Rekomendasi: Petra Sihombing – Semenjak Internet

206
Petra Sihombing Semenjak Internet

Artist: Petra Sihombing
Album: Semenjak Internet
Label: Dua Puluh Tiga

Semenjak Internet adalah album kelima milik penyanyi/penulis lagu/gitaris/multi-instrumentalis Petra Sihombing. Setelah album pop manis, dan album peralihan dan pencarian jati diri di 1/4, Petra kemudian memilih bersembunyi menjadi produser. Di balik karya-karya besar Tulus, Hindia, Sivia Azizah, Kunto Aji hingga Nadin Amizah. Meskipun istilah bersembunyi tidak terlalu tepat karena sejak tahun lalu Petra merilis singel perbulan setiap tanggal 23, dan juga banyak melakukan berbagai kolaborasi.

Sesuai judulnya, Semenjak Internet berbicara tentang dunia maya beserta berbagai pengaruhnya. Dirangkum melalui 12 lagu dengan musik pop urban yang semuanya melibatkan kolaborator penulis lirik. Dari Sal Priadi, Teddy Adhitya, Pamungkas, Sheryl Sheinafia, Hindia, Danilla Riyadi, Ben Sihombing, Tulus, Kunto Aji dan David Bayu (Naif). Pengecualian untuk “Cerita Milik Kita Semua” dan “Biji” yang ia tulis sendiri.

Lalu apa yang kita dapat dari 10 nama besar yang secara spesifik turut membidani lirik-lirik di album ini? Sekilas Petra seperti menghasilkan lagu-lagu berlirik kuat, namun dengan sentilan mengganggu sampai membuat ingin berhenti mendengarkan lagunya. Tapi karena musiknya menarik jadi saya mencoba memberikan kesempatan beberapa kali untuk liriknya, dan benar saja. Di lagu “Canggih”, Petra menulis:

Hidup memang harus canggih/ Tapi pastikan kau yang pegang kendali / Perhatikan nafasmu / Degup irama mewah tersyahdu.

Ini jelas lirik tentang internet/ponsel pintar/mindfullnes favorit saya di 2020.

Tapi saya mulai diganggu di lagu “Apa?” di bagian reff-nya

Apa yang kau cari? / Lulus, kerja, menikah, beranak.

Sulit menerima bait ‘beranak’ dalam musik “Apa?” yang soothing ini. Karena budaya pop kita mencatat kata ‘beranak’ konotasinya cukup negatif, seperti pada film horor Beranak Dalam Kubur. Meskipun begitu kemudian Petra menulis “Cerita Milik Kita Semua” yang liriknya akurat,

Ini kemajuan atau merugikan / Dari pikiran jadi unggahan instan // Kita lupakan etika /
Selamatkan kami, etika // Ceritamu milik semua / Nostalgia makin tak berharga / Cerita kita milik semua / Lewat layar, ruang, rindu, sirna.

Lagu “Selimut”, Adu/h”, “Bodoh” dan “Kawan” juga menarik. Namun di lagu yang sekaligus menjadi singel pertama, “Biji” judulnya terasa sangat mengganggu. Ada ambiguitas tak kira-kira dalam liriknya. Awalnya bait yang sinis terdengar menarik;

Dari caramu merangkai kata / Dan buang waktu di dunia maya / Sudah sangat jelas
Kau beda kelas / Aku takkan bisa mengertimu / Jika kau berteriak begitu / 
Tambah segelas / minuman keras.

Dalam bait berima terakhir itu ingin rasanya menambahkan: “untuk musiknya angkat gelas, untuk liriknya belum ada kelas”. Ajaibnya lagu ini diberi judul “Biji”. Meskipun untungnya balutan aransemen musiknya sangat menarik.

Keganjian ini terasa lagi di penjudulan lagu, Martabat Manis. Dipelesetkan dari makanan martabak tentunya. Padahal musiknya dan liriknya terdengar matang seperti tak ada ruang untuk canda. Mengapa begitu? Hanya Petra yang tahu mengapa ia melakukan itu.

Kabar baiknya musik di album ini juara sealbum-album. Aransemen, instrumentasi, progresi kord hingga dinamika albumnya. Dari “Canggih” yang funky 70an dengan outro instrumental dua menit yang tidak terasa hambur. Lalu lagu “Apa?” bertempo santai jazzy 80an, menjadi funky dengan solo gitar tipis manis. Juga “Cerita Kita Milik Semua” didominasi petikan gitar elektrik groovy dengan musik trap manis. Nuansa funky ini berlanjut pada “Biji” dan, “Martabat Manis” yang menarik.

Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] merilis mini album terbarunya, No Make Up. Hadirnya mini album tersebut juga turut dibantu oleh Petra Sihombing dan Heston Prasetyo selaku produser, dan juga menjadi penanda dari bergabungnya Coldiac bersama […]