Romantic Echoes Dan Tembang Lokal Berdurasi Panjang

1982

Hal ini selaras dengan analisis yang saya bangun. Nama-nama yang doyan atau minimal pernah merilis lagu-lagu berdurasi panjang memang pribadi yang umumnya kompleks dan kritis. Ini bisa saja jadi cara untuk menuangkan hal-hal menjelimet yang memenuhi pikiran mereka. Daftarnya terbentuk dan terus berjalan. Freddie Mercury yang kompak bersama Queen untuk meramu “Bohemian Rhapsody”. Ada Guruh Soekarnoputra yang abadi bersama Gipsy dalam Guruh Gipsy. Efek Rumah Kaca dalam Sinestesia. Hingga yang terbaru dan menjadi perangsang terciptanya artikel ini – Romantic Echoes dan “Menutup Mata Untuk Melihat Dunia”.

Radio friendly juga jadi hal yang lincah bermain di kepala Balian Panjaitan saat “Menutup Mata Untuk Melihat Dunia” pertama kali dicanangkan. Sosok yang juga ada di balik perjuangan Oslo Ibrahim ini tidak dapat memungkiri bahwa radio adalah medium yang punya peran besar, apalagi ketika membahas tentang dampaknya pada pemasaran karya. Beberapa waktu, kolaborasi dengan radio juga masih terus ia terapkan. Kendati demikian, risiko soal anggapan lagu yang tidak radio friendly telah mampir dan tidak terlalu ia ambil pusing.

Macam “Indonesia Maharddhika” dari Guruh Soekarnoputra dan Gipsy yang punya durasi 15 menit 44 detik, “Asmat Dream” dari Harry Roesli, hingga “Menutup Mata Untuk Melihat Dunia” hasil ramuan J. Alfredo

Batas durasi ideal untuk pemutaran lagu pop di radio komersil (mainstream radio) adalah sekitar tiga menit, dengan toleransi kira-kira sampai dengan 30 detik lebih panjang. Setidaknya jawaban ini yang saya dapatkan saat membuka sebuah platform diskusi dalam jaringan dan mengajukan pertanyaan terkait durasi ideal sebuah lagu. Akibatnya, kita terkadang melihat keterangan (Radio Edit) setelah judul lagu, untuk menunjukkan bahwa durasi lagu tersebut sudah diperpendek supaya sesuai standar, dan juga disensor apabila liriknya dianggap terlalu vulgar.

Apabila kita lempar lebih jauh lagi ke belakang, keputusan perihal panjang ideal dari sebuah lagu dalam industri musik sangat berhubungan dengan kapasitas media penyimpanan. Sebelum perusahaan label rekaman Columbia menciptakan piringan hitam jenis LP (Long Playing) circa 1948, pada umumnya sebuah piringan rekaman hanya mampu menampung lagu berdurasi sekitar tiga menit saja.

Baca juga:  Sebuah Normal Baru yang Abu-Abu

Lagu berdurasi panjang adalah salah satu dari sekian banyak hal yang membuat industri musik menjadi menyenangkan. Tingkah-tingkah jahil atau bisa jadi idealis macam ini selalu menarik untuk dinantikan. Sedikit banyaknya, dan tanpa kita sadari, hal-hal ini terus dan akan selalu kita butuhkan. Macam “Indonesia Maharddhika” dari Guruh Soekarnoputra dan Gipsy yang punya durasi 15 menit 44 detik, “Asmat Dream” dari Harry Rusli, hingga “Menutup Mata Untuk Melihat Dunia” hasil ramuan J. Alfredo, semuanya adalah asset berharga dan legendaris untuk musik lokal, yang menjadikannya kaya dan beragam.

Lantas, bagaimana menurut kalian? Apakah sebenarnya durasi ideal untuk sebuah lagu, nyata adanya? Apa justru baru tau kalau sebenarnya di sekitar kita ada banyak sekali rilisan dengan durasi yang cukup membuat mata membelalak. Bisa tiga sampai empat kali lipat dari durasi lagu yang biasa kita temukan. Ah iya, sebutkan juga lagu-lagu lokal berdurasi panjang yang kalian anggap berkesan, ya!

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments