Saksikan Awal Dunia Musik Baru bersama Goodnight Electric

4620
Goodnight Electric
Goodnight Electric extended: Om Leo, Vincent, Batman, Hans, Bondi Goodboy / foto: Agung Hartamurti

Apakah sejak awal sudah ada rencana membuat EP atau sambil jalan?

Memang, kami berencana ingin punya album. Pas kebetulan “VCR” dan “Erotika” selesai produksi, kami berpikir bagaimana caranya distribusi digital. Karena selama ini, pas kami comeback, dunia sudah beda, eranya sudah beda, distribusi beda. Akhirnya pas cari tahu, ketemulah Believe. Believe itu ternyata punya divisi baru yang namanya ASD. Pas kami mengajukan, pas banget mereka mencari artis elektronik, dan kami mencari aggregator. Akhirnya ketemu di tengah dan kerja sama eksklusif. Tapi memang ada kontraknya; kami harus bikin 12 lagu, satu album atau dua EP. Makanya ada target dan bikin lagu banyak.

Selama ini Goodnight Electric enggak pernah pakai target?

Enggak ada! [Tertawa] Tapi kalau enggak begitu, enggak jadi.

Apalagi sekarang sudah berumah tangga dan sibuk.

Ya, karena ada kontrak jadi harus ngegas. Tapi enggak jadi hambatan, enggak jadi pressure. Karena kontraknya fleksibel, dan orang Believe-nya asyik. Kebetulan sudah on fire, sudah mulai banyak lagu baru, jadi enak. Malah pingin banget kerjakan yang tujuh lagu lagi (untuk album berikutnya).

Memang dari awal targetnya mau mengeluarkan album bulan Mei ini?

Waktu rilis “-Dopamin” memang sempat mention mau rilis April dalam bentuk EP. Pokoknya sempat bilang mini-album. Masuk ke COVID, pertimbangan lagi, kan. “Apa mau rilis setelah Lebaran saja?” kata mereka. Gue pikir kalau habis Lebaran masih COVID juga enggak berpengaruh. Enggak bisa bikin release party, enggak bisa bikin showcase. Sama saja bohong. Mendingan rilis saja. Memang jadi mundur, dari April jadinya Mei, cari tanggal yang baik.

Maksud gue, dibanding dari “-Dopamin” enggak ada aktivitas di media sosial…karena sekarang saatnya kami di rumah semua, memaksimalkan media sosial untuk buat konten. Kami kasih segala macam konten di media sosial dibanding menunggu Lebaran terus ternyata kondisinya sama saja.

Bisa dibilang sekarang orang jadi rajin bikin konten karena terpaksa dan enggak ada kerjaan lain. Sepengamatan saya, dari sekitar setahun terakhir ada-ada saja musisi seusia Goodnight Electric atau sekitarnya yang mengeluh kenapa harus banyak bikin konten dan tak cukup bermusik saja. Bagi Anda pribadi, apakah itu hal yang biasa saja? Atau justru tertarik membuat berbagai hal?

Ya, itu menarik. Pas kami comeback, kami enggak tahu apa-apa soal era sekarang. Akhirnya Believe yang sebagai konsultannya. Mereka yang menyuruh kami untuk jadi media sosial banget. Bikin musik, showcase, main live, itu memang tanggung jawab sebagai musisi. Tapi kegiatan secara media sosial juga harus update. Orang ingin lihat proses lo berkarya dan apa yang lo lakukan di rumah. Ini untuk boost engagement kami sama mereka, terus akhirnya end up mereka akan klik lagu-lagu kami di semua platform musik digital. Kami aktif, mereka langsung lari ke Spotify dan segala macam.

Goodnight Electric bawakan single baru “VCR”

Makanya setahun terakhir Goodnight parah dan kayaknya aktif banget. Sebenarnya gue agak syok, karena gue enggak yang banci tampil banget. Jarang selfie, enggak bisa menulis caption yang bagus kayak Jimi (Multhazam, vokalis The Upstairs) atau mengajak audience berinteraksi. Jadi gue belajar seadanya, tapi disarankan kalau ada orang yang tanya, dijawab. Ada orang yang post di IG Stories terus mention, kalau bisa di-post lagi terus respon pakai stickers. Makanya Stories-nya Goodnight sudah kayak titik-titik. Kadang-kadang sampah banget.

1 Comment
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] Setelah dikenal sebagai personel Monday Math Class, Priscilla Jamail tahun ini mengagetkan jagat ‘perskenaan’ dengan muncul kembali bersama Goodnight Electric. […]