Rekomendasi: Lomba Sihir – Selamat Datang di Ujung Dunia

• Apr 6, 2021
Rekomendasi: Lomba Sihir - Selamat Datang di Ujung Dunia

Sebelum membahas album Selamat Datang di Ujung Dunia, milik Lomba Sihir, band pengiring solois Baskara Putra alias Hindia yang juga vokalis .Feast mari kita tanyakan dulu pertanyaan ini: seberapa banyak dosis Baskara Putra yang wajar dikonsumsi dalam hidup kita sebagai pendengar musik?

Karena di album perdananya Lomba Sihir secara sepihak seperti memaksakan pendengarnya untuk menerima Baskara sekali lagi tanpa kuasa kita untuk menolak. Tapi apakah hal ini adalah sesuatu yang buruk?

Departemen lirik adalah kelebihan sekaligus bumerang bagi album perdana ini

Sebagai pengiring Hindia, Lomba Sihir tampil perdana di We The Fest 2019, diikuti rangkaian Tur Bayangan 2020 lima kota mempromosikan album Menari Dengan Bayangan. Momen itu membuat para personilnya semakin solid secara personal maupun musikalitas. Dan bicara musikalitas, para personil Lomba Sihir ini bukan datang dari latar belakang yang sembarangan. Rata-rata mereka adalah para produser handal, musisi yang mahir di bidangnya masing, mempunyai proyek musik masing-masing, baik sebagai session player, maupun solois yang telah merilis singel ataupun EP.

Lantas apa yang bisa diharapkan dari para kumpulan musisi berbakat ini? Tentunya sesuai ekspektasi, album pop dengan kejutan di sana-sini. 12 lagu hadir dengan ramuan sentuhan magis tiap personilnya yang juga bertindak sebagai produser sehingga menghasilkan musik yang jauh dari kata membosankan. Dari rentetan lagu pop retro, lagu bernuasa ektronik, lagu gelap penuh gejolak, semua hadir dalam bingkai musik pop yang masih ramah telinga. Dan dengan semua itu merupakan kenikmatan tersendiri mendengarkan album ini secara utuh. Semua dijahit rapih, emosi perlagu terjaga, juga dinamika album dari awal hingga akhir.

Saya sendiri jatuh hati terlalu banyak pada lagu di album ini. Dari “Apa Ada Asmara”, “Hati dan Paru Paru”, “Cameo”, “Jalan Tikus” “Semua Orang Pernah Sakit Hati” dan duet Natasha dan Baskara yang mengasyikan di “Mungkin Takut Perubahan”, juga letupan yang mengasyikan di “Seragam Ketat” yang mengritik sistem di sekolah, dan “Nirrrlaba” kala Baskara bernyanyi penuh ekspresi yang sedikit mengingatkan pada sosok Benyamin S. ditambah liukan Natasha yang bernyanyi nada oriental. Maknyus!

kenikmatan tersendiri mendengarkan album ini secara utuh. Semua dijahit rapih, emosi perlagu terjaga, juga dinamika album dari awal hingga akhir

Departemen lirik dengan sudut pandang yang menarik adalah kelebihan sekaligus bumerang bagi album perdana ini. Di sisi lain lirik dalam album perdana Lomba Sihir, Selamat Datang di Ujung Dunia ini begitu kuat. Karena hampir semuanya ditulis oleh Baskara. Pengecualian untuk “Apa Ada Asmara?” yang ditulis oleh Natasha Udu. Kita tahu Baskara memang memiliki kekuatan menulis lirik bahasa Indonesia. Namun apa perlu Baskara mengambil sorotan lampu utama lagi dengan tampil di depan, bertindak sebagai penulis lirik sekaligus juga penyanyi di dalam proyek milik band pengiringnya ini?

Lomba Sihir terdiri dari vokalis Natasha Udu, drummer Enrico Steviano, gitaris Rayhan Noor, kibordis Tristan Juliano, dan bassis Wisnu Ikhsantama yang berusia di bawah 30 tahun dengan musikalitas dan pengalaman bermusik/menjadi produser yang tidak main-main. Tidak mengherankan bila 12 lagu yang digarap kilat kurang dari tiga bulan ini dieksekusi dengan hasil akhir yang memuaskan. Rekaman super kilat, berhasil memotret kota Jakarta dengan cukup baik. Dan ini memungkinkan terjadi karena Enrico, Rayhan, Tristan dan Wisnu masing-masing mengambil perannya sebagai produser lagu. Sebuah pemaksimalan yang tidak mengecewakan sehingga menghasilkan album perdana yang nyaris sempurna. Tapi sayangnya tampak kurang percaya diri.

Saya sendiri jatuh hati terlalu banyak pada lagu “Apa Ada Asmara”, “Hati dan Paru Paru”, “Cameo”, “Jalan Tikus” “Semua Orang Pernah Sakit Hati”, “Mungkin Takut Perubahan” dan “Seragam Ketat”

Cukup aneh bila sebagai band pengiring para musisinya yang banyak proyek dan pengalaman memilih untuk tetap menari di bawah bayangannya Hindia. Terlebih dengan membiarkan departemen lirik sepenuhnya ditulis dan dinyanyikan oleh Baskara. Padahal Natasha Udu berhasil menulis lirik dengan menarik dan juga semua personil bernyanyi di album ini. Plus bagaimana Tristan sesungguhnya memiliki karakter suara dan frekwensi suara yang tidak berbeda jauh dengan Baskara (lagu “Cameo”). Juga untuk Rayhan mini album solonya, Colors membuktikan kalau ia tidak hanya sekedar gitaris namun juga bisa bernyanyi dengan baik

Penulis
Anto Arief
Suka membaca tentang musik, subkultur anak muda dan gemar menonton film. Pernah bermain gitar untuk Tulus nyaris sewindu, lalu bernyanyi dan bermain gitar untuk 70sOC.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

16 Pertanyaan: Enzy Storia

Kemunculan Enzy Storia membawa single perdana “Bila Aku Jatuh Cinta” menjadi awal dari keseriusan perjalanan bermusiknya. Ia mengaku, bukan tak ingin langsung menghadirkan lagu yang berbeda. Melainkan saat itu ada proyek musik untuk cover …

Asteriska Membawa Single “Ibu Pertiwi” untuk Bumi

Apa yang bisa dilakukan untuk membuktikan kecintaan terhadap bumi telah diungkapkan oleh Asteriska baru-baru ini lewat single terbarunya berjudul “Ibu Pertiwi”. Single ini kabarnya pembuka bagi mini album berisi empat lagu yang ia beri …