181

Saat Musisi Hebat Menulis Lagu yang ‘Kurs’

legenda - legenda musik tak selamanya membuat karya-karya yang keren dan masterpiece. Foto: dok. Istimewa.

Harus saya akui jujur bahwa ide artikel ini saya ambil plek-ketiplek dari sebuah podcast.

Satu tahun terakhir ini saya menjadi penikmat podcast yang selalu saya dengar lewat layanan Spotify. Dan Rolling Stone Music Now (dengan warna sampul kuning yang menampar) menjadi Podcast yang saya gemari.

Di sebuah unggahan di 26 Juli 2016 (yang belum lama saya dengarkan), tajuknya keren sekaligus menampar: When Great Artist Make Terrible Songs. Selama setengah jam lebih, podcast ini menampilkan banyak musisi legenda rock ‘n roll dari mulai Chuck Berry, Brian Wilson, Lou Reed bahkan Bob Dylan yang di satu masa pernah menulis lagu-lagu yang culun.

Delapanpuluhan menjadi sentra era yang dibicarakan di topik podcast tersebut. Secara mengejutkan, Banyak legenda rock yang menjadi dangkal dan culun di era ini. Paul Simon dengan “Cars are Cars” yang terdengar seperti lagu anak-anak sampai beberapa nomor hip hop yang tak pantas ketika dinyanyikan oleh musisi seperti Lou Reed (“The Original Wrapper”), Dee Dee Ramones (“Funky Man”) sampai Brian Wilson dengan “Smart Girls” yang menyedihkan.

Baca juga:  Di Bawah Radar : 5 Gitaris Berbakat Non Heroik

Bukti-bukti menyimpulkan bahwa bahkan artis-artis hebat dan legendaris sekalipun bisa ternoda akibat karya-karya jelek yang mereka buat. Ini lantas menjadi penting meningat dunia punya banyak musisi yang sudah diglorifikasi oleh karena rentang waktu jenjang karier mereka serta akibat karya-karya yang mereka buat yang memang terpatri dalam peta perjalanan musik.

Lalu bagaimana di tanah air?

Tak bedanya, tanah air memiliki banyak musisi legenda yang dikenal dengan karya-karyanya yang terpatri dalam the so-called tinta emas perjalanan musik Indonesia.

Iwan Fals misalnya, musisi yang sudah berkarier dari akhir 70-an ini menjadi legenda akibat lagu-lagu yang bertema kritik sosial seperti “Wakil Rakyat”, “Oemar Bakrie” sampai “Bento” yang ditulisnya bersama musisi lain yang ada di super grup Swami I. Di luar itu, ada juga lagu-lagu macam “Ku Menanti Seorang Kekasih” dan “Buku Ini Aku Pinjam” yang sangat romantis namun dengan gaya yang sophisticated.

Di era 70-an, kita mengenal AKA, dinamit hard rock dan funk yang melejit lewat nomor-nomor macam “Crazy Joe”, “Do What You Like” yang memicu aksi spektakuler sang vokalis Ucok ketika di atas panggung yang sampai sekarang belum ada tandingannya.

Baca juga:  Bidadari-Bidadari Merdu Bergitar

Di era 90-an, Slank adalah potret musisi yang mendambakan kebebasan dan tak lupa menyertakan kritik-kritik sosial di dalamnya, lagu-lagu seperti “Birokrasi Complex”, “Generasi Biru” dan lainnya. Lagu-lagu lain, “Kamu Harus Cepat Pulang” dan “Anyer 10 Maret” sangat khas di eranya.

Meski demikian, tak terkira sebelumnya bahwa legenda – legenda ini ternyata tak selamanya membuat karya-karya yang keren dan masterpiece. Dalam sekian dekade rentang perjalanan mereka, ada noda-noda kecil yang menurut kami lumayan mencoreng kemurnian mereka dalam menulis karya yang baik. Penyebabnya beragam, dari yang memang ingin mencoba hal baru, atau memang faktor kebuntuan dalam menulis semata.

Perlu dicatat bahwa kalian berhak untuk tidak setuju, agree to disagree. Karena apa yang menurut kami benar, belum tentu menurut kalian benar. Tetapi jika kalian mencoba melihat garis besar dari setiap karya rekaman band-band, mungkin saja kalian setuju.

Baca juga:  5 Musisi Kakak Beradik di Skena Musik Indonesia

Berikut daftarnya.

Netral – I Love You

Om Bagus dikaruniai kedigdayaan menulis lagu-lagu yang keren untuk Netral. Lagu-lagu seperti “Pelor”, “Dukun Kebo Ijo” lagu-lagu absurd yang butuh ekstra keras dalam memahaminya adalah kenikmatan tersendiri. Ini mengapa tak bisa dibayangkan jika NTRL menulis lagu semacam “I Love You” yang terdengar lurus, dangkal dan klise. Sangat disayangkan, apapun itu alasannya.