berhubungan dengan musik seperti  CD, kaos, vinyl dan pernak perniknya. Omuniuum kemudian juga merambah menjadi bisnis online dan menjadi salah satu toko buku dan titik distribusi terbesar musik independen lokal dengan jangkauan distribusi paling luas hingga ke pelosok Indonesia bahkan luar negeri. Dibalik Omunium ada sosok pecinta buku dan musik terutama musik metal, Boit. Perempuan yang mendirikan Omuniuum 10 tahun yang lalu ini kemudian menjalankan bisnis ini bersama dengan suaminya di sela-sela mengasuh dua orang putrinya. Simak obrolan Pop Hari Ini dengan Boit dan silahkan kunjungi website Omuniuum di sini

Untuk pembaca kami yang mungkin belum pernah mendengar Omuniuum, coba deskripsikan Omuniuum dalam 5 kata?

Toko, merchandise, buku, musik dan hobi

Bisa ceritakan secara singkat tentang perbedaan Omuniuum dulu dan sekarang termasuk subdivisi yang ada di Omuniuum?

Dulu awal 2007 kita mulai cuma jualan buku dengan dua karyawan dua. Terus sekitar 2008-2009 mulai jualan merchandise band dan merintis jualan via internet. 2010-2011 mulai stabil jualan via internet dan pelanggan yang asalnya cuma Bandung pelan-pelan jadi menjangkau banyak kota di Indonesia hingga ke Papua. Kami juga bahkan pernah melayani pembelian dari Thailand, Malaysia sampai Jerman.

Subdivisi resmi sebetulnya ngga ada. Semua terbangun secara organik dan kebanyakan jadinya bergerak di musik. Yang awalnya cuma jualan titipan cd dan merchandise trus jadi produksi terus mulai bikin acara konser kecil-kecilan.

Baca juga:  Pop Figur – Agan Harahap, Seniman Fotografi

Terakhir in ada juga teman-teman yang memanfaatkan ruangan lantai 3 kita dan dibuat jadi galeri kecil bernama Omni Space.

Kenapa bisa kepikirkan mendirikan toko buku/musik seperti Omuniuum ini?

Saya suka banget baca dan koleksi bukunya banyak. Dulu kepikirnya asyik aja jualan buku. Jualan sesuatu yang disukai sambil dapet uang dari situ. Musik muncul belakangan karena nggak mungkin hidup cuma dari berjualan buku. Bisa saja hidup, tapi pas-pasan dan susah berkembang.

Adakah tantangannya sebagai perempuan saat mendirikan Omuniuum saat itu?

Kalo di buku ngga ada. Beberapa teman perempuan saya saat mulai bikin Omuniuum juga sudah ada yang punya bisnis yang sama seperti Kineruku dan Tobucil. Keduanya ada di Bandung. Kalo di musik mungkin awal-awal saya selalu disangka laki-laki karena memang ngga banyak perempuan yang berkutat di merchandise band. Untungnya saya punya partner laki-laki, jadi kalo ada apa-apa yang harus urusannya sesama cowok ya dia saja yang maju.

Dan adakah tantangannya sebagai perempuan dalam mengerjakan Omuniuum saat ini?

Kadang malah diuntungkan sebagai perempuan. Karena ketika orang lain tahu yang ngurus Omuniuum itu perempuan jadinya orang malah lebih menghargai. Terus sebagai penggemar musik metal, banyak teman laki-laki yang menjaga kalau saya lagi nonton acara musik metal. Jadi sejauh ini aman.

Sebagai perempuan adakah sentuhan khusus perempuan dalam menangani Omuniuum?

Baca juga:  5 Lagu Indonesia Pilihan Dochi Sadéga "Pee Wee Gaskins"

Sentuhan khusus perempuan itu seperti apa ya? Galak, selera atau dekor? Semua jalan dengan alami di Omuniuum dan dikerjakan berdua dengan partner saya. Jadi agak susah kalo dibilang ada sentuhan saya sebagai perempuan. Soalnya partner saya malah lebih hobi beberes dan bebersih dibanding saya. Tapi kalo ada sentuhan tanaman hias ya itu memang hobi saya akhir-akhir ini.

Indonesia masuk sebagai salah satu negara dengan minat baca terendah di dunia. Pendapat kamu gimana?

Heran kenapa sampai saat ini pemerintah kita tidak melakukan apa-apa untuk menaikkan minat baca. Distribusi buku ke wilayah indonesia terbatas karena ongkos mahal. Harga buku mahal karena pajak kertas juga mahal. Padahal masyarakat kita bukan ga mampu beli buku. Kalo sedang ada diskon besar-besara apalagi seperti acara bazaar buku kelas internasional  Big Bad Wolf yang sempet diadanin di Indonesia, antrian pembelinya gila banget seperti antrian beras.

Adakah harapan bagi Indonesia kedepannya untuk meningkatkan minat baca rendah ini?

Bisa kalo pemerintah punya program yang jelas. Kalo engga ya kita tergantung sama individu atau swasta yang memang bergerak untuk meningkatkan minat baca dan itu terbatas.

Apa bagian menyenangkan dan menyebalkan dari mengurus Omuniuum?

Karena buku dan musik adalah kegemaran saya tentu saja menyenangkan ketika hal yang disukai bisa menghasilkan. Yang menyebalkan sepertinya ngga ada. Karena lewat Omuniuum saya banyak banget ketemu orang-orang yang jadi teman baik sampai sekarang :)).

Baca juga:  5 Album Bagus Tapi Kovernya Tidak Representatif

Apa benda dan buku paling ngepop yang dijual di toko Omuniuum?

Saat ini adalah kaos kolaborasi Seringai x Raisa. Haha. Soalnya ketika Raisa dan Seringai disatuin jadinya malah sangat populer. Untuk buku mungkin bukunya Risa Saraswati yang sekarang dijadikan film. Judulnya Danur. Penggemar Risa itu luas sekali dari anak SD, SMA dan jumlahnya buanyak banget. 

Dalam dunia penulis/penyanyi siapakah sosok perempuan yang jadi panutan Boit?

Saya kagum dengan penyanyi Kartika Jahja yang bisa manggung dengan membawa isu perempuan ke panggung-panggungnya dia tanpa terlihat cengeng. Untuk penulis perempuan kesukaan saya salah satunya ada Oka Rusmini dari Bali. Membaca bukunya, Tarian Bumi dulu pada saat kuliah membuat gw sadar bahwa di banyak tempat, perempuan masih menjadi kelas dua untuk pengambilan keputusan dan menentukan nasib. Saya merasa beruntung tinggal di Jawa dan perempuan masih bisa melakukan banyak hal tanpa harus melihat kasta atau menunggu nasibnya ditentukan oleh keluarga.

Bisa rekomendasikan 2 buku klasik dan sekarang, dan album musik dari perempuan Indonesia untuk pembaca Pop Hari Ini?

Untuk buku klasik saya rekomendasikan karya N.H. Dini, Pada Sebuah Kapal. Buku yang baru karya Rain Chudori, Moonsoon Tiger and Other Stories.

Untuk album musik saya rekomendasikan karya Mian Tiara, The Comfort of My Own Company, karya Leilani Hermiasih atau Frau, Happy Coda dan karya Kartika Jahja, Merah.

Foto Kedua