Saksikan Awal Dunia Musik Baru bersama Goodnight Electric

4229

“Misteria” tentang apa?

Gue memerhatikan anak-anak gue. Anak-anak gue sudah mulai dewasa, sering banget main. Apalagi anak gue yang cowok, fantasinya gila-gilaan. Ya, standar, lah, anak kecil punya dunianya sendiri. Gue kayak wondering, “Kayak apa, sih?” Dari situ awalnya, tapi akhirnya gue kembangkan secara global ke kisah gue ketemu orang baru. Misalnya, gue enggak kenal lo, lo bukan dari scene musik atau kayak orang-orang kebanyakan. Mungkin gue alien yang enggak tahu dunia lo. Kayak itu, sebenarnya: lo lebih baik dari gue atau lebih burukkah? Tapi trigger-nya melihat fantasi anak-anak gue bermain. Sedang apa mereka, sebenarnya? Soalnya kayak misteri banget buat gue, tapi ceria. Masih enggak tahu apa, tapi menarik. Ingin tahu lebih lanjut! [Tertawa]

Lanjut ke “-Dopamin”.

“-Dopamin” itu sebenarnya lagu VULT. Ada kayak lima lagu, gue rekam demonya doang. Sebenarnya gue senang banget, cuma kapan dikerjakan? Ketemu waktunya susah, kendala-kendala seperti itulah. Akhirnya pas buka demo-demo, salah satunya “-Dopamin”. Gue senang banget lagu ini, cuma sayang banget kalau menganggur dan enggak di-publish. Akhirnya gue putuskan untuk gue remake lagu sendiri, sebenarnya! [Tertawa] Remake lagu yang belum di-publish! Overall masih sama, cuma lebih banyak synthesizer. Kalau yang VULT gitar, drum sama bas, dan liriknya bahasa Inggris. Akhirnya gue ubah ke bahasa Indonesia.

Itu liriknya lucu, sebenarnya gue lagi riset mencari-cari inspirasi saja. Inspirasi gue sekarang banyak banget: nonton film, lihat anak-anak gue, baca buku, baca artikel di Internet, dengar lirik lagu lain. Nah, “-Dopamin” itu dari artikel “The Science of Missing Someone”. Kenapa banyak orang bisa rindu sama seseorang, bisa galau, segala macam, gue jadi tahu ternyata gara-gara ada faktor dopamin yang enggak tersuplai buat diri lo. Makanya gue tulisnya “-Dopamin”. Dopamin yang membuat kita happy, kan? Ini kebalikannya, kalau sedang missing someone, jadi depressed. Ya sudah, tulis liriknya based on gue saja, lah. Gue coba rasa zaman-zaman gue rindu sama orang. Yang paling gampang kan rindu sama pacar [tertawa], soalnya gue belum pernah kehilangan orang tua. Akhirnya lebih mencari feeling waktu pacaran.

Referensi musiknya lebih ke shoegaze, ya.

Ya, karena memang VULT awalnya lebih ke indie pop, shoegaze. Gue enggak bisa melepas gitar sama basnya, karena kayaknya hilang esensinya. Makanya, mau enggak mau harus ada gitar dan bas, terus synthesizer-nya gue patahkan. Lebih Goodnight, lah. Karena lagunya agak semi-full band, jadi referensinya kayak New Order karena kadang-kadang suka elektronik banget, kadang-kadang suka alternative banget.

Apa cerita di balik “Saksikan”?
Itu juga demo lama. Nadanya gelap banget, waktu itu liriknya bahasa Inggris dan enggak jauh beda sama yang bahasa Indonesia, dan cuma verse pertama, enggak ada chorus. Dikembangkan lagi. Selama ini Goodnight hits-nya lagunya happy, jadi ingin kasih lagu yang dark. Pas di saat bikin, gue lagi nonton It’s the End of the Fucking World yang Season 2. Oke, gue nonton itu, terus kayaknya bisa menyambung sama lagu yang “Saksikan”. Gue ambil esensi ceritanya. Karena kebetulan mood lagunya gelap dan filmnya gelap juga, gue menggambarkan couple yang ekstrem, enggak favorit. Ya, kayak di film itu. Mereka bukan couple sempurna, dibenci semua, dikucilkan. Jadi gue membayangkan itu, dan Sid & Nancy.