Amboro – Sumber Rejeki

Feb 19, 2020
Amboro

Artis: Amboro
Judul: Sumber Rejeki
Label: Padepokan Sarang Laba / DeMajors

Musik akustik memang bisa membuat teduh semua orang. Ada lagu “Untuk Perempuan yang Sedang di Pelukan”-nya Payung Teduh yang menenangkan, tetapi ada juga yang bisa menggelitik seperti lagu-lagu Jason Ranti dengan lirik yang terkesan sarkas dan lugas, namun masih tetap terdengar jenaka.

Coba dengarkan “Stephanie Anak Senie” atau “Sekilas Info”. Meskipun terdengar jenaka, namun lagu-lagu Jeje menyiratkan sebuah pesan yang tak main-main. Tapi bagaimana kalau ada lagu akustik dengan lirik yang terdengar jenaka namun masih bisa dipahami orang awam sekalipun?

Mungkin Amboro adalah jawabannya. Bagi yang belum mengenalnya, Amboro adalah solois asli Jakarta yang telah mencoba peruntungannya menjajal industri musik dengan menjadi penyanyi konser.

Festival bergengsi seperti Soundrenaline dan We The Fest 2019 telah dilaluinya. Bahkan, di Soundrenaline 2019 Amboro berkolaborasi dengan sejumlah musisi papan atas seperti Jason Ranti, Rekti Yuwono, Widi Puradiredja, dan Gerald Situmorang.

Amboro berhasil menutup tahun 2019 dengan merilis debut album berjudul Sumber Rezeki dibawah label Padepokan Sarang Laba yang pesta perilisannya digelar di EAR House Pamulang, 23 Desember 2019 lalu.

Sumber Rezeki menampilkan acoustic folk dengan mood yang naik-turun di sepanjang album berjumlah 9 track ini. Dibuka dengan “Amsani” yang menceritakan cowok bernama Amsani yang patah hati setelah diputusin pacarnya. Simak lirik jenaka dari lagu ini pada bagian reff-nya yang sangat sing-along:

“Mendingan main di lapangan / daripada main cinta-cintaan / bilang ikhlas-nye waktu jadian / sesek napas waktu bubaran”

Usut punya usut, Amsani tertipu sifat ceweknya yang liar. Ah, lupakan soal ini. Mari kita berlanjut ke lagu lainnya. Track kedua album ini berjudul “Nonton Konser” yang bercerita tentang pengalaman nonton konser yang ribet (hey! Nampaknya ini banyak dialami oleh kita-kita yang ngaku sebagai anak gigs).

Salah satu part terbaik sekaligus terlucu dalam lagu ini adalah bunyi-bunyian hentakan drum yang biasa dipakai penonton untuk moshing yang keluar dari mulut Amboro.

“Ya gimana, mau ngeband tapi ribet. Lo dengar aja lagu  “Nonton Konser”. Itu kan ada dus tas dus tas, karena enggak ada pemain drum aja,” kata Amboro.

Agaknya, lagu “Nonton Konser” boleh jadi terinspirasi dari all-time hits milik Benyamin Sueb berjudul “Nonton Bioskop” yang juga menceritakan pengalaman ngenes ketika nonton bioskop di malam Minggu.

Amboro menyisipkan pengaruh retro pop di lagu “Pesona Biduan”. Di lagu yang bercerita tentang kecantikan seorang wanita ketika menyanyi dan menari ini, Amboro memainkan sepatah dua patah ritem dengan groove menyerupai lagu dari Michael Jackson berjudul “Beat It”.

Bahkan, chord progression-nya pun terdengar mirip! Hanya saja, jika Michael Jackson dalam “Beat It” jelas memainkan rhythm menggunakan drum machine, Amboro memainkan ritem hanya dengan menggunakan gitar akustik. Lagi dan lagi, Amboro menggunakan suara dari mulutnya untuk mempertebal ritem yang dimainkannya.

Meskipun lebih menonjol dengan lagu-lagu yang “menghentak” sekaligus nyeleneh seperti tiga lagu yang saya ceritakan sebelumnya, Amboro masih mampu menunjukkan sisi romantisnya di lagu seperti “Ketika Hujan Turun Sore Itu” yang sedikit nge-jazz.

Bagaimana hujan dapat membuat seseorang berhasil mengingat-ingat momen yang magis. Momen ketika sepasang laki-laki dan perempuan bertemu lalu menjalin cinta ketika hujan turun.

Berlanjut ke lagu “Pacaran di Saat Hujan” yang bernuansa ballad. Dari judulnya saja, kita sudah bisa mengetahui bahwa lagu ini tak ubahnya bercerita tentang suasana hangat nan intim ketika sedang bersama pacar di dalam rumah ketika di luar sedang turun hujan. Ah, nampaknya lagu terakhir cocok diputar dengan keadaan seperti sekarang yang lagi musim hujan dan sambil rebahan di kamar.

Fakta unik, kedua lagu ini terurut berdampingan dalam album. “Ketika Hujan Turun Sore Itu” menduduki track nomor 5, tepat sehabisnya adalah “Pacaran di Saat Hujan”. Jadi, ketika kalian dengar full-album nya, kedua lagu yang saling berdampingan ini saling memiliki benang merah satu sama lain.

Bisa dibilang, album Sumber Rejeki seolah menjadi representasi bagaimana budaya Betawi cukup memengaruhi penyanyi bernama lengkap Dimas Amboro dalam menggarap lagu-lagunya.

Budaya betawi ini tercermin dalam tiga track awal; “Amsani, “Nonton Konser”, dan “Pesona Biduan Dangdut”. Lewat “Sumber Rejeki” pula, Amboro berhasil mengembalikan ungkapan yang menyebut bahwa musik adalah media pemersatu bangsa.

Memang begitulah musik seharusnya. Menurut saya, Amboro mampu menjembatani antara penggemar musik pop, rock, jazz, reggae, dan lain-lain karena secara musik lugas, jauh dari kata mewah, dan sangat mudah dicerna.

Ditambah dengan lirik-liriknya yang terkesan jenaka namun masih sangat relate dengan kehidupan kita sehari-hari. Berbeda dengan Jason Ranti yang meskipun musiknya lugas, namun liriknya memiliki makna yang sangat dalam dan serius meskipun masih akan terkesan lucu kalau didengar sekilas.

Nampaknya, saya telah mencium bau-bau bibit unggul di industri musik Indonesia selanjutnya. Berbekal sembilan buah track keren di album “Sumber Rejeki”, saya pun jadi punya prediksi kalau Amboro akan mendapat tempat high rotation di beberapa gigs besar di Indonesia pada waktu-waktu mendatang.

_____

Penulis
Abie Ramadhan
Lulusan Ilmu Komunikasi, Pecandu black music, senang travelling dan main piano.

Eksplor konten lain Pophariini

20 Tahun Album Padi, “Sesuatu Yang Tertunda”

Di umurnya yang sudah dua dekade, Sesuatu Yang Tertunda milik Padi masih tetap menjadi sesuatu yang indah.

Saling Menguatkan bersama Nino Kayam

Mengenai “Nikmati Rindunya”, Nino mendedikasikan single terbarunya ini untuk sang ayah yang berpulang di bulan Oktober 2020 lalu.