115

Resensi: Jangar – Jelang Malam

Artist: Jangar
Album: Jelang Malam
Tahun: 2019
Label: Berita Angkasa

Fakta: Ada dua ratusan lebih orang memutar “Haerath I” ketika lagu tersebut pertama kali diunggah di situs kami sebelum dirilis resmi di layanan streaming digital. Kami kaget akan besarnya atensi dari pendengar terhadap Jangar.

Selanjutnya sudah bisa ditebak: Pada malam pesta peluncuran album debut Jelang Malam yang dihelat di Joglo Beer, ada ratusan lebih orang meringsek ke bibir panggung begitu vokalis Gusten berteriak kepada kerumunan. Sebuah pemandangan ‘perjamuan kudus rock’ yang indah.

Ya, seperti kebanyakan aksi stoner / hard rock lainnya yang tumbuh di skena musik keras di tanah air hari ini, grup heavy rock asal Pulau Dewata memang patut diperhitungkan menjadi satu dari yang akan besar. Paling tidak, di Bali mereka sudah ‘megang’.

Baca juga:  Resensi: Amboro – Sumber Rejeki

Kekuatan Jangar adalah keseriusan para personilnya dalam menggarap dan mengaransir musiknya sedemikian rupa. “Sepuluh lagu heavy rock yang dibalut dengan stoner, hard rock, dan disiram oleh arak khas Bali menjadikan citarasa musik Jangar yang spesial,” saya setuju jika ada pendapat ini terlontar. Ibarat makanan, daging panggang memang banyak, namun yang disiram arak Bali rasanya pasti spesial.

Jika saya menjadi kritikus kawakan ber-genre ‘Bens Leo’ yang punya ‘jam terbang’ mengulas banyak rekaman musik Indonesia, maka saya tak ragu menempelkan cap jempol di dahi-dahi para personil Jangar, tanda saya setuju dengan manifesto band ini di Jelang Malam.

Saya sarankan untuk pendengar pemula yang ingin menikmati Jelang Malam, baiknya mulai dari mendengar “Haerath Pt 1 dan 2”. Menurut saya Haerath adalah inti album ini. Dua lagu ini punya semua yang jadi ciri khas Jangar: Komposisi rock diracik super intens dan khidmat namun punya lonjakan emosi besar untuk memancing adrenalin pendengar untuk headbanging.

Bagaimana suara angker Doddy Hamson, corong mikrofon Komunal yang berat mengisi ruang diantara vokal Gusten yang serak-serak nyaring, bagaimana di akhir lagu 7 menit itu, ada sekian menit yang dihabiskan dengan permainan serampangan-namun-intens dari perkusi yang ‘kerasukan’ sampai akhirnya disambung dengan “Haerath Pt.2”, sebuah pengalaman mendengar lagu rock yang tak bisa dilupakan.

Baca juga:  Resensi: Detik Waktu - The Artistic Journey of Candra Darusman (Vinyl)

Di luar musik, topik-topik yang dibicarakan Jangar di Jelang Malam juga patut mendapat ponten tambahan. Dari mulai gagasan akan pengalaman spiritual (di “Haerath”), kritik pemerintah (di “Negri Nego”), keresahan terhadap sejarah (dan “Proklamator”), ketidakadilan dan lingkungan hidup (di “MSG” dan “Kami Tahu”) dan masih banyak lagi. Isu-isu ini akan sangat sedap sekali jika diteriakkan kencang dengan loudspeaker yang disetel keras-keras, sekadar mengisi waktu sehabis makan siang di gedung DPR.

Dengan hadirnya Jelang Malam, tambah lagi pilar-pilar ‘musik rock dengan kritik’ yang dipunyai pulau Dewata. Sebelumnya: Superman Is Dead dan Navicula, tahun ini: Jangar!

_____