Rangkuman Rilis Ulang Album Lawas Lokal Di 2020

Jan 28, 2021

Awal tahun, gelombang rilis ulang terus dilanjutkan, bahkan sampai ke wilayah merchandise!

Bangun tidur, 11 Januari 2021, saya melihat handphone dan mendapatkan di akun Instagram toko Deeprock Music telah dibuka pra-pesan kaos dan longsleeve Tengkorak- It’s a Proud to Vomit Him, dengan tulisan di bagian belakang: Southeast Grind Terror. Mini album It’s a Proud to Vomit Him adalah karya klasik Tengkorak, dirilis pertama kali pada 1995, hingga beredar di 28 negara. Tengkorak merekam 7 lagu di studio Tripple M, Jakarta, di mana tiga lagu justru untuk dimasukkan ke dalam split 7” vinyl bersama Cerebral Turbulency (Ceko) dan label asal Jepang, Bloodbath Records.

Agak lebih siang, masuk WA dari Elevation Records dengan pesan singkat yang menggetarkan, bahwa test pressing piringan hitam Nadia & Atmospheer telah siap. Ini adalah debut album Gombloh & the Lemon Tree’s Anno 1969 yang pertama kali diriilis dalam format kaset oleh Golden Hand Record pada 1978. Jadi, rilis ulang dalam format piringan hitam akan segera terlaksana di tahun ini. Elevation Records menambahkan pesannya, “Hehe.. hajar terus.”

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Elevation 1977 (@elevationrecs)

Pada 2020, Elevation Records telah melakukan rilis ulang album Gombloh lainnya, Live Gila, dengan foto Gombloh dan desain kemasan yang menggiurkan, selain juga merayakan 10 tahun album Ode Buat Kota dari Bangkutaman dalam format kaset serta menghadirkan kembali debut album Rotor, Behind the 8th Ball dalam wujud piringan hitam, dengan bekerja bersama Snakecharm Records.

Proyek-proyek rilis ulang Elevation Records juga disertai acara talk show peluncuran album, baik secara virtual maupun offline. Hal ini menjadi poin menarik lainnya, ketika di tahun 2020 kita masih bisa mendengarkan kisah-kisah dari gitaris Gombloh era album Live Gila, Ricky Supardi bahkan Ratih dan Soelih, dua penyanyi perempuan the Lemon Tree’s. Sementara awal tahun ini Irfan Sembiring dan Bakar berbagi kisah tentang perjalanan Rotor dengan pendahuluan pemutaran video penampilan veteran metal itu saat membuka konser Metallica di Jakarta pada 1993.

Tahun lalu, rilis ulang katalog Rotor, beserta penjualan merchandise-nya, bukan hanya dilakukan oleh Elevation Records dan Snakecharm Records. Zim Zum Entertainment merilis ulang album Behind the 8th Ball dalam format CD, kaset, dan juga merchandise. Sementara Rabonsick Records merilis album “Greatest Hits of Rotor” diikuti boxset kaset segenap katalog Rotor yang dilengkapi poster.

Tidak hanya Rotor, Rabonsick Records juga merilis boxset kaset segenap katalog Andy Liany, album pamungkas Sucker Head, Simphoni Kehidupan, IX Band, Bloody Gore –Stench of Your Perversions, Fargat 727- Seribu Angan, The Best of Red Spider, U’ Camp – Jabat Erat dan Apa Kabar, Superkid – Trouble Maker, Preman, dan Superkid II – Dezember Break, juga Giant Step – Mark I.

Sungguh aksi rilis ulang yang menggembirakan, terutama pada musik rock dan metal, yang memanjakan pendengar lama, membuka kemungkinan pendengar baru, sekaligus tentunya memberi kontribusi pemasukan pada para musisi. Banyak dari rilisan tersebut yang sudah sulit untuk didapatkan, padahal memiliki nilai tersendiri baik bagi penggemar maupun pelakunya sendiri. Ambil contoh: Fargat 727 yang berpersonil Andy Liany, Once, Pay, dan Ronald—episode menarik dalam rekaman musik Indonesia yang bisa jadi tak banyak diketahui hari ini.  Atau periode trio Deddy Dores-Deddy Stanzah-Jelly Tobing yang mewarnai jagad rock 1970an.

Tahun lalu, sejumlah rilis ulang dilakukan pula oleh Lamunai Records. Dimulai dari Harry Roesli – Titik Api, Yanti Bersaudara, Santamonica – Curiouser & Curiouser, debut album The Brandals, hingga kaset Teenage Death Star – The Early Years 88-91 Backyard Tapes. Selain judul rekaman terakhir yang dicetak kembali dalam bentuk kaset, album-album rilisan Lamunai Records tersebut dirlis dalam format piringan hitam.

Masih ada lagi Sabdanada, indie label yang pada 2020 merilis ulang debut album Waiting Room dalam format CD, kaset, dan juga merchandise, juga membuat album BIP – Bikin Indonesia Paten dalam format kaset.

