Saksikan Awal Dunia Musik Baru bersama Goodnight Electric

• May 8, 2020
Goodnight Electric

Saat Goodnight Electric terakhir mengeluarkan album, dunia masih sangat berbeda. Ketika merilis album kedua Electroduce Yourself di tahun 2007, Susilo Bambang Yudhoyono tengah menjalankan masa jabatannya yang pertama sebagai Presiden Republik Indonesia, MySpace sedang menjadi media sosial yang paling populer terutama di kalangan musisi, dan YouTube masih berada di awal masa pertumbuhan.

Di tengah semua itu, Goodnight Electric, proyek musik elektronik yang didirikan Henry Irawan pada tahun 2004 itu, masih menikmati kejayaan sebagai salah satu pengisi acara pentas seni yang paling diminati berkat larisnya album perdana Love and Turbo Action yang dirilis di tahun 2005.

Namun seperti halnya banyak band independen Indonesia yang seangkatan seperti The Adams, Sore dan The Brandals, Goodnight Electric pun mengalami masa stagnan yang disusul dengan jeda panjang sekitar tahun 2012-2015, di mana para personelnya – Henry Irawan alias Henry Foundation sang vokalis dan pencipta lagu yang lebih sering dipanggil Batman oleh teman-temannya, serta duo pemain synthesizer dan vokalis latar Narpati “Oomleo” Awangga dan Mateus “Bondi Goodboy” Bondan – sibuk dengan kehidupan dan pekerjaan masing-masing.

Barulah di tahun 2016 Goodnight Electric mulai bergerak lagi lewat partisipasinya di Radio of Rock Tour yang diselenggarakan Oomleo bersama RURUradio, stasiun radio online di bawah naungan Ruangrupa, kolektif seniman urban di mana Batman dan Bondi pun kerap terlibat.

Respons positif yang didapat dari tur itu menggugah Goodnight Electric untuk menggelar berbagai aktivitas, seperti mengumpulkan materi lagu lama yang langka dan terlupakan ke dalam kompilasi The Electronic Renaissance, yang juga menjadi judul pameran memorabilia yang mereka adakan secara bersamaan pada tahun 2018.

Lalu pada Agustus 2019, Goodnight Electric merilis single “VCR”, materi pertama mereka yang benar-benar baru sejak kembali aktif. Selain menarik perhatian karena sudah lama tidak mengeluarkan lagu baru, ada satu lagi kejutan yang dipersembahkan Goodnight Electric melalui “VCR”: setelah dua album dan satu kompilasi double CD yang semua lagunya berbahasa Inggris, ini adalah lagu pertama Goodnight Electric di mana Henry Foundation menyanyikan lirik bahasa Indonesia.

Dua bulan kemudian “VCR” dilepas dalam format piringan hitam 7” bersama “Erotika”, single berikutnya yang juga berbahasa Indonesia. Kedua lagu ini menampilkan vokal latar oleh Priscilla Jamail dari grup indie popMonday Math Class yang kemudian menyumbang suaranya ke lagu-lagu di album Naif dan Rumahsakit. Priscilla pun mulai meramaikan panggung-panggung Goodnight Electric menjelang akhir 2019.

Di akhir 2019 pula, Goodnight Electric menjalin kerja sama dengan Believe Artist Services & Development, yang membantu mereka dalam menyusun strategi promosi dan pemasaran, di samping mendistribusikan karya-karya mereka secara digital. Itu menjelaskan kenapa Goodnight Electric menjadi jauh lebih aktif di media sosial belakangan ini, karena ini adalah bagian dari adaptasi mereka terhadap lanskap dunia musik yang benar-benar berbeda dibanding terakhir kalinya mereka seaktif ini.

Dari kerja sama dengan Believe ASD ini, lahirlah Misteria, album baru Goodnight Electric yang berisi enam rekaman baru plus “Erotika” dan “VCR” sebagai lagu bonus. Di Misteria, yang resmi dirilis pada 7 Mei lalu, Goodnight Electric diperkuat oleh dua anggota baru yang juga familier bagi yang menyimak kancah musik Jakarta dalam 15 tahun terakhir. Pada gitar ada Andi “Hans” Sabarudin, yang bisa mengadakan festival sendiri dari band-band yang pernah menjadikannya anggota atau musisi tambahan, termasuk The Upstairs, C’mon Lennon dan Pandai Besi.

Goodnight Electric

hitam putih: Goodnight Electric edisi nge-band

Sementara itu, di bas ada Vincent Rompies, mantan anggota Club Eighties yang dalam setahun terakhir sepertinya sudah gatal untuk bermain musik tak hanya di acara bincang-bincang Tonight Show yang dibawakannya. Dengan kehadiran Hans dan Vincent, maka bergeserlah musik Goodnight Electric dari synth pop yang terdapat di album-album lama menuju teritori indie pop yang lebih mencerminkan pengaruh band-band seperti New Order, Depeche Mode era Violator, dan album Disintegration-nya The Cure. Materi lagu baru di Misteria pun terdengar lebih lembut dan sendu, ketimbang dua album sebelumnya yang serba ceria.

1
2
3
4
5
6
7
8
Penulis
Hasief Ardiasyah
Hasief Ardiasyah mungkin lebih dikenal sebagai salah satu Associate Editor di Rolling Stone Indonesia, di mana beliau bekerja sejak majalah itu berdiri pada awal 2005 hingga penutupannya di 31 Desember 2017. Sebenarnya beliau sudah pensiun dari dunia media musik, namun kalau masih ada yang menganggap tulisannya layak dibaca dan dibayar (terutama dibayar), kenapa tidak?
1 Comment
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] Setelah dikenal sebagai personel Monday Math Class, Priscilla Jamail tahun ini mengagetkan jagat ‘perskenaan’ dengan muncul kembali bersama Goodnight Electric. […]

Eksplor konten lain Pophariini

PHI Tips: Memilih ‘Abang-abangan’ Skena Panutan

Sosok abang-abangan skena penting untuk kehidupan bermusikmu. PHI Tips kali ini membantu kalian memilih kriteria abang-abangan skena yang bisa jadi panutan. 

.Feast dan Narasi Multisemesta Terbarunya

Nampaknya dalam waktu dekat ini .Feast akan segera merampungkan perjalanan dari album kedua mereka, Membangun dan Menghancurkan. Hal tersebut diperjelas di hari Senin (21/06) lalu, ketika .Feast resmi mempersembahkan deretan akun Instagram yang masing-masing …