Saksikan Awal Dunia Musik Baru bersama Goodnight Electric

4229
Goodnight Electric
hitam putih: Goodnight Electric edisi nge-band

Sementara itu, di bas ada Vincent Rompies, mantan anggota Club Eighties yang dalam setahun terakhir sepertinya sudah gatal untuk bermain musik tak hanya di acara bincang-bincang Tonight Show yang dibawakannya. Dengan kehadiran Hans dan Vincent, maka bergeserlah musik Goodnight Electric dari synth pop yang terdapat di album-album lama menuju teritori indie pop yang lebih mencerminkan pengaruh band-band seperti New Order, Depeche Mode era Violator, dan album Disintegration-nya The Cure. Materi lagu baru di Misteria pun terdengar lebih lembut dan sendu, ketimbang dua album sebelumnya yang serba ceria.

Formasi baru Goodnight Electric ini tampil perdana pada acara peluncuran single “-Dopamin” (dibaca “Minus Dopamin”) pada awal Maret lalu. Namun dengan adanya pandemi COVID-19 yang melanda dunia, maka berbagai rencana Goodnight Electric pun terhambat, termasuk rekaman untuk album berikutnya.

Alhasil, Goodnight Electric menjadi rajin membuat konten untuk media sosial, seperti pembuatan versi akusik lagu lama “Rocket Ship Goes By” oleh Hans, Vincent dan Priscilla. Mereka menjuluki diri sebagai The Other Three, yang terinspirasi oleh Stephen Morris dan Gillian Gilbert, pasangan anggota New Order yang juga membuat proyek bernama The Other Two. Pesta rilis Misteria pun dilakukan dalam bentuk bincang-bincang melalui live stream YouTube, karena sedang tidak memungkinkan mengadakan pertunjukan khusus seperti yang sebelumnya.

Karena kondisi juga tidak kondusif untuk bertemu langsung, maka wawancara ini diselenggarakan pada awal Mei melalui video call, di mana saya berbicara dari ruang kerja rumah di Cinere, Depok, dan Batman dari studio pribadi kediamannya di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta yang dihuni bersama istrinya, Nasta Sutardjo, serta putri dan putra mereka, Kiwi dan Ico.

Sambil mengisap vape dan ditemani kucing piaraan yang mondar-mandir di latar belakang, Batman bercerita tentang proses kembalinya Goodnight Electric ke dunia di mana Joko Widodo memasuki masa jabatan keduanya sebagai Presiden Republik Indonesia, MySpace sudah punah dan YouTube telah menjadi platform konten utama.

Goodnight Electric lama menghilang karena jenuh dan sibuk. Apa pemicu semangatnya kembali?

Pemicu awalnya pas habis dari Radio of Rock Tour yang kedua, 2016. Melihat ternyata demand-nya masih banyak. Ya sudah, kami bikin sesuatu yang baru. Cuma, karena materi lagu baru belum terlalu banyak, dan energinya belum terkumpul semuanya untuk bikin dari bawah, akhirnya kami rilis dulu The Electronic Renaissance. Kami rilis materi yang abandoned tracks, b-sides, terus bikin pameran. Itu pertamanya comeback. Sembari rilis Electronic Renaissance, kami bikin “VCR” dan “Erotika”.

Apa yang menjadikan “VCR” sebagai pilihan pertama untuk kembali di era baru ini?

[Tertawa] Enggak ada, sih. Memang itu doang lagunya, waktu itu. Sudah bikin demo banyak, cuma yang sudah kebentuk strukturnya si “VCR” sama “Erotika”. Cuma, waktu itu pakai produser dari luar karena selama ini belum pernah kerja sama produser lain, selalu kerja sendiri. Sebenarnya banyak mencari kandidat, cuma yang keluar akhirnya Randy (Danistha, pemain keyboard Nidji yang juga banyak menggarap scoring film bersama tim Stevesmith Production). Tujuannya pakai produser, biar kami dapat suasana baru, buat men-trigger kami untuk bisa on fire. Ternyata berhasil; setelah bikin “”VCR” dan “Erotika”, terutama gue, jadi on fire banget. Jadi banyak bikin lagu. Cuma, karena keterbatasan bujet, kami enggak bisa hire produser lagi untuk semua lagu yang kami bikin. Akhirnya back to produce sendiri sejak “-Dopamin”.