Langkah merilis ulang album-album Indonesia pun dilakukan oleh perusahaan rekaman “klasik”. Musica Studio’s merilis album Ebiet G. Ade – Camellia 2 dan Camellia 3, Iwan Fals – 1910, Nike Ardilla -Bintang Kehidupan, Chrisye (Aransemen Musik: Erwin Gutawa) – Badai Pasti Berlalu, kompilasi Pesta Rap, juga bersama Hitam Manis Records merilis ulang album-album Fariz RM, Sakura dan Do Not Erase.

Belum cukup? Masih ada pula rilis boxset dalam rangka memperingati 50 tahun Soneta berkarya. Boxset ini berisi dua vinyl gold, empat CD, poster, buku, serta kaos “Satria Bergitar”.  Rhoma Irama hadir pada 2020 dalam wujud masif dan megah.

Sampai di sini, saya sudah banyak mengetik judul-judul album yang kembali dirilis ulang dalam format piringan hitam, CD, dan kaset, dan terus terang merasa khawatir bahwa masih ada lagi rilisan-rilisan yang terlewat untuk dicatat. Satu hal yang pasti, kami menyambutnya dengan suka cita, bersemangat sekaligus panik memilih prioritas daftar pembelian, walau rekening tabungan suka lolos melayang.

Toko-toko musik pun mengemas pesanan, paket tiba di rumah-rumah mereka yang senang hati membuka, memutar, dan menyimpan musik, sementara musisi dalam berbagai skala memetik royalti. Musik-musik dari masa lalu masih mendapatkan tempatnya meskipun di era pandemi.

Sementara untuk format digital, rilis ulang juga berlangsung, baik di layanan pemutaran lagu maupun bisa mengunduhnya dengan harga tertentu. Pada layanan putar lagu digital, kita bisa temukan di antaranya Media Distorsi – Chapter 01 the Beginning, album pertama dan kedua Themilo, Lain – Djakarta Goodbye, Zeke Khaseli – Salacca Zalacca, Bandempo, Rumahsakit, Waiting Room – s/t dan Propaganda, hingga Klarinet. Sementara di the-frontstore.club, dijajakan dan dapat diunduh di antaranya album dari Themilo – Let Me Begin, Gascoigne –Bond Electric, Lass- Son of the Wood,  hingga Kaveh Kanes – Loanwords.

Musik-musik dari masa lalu masih mendapatkan tempatnya meskipun di era pandemi

Sekali lagi, sangat mungkin masih ada yang terlewat dari paparan ini. Rilis ulang telah berlangsung sepanjang 2020, dan akan terus terjadi. Dari segi periode masa pertama kali beredar, rilis ulang pun terjadi dalam varian rentang waktu yang sangat lebar, dari puluhan hingga beberapa tahun lalu saja. Hal utamanya bukan telah seberapa tua umur album tersebut, namun ketertarikan yang besar untuk kembali mengedarkan

Semangat untuk melakukannya, menyebarkan musik yang menarik dari masa lalu, menjadi kehendak para pecinta musik di berbagai tempat, perusahaan rekaman besar maupun kecil-kecilan, dengan modal sedikit atau banyak, bahkan kadangkala, atau justru seringkali, perkara kesenangan personal mencetak musik di atas hitungan bisnis. Di lain pihak, masih terus ada khalayak yang menyambutnya.

Pada awal tahun ini, lagi-lagi semangat merilis ulang tersiar. Di saluran Youtube Ngobryls asuhan Jimi Multhazam dan Ricky Malau, baru saja diputar dan dibahas dua rilisan awal Kebunku, dan secara terbuka meminta kesediaan pada pihak Kebunku untuk mau memberi izin merilis ulang katalog itu. Maklum, kegemaran personal akan dua kaset awal Kebunku terhitung menggebu-gebu.

Lalu, benda apa itu yang saya lihat di Instagram pagi ini? Aih, desain album Matraman dari The Upstairs akan tampil sekali lagi, kali ini dirilis oleh produsen sneakers lokal, Beazt dalam wujud… sepasang sepatu!

Mari melangkah bersama re-issue.

 

____

Penulis
Harlan Boer
Lahir 9 Mei 1977. Sekarang bekerja di sebuah digital advertising agency di Jakarta. Sempat jadi anak band, diantaranya keyboardist The Upstairs dan vokalis C’mon Lennon. Sempat jadi manager band Efek Rumah Kaca. Suka menulis, aneka formatnya . Masih suka dan sempat merilis rekaman karya musiknya yaitu Sakit Generik (2012) Jajan Rock (2013), Sentuhan Minimal (2013) dan Kopi Kaleng (2016)
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

Kaset Klub, Program Inisiasi La Munai Records dan Les Siebon

La Munai Records bersama Les Siebon resmi menghadirkan Kaset Klub, sebuah program pengarsipan musik dalam format kaset pita serta merchandise.

16 Pertanyaan: Voice of Baceprot

Sejak terbentuk tahun 2014, mereka tak pernah menargetkan apapun secara khusus. Voice of Baceprot hanya ingin berdiri di atas kaki mereka sendiri.